Ditanya Hakim Kenapa Nyuap DPR, Zola: Saya Salah

Senin, 29 Oktober 2018 | 16:16:25 WIB

Zumi Zola saat mendatangai pengadilan Tipikor
Zumi Zola saat mendatangai pengadilan Tipikor (Ist/Jambione.com)

Jakarta - Gubernur Jambi nonaktif Zumi Zola mengaku bersalah telah memberikan uang suap ke anggota DPRD Jambi sebagai uang ketuk palu pengesahan APBD. Zumi tetap menyebut uang itu sebagai permintaan dari anggota DPRD Jambi.

Awalnya, majelis hakim menyebutkan adanya penerimaan uang total Rp 30 miliar dari para kontraktor melalui Muhammad Imaduddin alias Iim. Namun Zumi Zola tidak mengetahui sumber uang tersebut.

"Kenapa Anda mau kasih (uang ketuk palu)?" tanya hakim pada Zumi yang menjalani pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Tipikor Jakarta, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (29/10/2018). "Iya salah saya, yang mulia," jawab Zumi.

Zumi menyebut permintaan uang ketuk palu itu muncul saat orang kepercayaannya, Apif Firmansyah, bertemu DPRD. Apif diminta bertemu DPRD Jambi karena Zumi ketika itu sedang berada di Jakarta.

"Saya minta Apif ketemu pimpinan DPRD. Setelah itu ada permintaan uang ketuk palu, saya kaget uang dari mana, anggota bisa dapat Rp 200 juta, pimpinan bisa besar dan ketua fraksi bisa lebih," ucap Zumi.

Zumi mengaku saat itu menolak permintaan uang ketuk palu karena tidak mempunyai dana. Namun Apif menyebut ada kontraktor yang akan membantu permintaan uang ketuk palu. Tak hanya Apif, mantan Kadis PUPR Jambi Dody Irawan juga dimintai uang ketuk palu oleh DPRD. Dodi kemudian berkoordinasi dengan Apif.

"Dodi juga ada permintaan (uang ketuk palu) maka saya minta koordinasi dengan Apif," tutur dia.

Zumi mengaku banyak anggota timsesnya dari kalangan kontraktor. Ketika terpilih menjadi Gubernur Jambi, para anggota timsesnya itu meminta proyek padanya.

"Ya sudah saya sampaikan, bilang saja begitu kondisinya tidak ada (proyek). Lalu saya simpulkan mereka tidak terima," ujar Zumi.

Akhirnya Zumi mengaku sempat dihujat timsesnya yang membantu pemilihan gubernur. Zumi disebut timsesnya tidak tahu berterima kasih karena melupakan jasanya.

"Saya banyak dihujat, didemo, tidak tahu terima kasih. Saya anggap itu risiko saya. Sampai saya buat pernyataan saya jadi gubernur bukan karena timses," kata Zumi.

"Kemudian datang permintaan dari DPRD, makin pusing saya. Kalau mau dapat uang dari mana pun saya nggak tahu minta dari mana. Dari kontraktor pun saya membatasi," imbuh Zumi.

Dalam perkara ini, Zumi didakwa menerima gratifikasi dengan total nilai Rp 44 miliar dan mobil Alphard. Gratifikasi itu disebut diterima Zumi sejak dia menjabat sebagai Gubernur Jambi.

Selain itu, Zumi Zola juga didakwa menyetor Rp 16,490 miliar ke DPRD Jambi. Uang itu disebut untuk mempermuluskan pengesahan Rancangan Perda APBD Jambi tahun 2017-2018. (***)

Sumber: Detikcom




BERITA BERIKUTNYA
loading...