Oknum Pegawai Samsat Muarojambi Tilap Uang Pajak Kendaraan

Selasa, 29 Januari 2019 | 23:30:53 WIB

foto ilustrasi
foto ilustrasi ()

 

 

jambione.com, Oknum petugas UPT Samsa Muarojambi, bernama Febi kedapatan melakukan penipuan dan menggelapkan uang pajak kendaraan bermotor. Korban yang sudah melapor ke kantor Samsat 17 orang dan instansi.  Salah satunya adalah Kantor Sat Pol PP Muarojambi. Pajak kendaraan dinas Pol PP yang diurus tahun 2018 lalu ikut ditilap oleh oknum Samsat tersebut. 

            Kasat Pol PP Muaro Jambi, Raden Abdul Gani mengakui instansi yang dipimpinnya ikut jadi korban penipuan mantan petugas Samsat Muarojambi tersebut. Ada tiga unit mobil dinas Pol PP yang diurus perubahan nomor polisi tahun lalu. Perubahan nomor polisi tersebut sampai sekarang tidak kunjung selesai. 

            " Uangnya sudah Kami kasih. Ttapi sampai sekarang dak tuntas.  Setelah ditelusuri,  uang yang kita serahkan tersebut dibawa kabur oleh oknum Samsat bernama Febi," kata Gani, Selasa (29/1) kemarin.

            Meski demikian, Gani mengatakan pihaknya belum berniat untuk melaporkan oknum pegawai Samsat itu kepada penegak hukum. Pol PP masih mengupayakan pendekatan penyelesaian melalui orang tua pelaku. " Tapi kalau tidak dikembalikan juga (uang yang disetor),  jalan terakhir kita polisikan," tegasnya. 

            Gani belum bisa memastikan jumlah kerugian atas pajak dan perubahan nomor polisi mobil dinas yang dia pimpin.  Sebab,  yang mengurus pajak dan perubahan nomor polisi adalah bawahannya. " Angka pastinya saya tidak tahu. Tapi jutaan jugalah," katanya. 

            Sementara itu, Kepala UPT Samsat Muarojambi,  Muhammad Zuhri membenarkan kantor Pol PP Muarojambi ikut jadi korban penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh oknum pegawainya. Kata dia, Pol PP sudah koordinasi dengan Samsat terkait masalah tersebut. " Pol PP sudah melapor ke kita. Laporannya ada tiga unit yang diurus tahun lalu," kata Zuhri saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/1). 

            Menurut dia,  penipuan dan penggelapan itu terjadi dikarenakan para pengurus pajak tidak mengikuti proses pembayaran melalui loket. Para korban rata-rata menitip pengurusan pajak melalui Febi,  selaku petugas honorer Samsat Muarojambi. 

            " Kalau mengurus melalui loket pasti tidak akan tertipu.  Faktanya mereka mengurus melalui pegawai honor. Inilah yang terjadi, " kata pria yang bertugas di Samsat Provinsi Jambi itu. 

            Zuhri mengungkapkan, jumlah korban penipuan oleh oknum petugas Samsat  Muarojambi itu sebenarnya cukup banyak. Sementara ini yang baru melapor secara resmi sebanyak 17 orang. Total jumlah kerugian korban mencapai Rp 50 juta. ‘’ Ada korban tidak mau ribut sehingga langsung membayar pajaknya dua tahun, " ujarnya. 

            Dalam aksinya, modus operandi yang lakukan oknum Febi adalah meminta korban mempercayakan pengurusan pajak kepada dirinya. Pada saat sholat zuhur, pelaku kemudian diam-diam masuk ke ruangan petugas untuk memprint STNK yang baru lengkap dengan perubahan pajak kendaraan. " Jadi STNK itu asli. Tapi uang pajaknya tidak masuk ke kas. Dan perbuatan itu dilakukan Febi saat situasi sepi. Tepatnya saat sholat zuhur, " katanya.

            Penipuan dan Penggelapan Pajak di Samsat Muaro Jambi yang terjadi saat ini bukanlah yang pertama. Pada 2017 lalu juga terjadi hal yang sama dengan jumlah korban yang lebih banyak lagi. Pelakunya sudah diberhentikan.

 

 

Untuk mengantisipasi agar kejadian serupa tidak terulang lagi,  Zuhri menghimbau agar wajib pajak mengurus pajak melalui loket.  Dia mengigatkan wajib pajak agar tidak menitip pengurusan kepada pegawai honorer atau calo. 

            Menurut Zuhri, perbuatan oknum pegawai Samsat tersebut sama sekali tidak berpengaruh kepada pembayaran pajak.  Antusias masyarakat untuk membayar pajak kendaraan masih cukup tinggi. " Belum berpengaruh. Soalnya, target pajak Rp19 miliar telah terealisasi Rp 22 milliar," ujarnya.

            Mengenai kerugian yang dialami para korban,   Zuhri mengaku tidak mau lepas tangan. Dia sudah koordinasi dengan orang tua Febi agar bersedia mengganti kerugian para korban. " Kalau dilaporkan kasihan,  Febi itu sudah punya anak dan bini. Makanya saya coba koordinasi dengan orang tuanya agar kasus ini bisa diselesaikan secara kekeluargaan," pungkasnya.(wil)

 





BERITA BERIKUTNYA
loading...