Efek Buruk Kokain, Dari Jantung Hingga Kematian

Rabu, 07 November 2018 | 07:39:11 WIB

(ist/Jambione.com)

Narkotika jenis Kokain termasuk barang baru di Jambi. Dari data tangkapan pihak kepolisian, yang banyak beredar di Jambi selama ini adalah Ganja, Ekstasi, Sabu dan Putaw. Lantas, apa sebenarnya kokain? Dan bagaimana pengaruh narkotika jenis terhadap penggunanya?

Zat ini di beberapa negara digunakan secara medis sebagai obat bius lokal. Namun tak hanya itu, kokain juga banyak disalahgunakan oleh kalangan tertentu sebagai narkoba.

Dikutip dari laman bnn.go.id, kokain merupakan daun tanaman Erythroxylon coca yang biasanya dikunyah-kunyah untuk mendapatkan efek stimulan kuat. Di antaranya, meningkatkan daya tahan dan stamina serta mengurangi rasa lelah.

Bentuk kokain, dikutip lampung.bnn.go.id, ada dua, yaitu berupa Free base. Ini merupakan Kokain murni tanpa zat tambahan lain yang dibuat menjadi bentuk kristal. Kokain jenis ini biasanya digunakan dengan cara dipanaskan, kemudian asap dari kristal kokain ini dihirup.

Kemudian,  kokain hidroklorid, berupa bubuk kristal putih, terasa sedikit pahit, dan lebih mudah larut jika dibandingkan dengan kokain free base. Penggunaannya dengan disedot/dihirup melalui hidung, disuntikkan ke pembuluh darah, dikonsumsi melalui mulut, atau digosokkan ke gusi.

Efeknya mirip dengan amfetamin. Namun kokain berdampak jauh lebih kuat. Dampak kokain hanya berlangsung selama 30 menit. Lantaran itu, pecandu kerap mengulang-ulang pemakaiannya.

Bagi pemakainya, kokain menimbulkan kesiagaan dan kegembiraan yang luar biasa. Tak hanya itu, pengguna juga akan bertenaga luar biasa jika disuntikkan intravena atau dihirup. Penggunaan kokain juga dapat meningkatkan tekanan darah dan detak jantung sehingga dapat menyebabkan serangan jantung yang fatal. 

Imbas lainnya dari pemakaian kokain, di antaranya pengguna dapat terkena sembelit, gangguan pencernaan, gugup berlebihan, halusinasi, perilaku kasar. Bagi pengguna kelas berat, kokain dapat berefek menimbulkan kecemasan dan rasa tidak menentu, merasa sangat berkuasa dan perilaku
hiperseksual.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memasukkan kokain ke dalam NAPZA (Narkotik, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) golongan I dan hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan. Kokain tidak diperbolehkan untuk digunakan sebagai terapi dan berpotensi sangat tinggi menimbulkan ketergantungan. (*/isw))





BERITA BERIKUTNYA
loading...