Debit Air terus Naik, Status Sungai Batanghari Sudah Waspada

Kota Jambi dan Batanghari Berpotensi Terendam

Senin, 05 November 2018 | 22:28:30 WIB

()

 

Jambione.com - Hujan yang terus mengguyur wilayah Jambi menyebabkan debit Sungai Batanghari meluap. Bahkan saat ini ada beberapa wilayah di daerah aliran sungai (DAS) terpanjang di Sumatera itu sudah terkena banjir.

            Penjaga Pintu Air Sungai Batanghari di kawasan Ancol, Kota Jambi, Udin mengatakan, tiga hari terakhir debit Sungai Batanghari naik cukup signifikan. Kemarin (5/11) debit air sungai mencapai 11.30 meter. ‘’ Dalam sehari naik 30 centi meter. Sehari sebelumnya masih 11 meter," kata Udin, kemarin (5/11).

            Menurut dia, naiknya debit air ini karena tingginya intensitas hujan di daerah huluan Sungai Batanghari. "Sekarang naiknya deras. Kita dapat air kiriman dari hulu," imbuhnya.

            Udin menyebutkan, kondisi saat ini status debit Sungai Batanghari mendekati waspada. Sudah di atas kondisi normal. "Normalnya 9 meter," ujarnya.

            Berbeda dengan Udin, Kepala Dinas Damkar dan Penyelamatan Kota Jambi, Ridwan mengatakan, debit sungai Batanghari masih normal. Menurut dia, di Kota Jambi ada 6 Kecamatan yang rawan banjir. Yakni Kecamatan Pelayangan, Danau Teluk, Telanaipura, Jambi Timur, Pasar dan Danau Sipin. “Hanya ada 24 kelurahan yang rawan,” ujarnya.

            Ridwan meminta agar semua warga Kota Jambi tetap waspada dengan kondisi cuaca saat ini. Tidak hanya banjir, angin puting beliung, pohon tumbang dan tanah longsor juga perlu diwaspadai.

            Ridwan mengaku, pihaknya sudah siaga mengantisipasi bencana di Kota Jambi. Sarana dan prasaran juga sudah disiapkan. “Koordinasi kita bagus, karena Sar, Tagana, Kodim, pusatnya di Kota Jambi. Titik banjir sudah kita antisipasi,” pungkasnya.

            Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batanghari juga mengakui naiknya debit air sungai Batanghari cukup signifikan. " Status Sungai Batanghari waspada," kata Sekretaris BPBD Batanghari, Syamral Lubis di ruang kerjanya, Senin (5/11).

 Menurut Syamral, kenaikan debit sungai perhari rata-rata 20-30 centimeter. Kalau situasi ini berlanjut, kata Syamral, dikhawatirkan sangat mengancam. "Data terakhir debit air sudah mencapai 136 cm dan wajib waspada," tuturnya. 

            Syamral sedikit bingung dengan perubahan cuaca dari Karhutla sampai musim penghujan begitu cepat. Berdasarkan prediksi BMKG Provinsi Jambi, awal November masuk musim hujan dan puncak hujan pada Desember. 

            " Akan tetapi sungai kita panjang, satu berhulu di Sumatera Barat, yaitu di Kabupaten Dharmasraya dan satu berhulu di Kabupaten Kerinci. Dari dua hulu sungai ini, kita muara dan sangat beresiko," sebutnya. 

            BPBD Batanghari berencana mengadakan rapat se-Kabupaten runtuk menentukan status daerah ini. " Kita khawatir dengan cuaca atau situasi yang akibat hujan di hulu berdampak sangat serius pada daerah kita. Selama tiga hari terakhir kenaikan air 131 cm," katanya.  

            Banjir bukan hanya meredam pemukiman. BPBD Batanghari khawatir dengan pemukiman penduduk banyak di bantaran sungai. Malah beberapa desa sudah ada di bibir sungai. "Dari musim kemarau tanah banyak yang retak, sehingga di musim hujan kita khawatir terjadi longsor. Rasa khawatir lagi ketika penduduk tidur malam, ikut hanyut dengan rumahnya," katanya. 

            BPBD Batanghari akan terus melakukan monitoring sebelum membentuk tim melalui relawan di Kecamatan yang pernah mendapatkan pelatihan BPBD Batanghari. " Kita berharap tim relawan memberikan informasi dan input secepatnya untuk dijadikan tindak lanjut. Kita juga menyiapkan petugas untuk monitoring seluruh daerah potensi bencana," paparnya. 

            Perubahan musim bisa memicu bencana lain seperti angin puting beliung yang menyebabkan beberapa kayu bisa menimpa rumah. Ini juga akan dipantau serius BPBD Batanghari.  " Karena terlampau cepat jedah antara panas dan hujan. Biasanya dua bulan jedah Karhutla baru air naik. Tapi ini selesai Karhutla sekitar dua minggu, kok langsung air setinggi itu. Prediksi BMKG untuk hari ini masih ada beberapa titik hujan. Tetapi di hulu masih intensitas tinggi," katanya. 

            Tujuh kecamatan dari delapan kecamatan se-Kabupaten merupakan potensi banjir dan 86 Desa/ Kelurahan sepanjang bantaran sungai. Badan Penangguhan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batanghari mengklaim Kecamatan Bajubang berpotensi banjir. Padahal kecamatan ini termasuk dalam kategori dataran tinggi. " Ada potensi baru yang kita anggap bakal terkena banjir di Kecamatan Bajubang yaitu Desa Bungku," ungkapnya. 

            Potensi banjir ini muncul, karena dalam wilayah Desa Bungku ada pemukiman baru bersebelahan dengan Kecamatan Sungai Bahar Utara. "Itu ada namanya sungai bahar. Di sana sudah menjamur pemukiman baru yang penduduknya sebagian penduduk batangahri dan sebagian ber KTP luar Batanghari," sebutnya. 

"Mereka sudah terdampak banjir apabila curah hujan tinggi. Belum signifikan kita data karena keberadaan penduduk disana kadang ada kadang tidak," pungkasnya. (****)





BERITA BERIKUTNYA
loading...