Film Dokumenter Menapak Jejak Leluluhur Kerinci Turun Gunung

Rabu, 10 Juli 2019 | 05:31:30 WIB

()

 

 

Kerinci, “Sekepal Tanah Sorga yang tercampak ke muka bumi”, demikian syair di tulis diatas

menara masjid raya oleh Ghazali Burhan Riodja, sebuah negeri yang memberikan 420 talenta 

emas kepada Raja Sulaiman alaihis sallam, 

Taprobana Insula dengan emas dan rempah, dengan pengarung samudera yang gagah berani

yang di beritakan Klaudios Ptolemaios, negeri berawan puncak Mahameru, tempat

bersemayamnya Dewi Sinta yang di sebut dalam kitab Jataka, negeri dengan pancaran cahaya

Ilahi yang membuat Abu Raihan Al-Biruni, menembus lapis semesta, pulau emas yang ditulis

 para musafir, dan Suwarnadwipa yang di kabarkan oleh Itshing.

 

Demikian narasi awal film dokumenter, Menapak Jejak Leluhur Kerinci, film ini memberi

gambaran tentang Benda Cagar Budaya yang ada di dataran tinggi pulau Sumatera, film

dokumenter ini murni di kerjakan oleh anak anak puncak Sumatera, bekerjasama dengan Balai

Pelestarian Cagar Budaya Jambi, yang membawahi 4 Provinsi, Jambi, Sumatera Selatan,

Bengkulu, dan Bangka Belitung, di samping memberi informasi tentang benda cagar budaya,

dokumenter ini juga bertujuan memperkuat pengetauhan lokal pelestarian cagar budaya, untuk

menunjang pembanggunan di sektor kebudayaan.

 

Narasi yang kuat dalam film dokumenter bukan hanya sekedar rangkaian kata kata, atau kalimat,

namun berdasarkan penelitian, studi kepustakaan, dari berbagai penelitian.

 

File dasar film dokumenter berdurasi 6 jam, setelah proses editing diambil intisarinya menjadi 15

menit, padat, namun dimengerti oleh semua kalangan awam yang menonton, "yang kita

keluarkan ini adalah file file dewa" ujar sutradara Menapak Jejak Leluhut Kerinci, Hendi Wisnu,

Ide awal film dokumenter ini, atas dasar keprihatinan akan ketidaktahuan generasi muda akan

sejarah dan benda cagar budaya di sekitar mereka, "Saat sejarah dan tinggalannya dilupakan,

berarti membunuh jati diri anak bangsa, melemahkan karakter generasi yang akan datang, sebuah

bangsa yang kuat adalah bangsa yang selalu mengingatkan akan sejarahnya, serta leluhurnya,

 

bukan hanya kejayaan namun juga bagaimana peradaban itu runtuh, untuk diambil pelajaran dan

nilai nilai kearifan di dalamnya", ujar M. Ali Surakhman, produser menapak jejak leluhur

Kerinci.

 

Dokumenter benda cagar budaya ini juga menjadi salah satu media penyebaran informasi untuk

memperkuat proses pelestarian cagar budaya, dan nantinya menjadi salah satu film yang diputar

pada program bioskop keliling, BPCB Jambi, kata Kristanto Januardi, Kabag Tata Usaha BPCB

Jambi.

 

Dataran tinggi Kerinci merupakan kawasan pedalaman yang jauh dari jalur perdagangan

maritim. Selain itu juga bergunung-gunung dan berbukit-bukit dengan sungai-sungai bertebing

terjal, sehingga menghambat mobilitas horisontal. Namun, ternyata kawasan tersebut tidak

benar-benar terisolasi.

 

Masyarakat bercorak tradisi megalitik di dataran tinggi Kerinci mungkin sekali menghuni lahan

di sekitar batu monolit yang mempunyai nama lokal batu gong, batu bedil atau batu larung.

Tinggalan artefak menonjol di situs megalit adalah pecahan tembikar yang merupakan bukti

pemukiman dimasa lampau.

 

Peninggalan bersejarah dari masa prahistoria di Kerinci sejenis menhir batu, keadaannya sangat

unik umumnya menghadap utara selatan berbentuk silindrik dengan posisi tergeletak di

permukaan tanah, posisi ini belum pernah ditemukan pada daerah lainnya di Indonesia.

Keberadaan batu silindrik yang ada di daerah Kerinci merupakan penyimpangan dari tradisi

umum megalitik di Indonesia.

 

Kerinci, negeri dinaungi nebula kosmos jagad raya, terukir indah pada relief relief batu purba,

adalah bukti adanya sebuah pedaban kuno namun sangat maju melampai batas fikiran manusia

kebanyakan saat ini.

 

Tak hanya itu, motif relief pada situs batu purba di kerinci sangat beragam, mulai dari motif

fauna yang menggambarkan lingkungan yang harmoni kosmos semesta, motif manusia bertopi

segi tiga seperti yang terdapat pada situs batu berrelief muak yang juga mengindikasikan

keharmonisan antara manusia dan alamnya.

 

Di tempat lainnya symbol keperkasaan kekuatan terpahat pada situs batu bersurat jujun, Pada

kedua sisi batu dipahat di sebelah kanan berwujud penari wanita, sedangkan sebelah kiri

bercorak pria berwujud raksasa bermahkota membawa pedang. Pria bermahkota lingkaran

cahaya dengan sikap badan Antibanga, pahatan ini merupakan perwujudan dari Dwarapala.

Tapi menhir ini bukanlah berasal dari zaman Hindu, secara kronologi batu silindrik ini berasal

dari masa prasejarah 3.000 tahun SM.

 

Ukiran pada batu purba Kerinci diduga kuat berkaitan dengan kegitan ritual pada masa itu,

seperti motif manusia kangkang yang bermakna kesuburan, hingga batu meriam yang diatas

permukaan batu silinidrik ini terdapat alur bekas tetakan dan sebuah lobang. alur ini

merupakan landasan tempat memenggal kepala pada tradisi purba dan darahnya ditampung di

dalam lobang dekat alur tersebut.

 

Tradisi ritual meletakkan sesaji yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang, dibuktikan

dengan adanya keberaan dolmen yang oleh masyarakat sekitas disebut Batu Rajo. . Dolmen

yang penyangganya terdiri dari bongkahan batu-batu yang disebut sebagai pandusa. Dibawah

dolmen ini biasanya sering ditemukan kubur batu, yang merupakan tradisi Megalitik dari masa

10.000 tahun Sebelum Masehi.

 

Banyak sekali temuan yang membuktikan bahwa ketika di dataran rendah Jambi berkembang

pesat kerajaan Malayu bercorak Buddis, di dataran tinggi Jambi bertahan kehidupan bercorak

tradisi megalitik. Bahkan tradisi megalitik di dataran tinggi Kerinci bertahan hingga kedatangan

Islam. Tradisi megalitik di kawasan tersebut tampaknya baru berakhir pada abad ke-18.

Islam masuk kealam Kerinci dengan membawa nilai nilai baru yang secara perlahan lahan

menyebar dalam sendi kehidupan suku Kerinci, dimana pada awal penyebarannya tidak serta

merta meleburkan tradisi yang sudah ada, Islam telah berkembang di alam Kerinci sejak abad

 

ke 14, dengan tercantumnya nama KHOJA ALI DEPATI dalam naskah Tanjung Tanah. Khoja atau

Kwaja yang dalam tradisi islam India dan Persia merupakan panggilan untuk seorang

pendakwah.

 

Dan sejak itu Islam mewarnai kehidupan peradaban masyarakat suku Kerinci terutama dalam

bdang akidah, social, kebudayaan termasuk pengetahuan tentang arsitektur. Berbagai tinggalan

Masjid berarsitektur perpaduan ornmen Islam dan kebudayaan local masih dapat kita lihat saat

ini.

 

Perpaduan arsitektur Islam dengan pengaruh tradisi local tidak hanya dapat kita lihat pada

bangunan bangunan masjid kuno, akan tetapi juga pada setiap rancang banguanan rumah

tradisional masyarakat suku Kerinci yang disebut Larik,yang banyak dihiasi ornament hias seni

pahat dan seni rupa yang memiliki berbagai corak yang sarat dengan makna religious dan

filosofis.

 

Benda cagar budaya merupakan kekayaan yang mempunyai arti penting bagi kebudayaan

bangsa, khususnya untuk memupuk kebanggaan nasional serta memperkokoh jati diri bangsa.

Oleh karena itu dalam rangka kepentingan nasional umumnya, dan kepentingan daerah dalam

rangka otonomi, maka warisan budaya yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan dan

kebudayaan tersebut harus dilestarikan. Dengan demikian benda cagar budaya dapat

dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan seperti ilmu pengetahuan, pendidikan, sosial dan

kebudayaan terutama dalam menunjang pembanggunan sektor Kebudayaan.

 

Penulis: Maih





BERITA BERIKUTNYA
loading...