Syukron Maksum, Kyai Muda Mendirikan Pesantren dari Menulis

Kamis, 11 Juli 2019 | 05:47:43 WIB

(ist/Jambione.com)

Di Usia 34 Tahun Sudah Terbitkan 70 Buku

 

Sering ditolak perusahaan penerbit buku, hingga akhirnya sukses dan berpenghasilan puluhan juta dari hasil menulis. Hebatnya lagi, KH. M. Syukron Maksum, M. Pd yang baryu berusia 34 tahun ini, mampu membangun sebuah Pondok Pesantren di Kabupaten Tanjabtim. 

 

 

AFRIZAL - MUARASABAK

 

TIDAK ada yang tahu nasib hidup seseorang. Dari hasil jerih payah dan terus berdoa kepada Allah, apapun yang diinginkan akan terkabul. Ini lah yang dilakukan KH. M. Syukron Maksum, M. Pd. Kyai berusia 34 ini telahir dari keluarga yang juga sebagai pimpinan Pondok Pesantren, yakni KH. Maksum Abdullah Mas'ud (Alm) dan Hj. Suriyatijah, warga Desa Manunggal Makmur, Kecamatan Kuala Jambi, Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim).

            Beliau mulai menitik karir saat meneruskan pendidikannya di perguruan tinggi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga pada tahun 2009 dengan jurusan Matematika di Yogyakarta. Pada saat itu, beliau mulai belajar menulis buku semenjak tahun 2008 dari Gus Zainal Arifin Thoha, pimpinan Pondok Pesantren Mahasiswa Hasyim As'ari, Yogyakarta. 

            Kemudian,  Syukron mulai membuat buku pertamanya dengan judul "Mukjizat Siwak" dengan isi 100 lembar halaman. Namun sangat disayangkan, pada waktu itu tidak ada satupun penerbit yang mau menerbitkan hasil tulisan. Ketika itu dia sempat merasa putus asa dan berniat tidak melanjutkan lagi tulisannya.

            Hingga suatu saat, ketika seseorang datang ke tempat tinggalnya di Pondok Pesantren Al-Munawir, Krapyak mencari sebuah tulisan yang bisa diterbitkan. Maka pihak pesantren menawarkan buku yang telah dibuat oleh Kyai Syukron. "Waktu itu saya dipanggil karena ada seseorang dari perusahaan kecil khusus penerbitan buku mencari tulisan. Dan saya menyodorkan tulisan pertama saya. Saya bilang ke orang itu "Ambil saja pak", karena saya tidak ambil pusing lagi soal tulisan itu," ceritanya. 

            Namun tak di sangka-sangka, tulisan yang awalnya ditolak oleh semua penerbit buku, pada saat itu malah laku terjual. Dari hasil penerbitan buku pertamanya tersebut, Kiyai muda dengan nama panggilan Syukron ini mendapatkan uang penghasilan sebesar Rp 250 ribu pada tahun itu.

Itu lah hasil pertamanya dari menulis buku. Dan sejak saat itu, Syukron mulai gencar dan produktif lagi menulis. Dalam dua bulan dia mampu menulis satu buku. Penghasilan terbesar pertama kali yang didapatkannya saat buku dengan judul "Rahasia Shalawat Nabi" diterbitkan pada tahun 2009.

"Alhamdulillah saya mendapatkan uang dari perusahaan penerbit buku sekitar Rp 50 juta. Dan itu pendapatan pertama saya yang paling besar," ungkapnya. 

            Sebelum menyelesaikan pendidikan S1, beliau memilih untuk menikah muda. Setelah lulus, pada akhir Desember 2009, Syukron pulang kampung sembari membawa istrinya. Meski kondisi kampung yang tidak ada listrik dan jaringan internet, tapi dia tetap menyalurkan hobi menulisnya, dan terus menerbitkan buku.

Berjalannya waktu, sembari sambil mengerjakan tulisan, Syukron  bersama istri Hj. Irma Mutiara Sholiha, S.Pd.I membuat sebuah organisasi bernama JariNabi pada tahun 2011 dengan program Sedekah Durian (Sedekah Dua Puluh Ribu Setiap Bulan) yang menyatuni anak yatim. Komunitas tersebut menyekolahkan anak yatim di Pondok Pesantren milik ayahnya bernama Al-Ishlah dengan bebas biaya alias gratis. 

"Jadi program itu, kita membuka rekening tabungan untuk para donatur yang ingin memberikan sedekahnya. bisa langsung mengirimkan sedekahnya melalui rekening. Tidak banyak-banyak yang kita pinta, hanya Rp 20 ribu," sebut Syukron yang kini telah memiliki Dua anak putra dan putri. 

Dari komunitas itu, dengan penghasilannya menulis buku semakin besar hingga ratusan juta, dia berinisiatif menjadikan komunitas tersebut sebuah pesantren. Pada tahun 2017, Pondok Pesantren JariNabi terlahir. Dan tegaknya Pondok Pesantren itu, tidak terlepas dari bantuan orang ternama di Tanjabtim dan orang terdekatnya. 

Pondok Pesantren yang berdomisili di Komplek Bukit Quran Sabak Kelurahan Rano, Kecamatan Muarasabak Barat, Kabupaten Tanjabtim tersebut, awalnya hanya memiliki anak didik sebanyak 15 siswa. Tahun ini sudah bertambah menjadi 52 santri. Jika digabungkan dengan santri kalong, maka santrinya ada sekitar 100 orang.(***)

 





BERITA BERIKUTNYA
loading...