Polisi Tangkap Dua Pekerja Sumur Minyak Ilegal Dalam Semak-Semak

Selasa, 23 Oktober 2018 | 17:21:12 WIB

(Ardian Faisal/Jambione.com)

Muarabulian - Kepolisian resor (Polres) Batanghari berhasil menangkap dua orang pekerja Illegal Driling dalam wilayah Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari.

Kapolres Batanghari AKBP Moh Santoso, SH, SIK mengatakan, Kedua pelaku di tangkap berdasarkan laporan polisi nomor: LP/A-129/X/2018/Jambi/Res Batanghari tanggal 20 Oktober 2018 dan Surat Perintah Penyidikan nomor: Sprin Sidik /64/X/2018/Reskrim tanggal 20 Oktober 2018.

" TKP penangkapan Bungku Indah RT 01 Desa Bungku, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari," ungkap Santoso dalam gelaran konferensi pers, Selasa (23/10/2018) di Mapolres Batanghari. 

Pelaku pengeboran minyak ilegal bernama Seget Kardopes Bin Sarkowi umur 27 tahun, warga RT 08/02 Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Muara Bulian, Kabupaten Batanghari. 

Kemudian seorang lagi bernama Rora alias Romi Bin Sudar umur 32 tahun, warga Dusun I, Desa Kroya, Kecamatan Lais, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. 

" Kedua pelaku ditangkap tanggal 21 Oktober 2018 sekira pukul 00.30 Wib," terang Santoso. 

Pada saat itu anggota Satuan Reskrim Polres Batanghari sedang melakukan patroli di Desa Bungku, Kecamatan Bajubang. Petugas mendengar suara sepeda motor dari dalam semak-semak.

" Petugas kemudian mendekati sumber suara. Dan dilokasi petugas menemukan pelaku sedang melakukan kegiatan eksploitasi minyak bumi dari dalam sumur bor illegal," papar perwira dua melati di pundak ini. 

Dari kedua pelaku ini, petugas mengamankan barang bukti terdiri, satu unit sepeda motor yang telah di modifikasi menjadi dua gir, satu unit roling besi berikut tali tambang, satu unit rol bawah yang terbuat dari besi, satu canting minyak, satu unit mesin pompa, satu gulung selang dan dua galon berisi minyak illegal driling. 

" Kedua pelaku di jerat dengan Undang-undang nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 11 ayat (1) dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling tinggi Rp 60.000.000.000 (enam puluh miliar rupiah)," tegas Santoso. (***)





BERITA BERIKUTNYA
loading...