Memanfaatkan Tren Berpakaian Syar’i Sebagai Langkah Awal Dakwah Hijrah Bagi Muslimah di Wilayah Kamp

Rabu, 29 Agustus 2018 | 11:25:17 WIB

()

Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam, kunci surga, dan pedoman hidup yang mengatur manusia dari tidur hingga tidur lagi. Segalanya diperhatikan dengan rinci di Islam baik hubungan antar manusia dengan Sang Pencipta, manusia dengan manusia maupun tentang manusia itu dengan dirinya sendiri.

Salah satu yang sangat diperhatikan oleh Islam adalah pakaian. Islam memiliki aturan dalam berpakaian dimana seorang muslim wajib menutup aurat. Bagi laki-laki dari pusar hingga lutut dan bagi perempuan seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Pakaian yang digunakanpun tidak yang ketat, transparan dan juga bukan yang memperlihatkan lekuk tubuh. Sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat an-Nur ayat 31:

Katakanlah kepada wanita yang beriman:"Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka.Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara lakilaki mereka,  atau  putera- putera  saudara  perempuan  mereka,  atau  wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kaki mereka agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.Dan bertaubatlah kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”(An-Nur : 31) (Siswanto, 2010).

Merubah cara berpakaian seseorang tidaklah mudah karena ini bukan hanya soal fashion tapi juga tentang kenyamanan. Seseorang yang terbiasa berpakaian minim tentu akan merasa risih bila diminta berpakaian gamis begitupula sebaliknya. Untuk itulah persoalan berpakaian ini masih menjadi masalah yang belum terpecahkan. Penggencaran berpakaian yang sesuai dengan syariat hkususnya bagi muslimah dapat kita jumpai pada salah satu organisasi atau UKM di wilayah kampus yaitu UKM Rohis. Tujuan utamanya bukan pakaian melainkan akhlak dan karakter  islami.  Seorang muslim  yang  berakhlak  dan  berkarakter  islami  akan menyejalankannya dengan pakaian yang digunakan. Tanpa paksaan ia akan berusaha memperbaiki luarannya juga yaitu pakaian dan secara tak langsung ia telah memilih untuk berpakaian syar’i.

Akhir-akhir ini berpakaian syar’i menjadi sebuah mode dikalangan mahasiswi. Gamis, jilbab panjang dan hand shock menjadi tren yang dianggap memberi nilai lebih dimata orang lain. Mahasiswi yang berpakaian syar’i dinilai terlihat lebih anggun dan indah dipandang mata. Tentu ini bukan yang baik dan menjadi sebuah permasalahan.

Kita tidak bisa memaksa seseorang untuk berfikiran sama dengan kita tapi kita bisa membantunya mengetahui apa yang kita fahami karena berpakaian adalah sebuah hak. Kita dapat membantu pemahamannya tentang pakaian apa yang telah ia gunakan sebagai identitas kemuslimahannya. Kajian-kajian, talkshow kemuslimahan, dan acara kerohisan akan membantunya memahami hakikat berpakaian syar’i yang sebenarnya, dengan begitu seiring berjalannya waktu, pakaian yang digunakan dan pemahamannya tentang syariat islam akan sejalan dan insyaallah ia akan istiqomah dengan apa yang telah digunakan. Ini merupakan ladang dakwah bagi penggerak dakwah di sekitaran kampus dimana kita dapat membantu teman–teman kita dari tidak tahu menjadi tahu hakikat berpakaian yang sesuai syariat islam yang sebenarnya.

Tren berpakaian syari adalah permasalahan dan membantu memahamkannya hingga benar istiqomah merupakan sebuah pencerahan. Antara tren, adanya lembaga dakwah kampus seperti rohis dan proses pemahaman bersyariat islam bukanlah sebuah kebetulan. Ini merupkan pertanda akan benarnya janji Allah swt yang terdapat dalam Al-quranul kariim, Allah swt berfirman dalam surah  An-nasr ayat  1-3  yang ditafsirkan  Oleh  Ustadz  Muhammad  Ashim  bin Musthofa sebagai berikut:

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan 

Kata nashr, artinya al ‘aun (pertolongan). Yang dimaksud dengan nashrullah dalam ayat  ini, menurut  Ibnu Rajab  rahimahullah ialah pertolongan-Nya bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat berhadapan dengan musuh-musuhnya, sehingga berhasil beliau menundukkan bangsa ‘Arab semuanya dan berkuasa atas mereka, termasuk atas suku Quraisy, Hawazin dan suku-suku lainnya.

Secara eksplisit, surat ini memuat bisyarah (kabar gembira) bagi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kaum Muslimin. Syaikh ‘Abdur-Rahman as-Sa’di rahimahullah berkata,”Dalam surat ini terdapat bisyarah dan perintah kepada Rasul- Nya n pada saat kemunculannya. Kabar gembira ini berupa pertolongan Allah bagi Rasul-Nya dan peristiwa penaklukan kota Mekkah dan masuknya orang-orang ke agama Allah lSubhanahu wa Ta’ala dengan berbondong-bondong.”

Dalam menjelaskan pengertian ayat di atas, Syaikh Abu Bakr al Jazairi mengungkapkan: “Jika telah datang pertolongan Allah bagimu wahai Muhammad, hingga engkau berhasil mengalahkan para musuhmu di setiap peperangan yang engkau jalani, dan datang anugerah penaklukkan, yaitu penaklukan kota Mekkah, Allah membukanya bagi dirimu, sehingga menjadi wilayah Islam, yang sebelumnya merupakan daerah kekufuran”.

Adapun pengertian al fathu pada surat ini adalah fathu Makkah. Yakni penaklukan kota suci Mekkah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,”Yang dimaksud dengan al fathu yaitu fathu Makkah. (Ini merupakan) sebuah pendapat yang sudah bulat.”

Imam Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath Thabari rahimahullah, Imam Ibnul Jauzi rahimahullah dan Imam al Qurthubi rahimahullah juga menegaskan pendapat senada.

Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong 

(Dahulu) bangsa Arab menunggu-nunggu al Fathu (penaklukan kota Mekah) untuk memeluk Islam. Mereka berkata: “Biarkanlah dia (Rasulullah) dan kaumnya. Jika beliau menang atas mereka, berarti ia memang seorang nabi yang jujur”. Ketika telah terjadi penaklukan kota Mekkah, setiap kaum bersegera memeluk Islam, dan ayahku menyegerakan keIslaman kaumnya Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menurut Imam al Qurthubi, peristiwa tersebut terjadi ketika kota Mekkah berhasil dikuasi. Bangsa Arab berkata: “Bila Muhammad berhasil mengalahkan para penduduk kota suci (Mekkah), padahal dulu mereka dilindungi oleh Allah dari pasukan Gajah, maka tidak ada kekuatan bagi kalian (untuk menahannya). Maka mereka pun memeluk Islam secara berbondong-bondong”.

Tidak berbeda dengan keterangan itu, Ibnu Katsir rahimahullah juga memberi penjelasan: “Saat terjadi peristiwa penaklukan Mekkah, orang-orang memeluk agama Allah secara berbondong-bondong. Belum lewat dua tahun, Jazirah Arab sudah tersirami oleh keimanan dan tidak ada simbol di seluruh suku Arab, kecuali simbol Islam. Walillahil-Hamdu wal minnah”.

Ayat ini juga menandakan, bahwa kemenangan akan terus berlangsung bagi agama ini dan akan semakin bertambah saat dilantunkannya tasbih, tahmid dan istighfar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ini merupakan bentuk syukur. Faktanya yang kemudian dapat kita jumpai pada masa khulafaur-rasyidin dan generasi setelah mereka.

Pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala itu akan berlangsung terus- menerus sampai Islam masuk ke daerah yang belum pernah dirambah oleh agama lainnya. Dan ada kaum yang masuk Islam, tanpa pernah ada yang masuk ke agama lainnya. Sampai akhirnya dijumpai adanya pelanggaran pada umat ini terhadap perintah Allah, sehingga mereka dilanda bencana, yaitu berupa perpecahan dan terkoyaknya keutuhan mereka.

Maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat

Imam al Qurthubi rahimahullah menurutkan penafsirannya: “Jika engkau shalat, maka perbanyaklah dengan cara memuji-Nya atas limpahan kemenangan dan penaklukan kota Mekkah.Mintalah ampunan kepada Allah”. Inilah keterangan yang beliau rajihkan. 

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha, ia berkata: “Tidaklah Rasulullah n mengerjakan shalat setelah turunnya surat ini, kecuali membaca Subhanaka Rabbana wa bihamdika  Allahummaghfirli  (Maha Suci  Rabb  kami  dan  pujian kepada-Mu, ya Allah ampunilah aku)”.

Sejumlah  sahabat  mengartikan  ayat  ini  dengan  berkata:  “(Maksudnya) Allah memerintahkan kami untuk memuji dan memohon ampunan kepada-Nya, manakala pertolongan Allah telah tiba dan sudah menaklukkan (daerah-daerah) bagi kita”. Pernyataan ini muncul, saat ‘Umar bin al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu mengarahkan pertanyaan kepada mereka mengenai kandungan surat an-Nashr.

Ibnu Katsir rahimahullah mengomentari penjelasan ini dengan berkata: “Makna yang ditafsirkan oleh sebagian sahabat yang duduk bersama Umar Radhiyallahu ‘anhum ialah, bahwa kita diperintahkan untuk memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya ketika Dia telah menaklukkan wilayah Madain dan benteng- bentengnya, yaitu dengan melaksanan shalat karena-Nya dan memohon ampunan kepada-Nya merupakan pengertian yang memikat lagi tepat. Terdapat bukti penguat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengerjakan shalat delapan raka’at pada hari penaklukan kota Mekkah. Dalam Sunan Abu Daud termaktub bahwa beliau mengucapkan salam pada setiap dua raka’at di hari penaklukan kota Mekkah. Demikianlah yang dilakukan Sa’ad bin Abil Waqqash Radhiyallahu ‘anhu pada hari penaklukan kota Mada-in”.

Sesungguhnya Dia adalah Maha Menerima taubat 

Maksudnya, Allah Maha menerima taubat orang-orang yang bertasbih dan memohon ampunan. Dia mengampuni, merahmati mereka dan menerima taubat mereka.

Kita memang tidak dapat menghadirkan hidayah karena sejatinya hidayah hanya milik Allah SWT. Tetapi membantu pemahaman tentang pakaian apa yang telah digunakan, mengajak menghadiri kajian-kajian, talkshow kemuslimahan, dan acara kerohisan untuk membantu memahami hakikat berpakaian syar’i yang sebenarnya adalah perwujudan kesadaran akan kewajiban seorang muslim terhadap muslim lainnya. Menjadi pejuang-pejuang Allah SWT dalam berdakwah merupakan kebanggaan tersendiri bagi seorang muslim sejati. Semoga Allah SWT melimpahkan rahmat dan karunia-Nya pada kita semua. (***)


Penulis adalah mahasiswa dan peserta challenge menulis FLP Jambi





BERITA BERIKUTNYA
loading...