Simalakama bagi PAN dan Zulkifli Nurdin

Sabtu, 21 April 2018 | 08:43:44 WIB

Jafar Ahmad
Jafar Ahmad ()

Beberapa hari terakhir saya banyak menerima telepon. Paling banyak dari wartawan. Mereka bertanya soal isu hangat saat ini: Partai Amanat Nasional Jambi. Kira-kira begini pertanyaan mereka. Mau dibawa kemana PAN? Bagaimana PAN setelah Zumi Zola ? Bagaimana nasib Trah Nurdin? PAN Gamang?

Pertanyaan ini tentu menyusul ditahannya tersangka KPK, Zumi Zola, Senin 9 April 2018. Zola langsung kehilangan dua jabatan sekaligus. Pertama jabatan sebagai Gubernur Jambi. Kedua jabatan sebagai Ketua DPW PAN Provinsi Jambi.

Baiklah. Saya coba urai satu persatu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Hampir 20 tahun (1998-2018) PAN Jambi tergantung dari kelompok Zulkilfi Nurdin. Sulit bagi PAN mencari celah melakukan manuver dengan tidak bergantung ke trah Nurdin dalam waktu dekat. Ya, PAN besar tidak hanya sebagai partai yang mengandalkan suara dari kandidat yang diusung. Tapi PAN besar karena ada Zulkilfi Nurdin disitu. Ada trah “NURDIN” yang punya nama besar. Yang namanya sangat populer. Yang merupakan saudagar kaya raya lagi dermawan di Jambi. Coba tengok Zulkilfi dipilih masyarakat lebih 80 persen pada pemilihan Gubernur 2005.


Di sisi lain, PAN pasti gamang. Kalaulah mau ngotot mempertahankan trah Nurdin di lingkaran ini, tentu konsekwensinya besar. Karena ditahannya Zola menjadi catatan buruk tersendiri bagi keluarga besar PAN se Indoensia, apalagi peristiwa ini berlangsung jelang tahun politik, 2019 mendatang.

Keputusan DPP terburu-buru memecat Zola menandakan betapa takutnya PAN menerima imbas dari kasus ini.
Melepas PAN dalam kondisi seperti saat ini atau melanjutkan kiprah politik di PAN dalam keadaan Zola telah dipecat oleh DPP menjadi kegamangan juga bagi Zulkifli Nurdin.

Ini serba salah. Tapi memang tidak ada pilihan bagi Zulkilfi Nurdin. Dia harus berjuang mati – matian. Atau ingin dilupakan sejarah dalam keadaan tidak baik. Kalau berhenti sekarang, maka dia berhenti dalam kondisi tidak fit. Dicatat dalam sejarah politik Jambi, trah Nurdin berhenti berpolitik ketika Zumi Zola tersandung kasus di KPK. Atau mau melanjutkan di PAN? Bisakah PAN menerima kembali keluarga besar Nurdin dalam kondisi saat ini?

Menurut saya, Zulkilfi harus come back. Apakah dia memang bisa mengembalikan marwah PAN dipanggung politik Jambi. Ataukah dia bisa mencari partai lain untuk dijadikan pegangan baru. Itu semata-mata digunakan hanya untuk mendongkrak kembali nama keluarganya di panggung politik Jambi. Supaya memori orang terhadap keluarga Nurdin tidak berhenti sampai di masalah Zola.

Kalau memilih untuk berhenti pada kasus Zola, seperti membaca novel yang ceritanya berhenti di bad ending. Yang membuat trah Nurdin menjadi cacat di sebagian sisi. Ini akan jadi masalah besar bagi masa depan trah Nurdin. Bagi anak cucu mereka kelak, terutama dalam mereka yang ingin terjun ke dunia politik.


Mau tidak mau keluarga Nurdin harus bergotong royong. Semuanya kalau bisa! Untuk menyelamatkan trah Nurdin, bukan menyelamatkan Zola. Orang tidak peduli, misalnya Zola tidak akur dengan Sum Indra atau pamannya Hazrin Nurdin. Yang dipedulikan orang adalah trah Nurdin adalah orang kaya dan terpandang. Selama ini sudah berpuluh-puluh tahun memberi santunan kepada masyarakat.

Bagi keluarga Nurdin sendiri tidak ada pilihan. Mesti kembali ke panggung untuk membuktikan bahwa mereka tetap bisa eksisi di politik sambal menunjukkan pola permainan santun bagaimana seharusnya keluarga kaya seperti mereka berpolitik. Comeback ke politik, bukan untuk memenangkan pemilihan. Tapi untuk menunjukkan bahwa trah Nurdin adalah keluarga yang seperti tergambar selama ini, dermawan, suka menolong, tidak berupaya untuk mengambil uang rakyat seperti kasus yang membelit Zola di KPK. Semua keluarga Nurdin harus bahu membahu membangun kembali Citra ini.

Sekali lagi, bukan dalam rangka membersihkan nama baik Zola, tapi nama baik keluarga secara keseluruhan.
Penyelamatan citra bagi keluarga Nurdin, adalah sebuh keharusan. Maka mau tidak mau, Zulklifli, Hazrin, Sum Indra, Dewi Nurdin, dan semuanya harus bahu membahu mengembalikan puing-puing kekuatan yang telah terserak untuk disatukan kembali ke atas panggung dengan bentuk yang utuh dan kuat.

Karena Zulkifli yang memulai panggung politik di keluarga ini, maka dia pula yang harus mengambil beban untuk mengembalikan citra keluarga ini di panggung politik. Kalau tidak, tentu kita akan dapat cerita sepenggal yang tidak baik di ujung karir politik trah Nurdin. (*)


*Penulis adalah Dosen dan Periset Idea Institute Indonesia



Tags:


BERITA BERIKUTNYA
loading...