Ada Kapal Berteknologi Tua, Disatukan Pasak Kayu dan Tali Ijuk

Galangan Kapal Kuno Zabag, Membuka Misteri Wangsa Mudra (1)

Senin, 26 Agustus 2019 | 05:40:54 WIB

(ist/Jambione.com)

Kata Zabag memang banyak bermunculan dalam berita Arab abad 9. Ditengarai pelabuhan ramai yang mengangkut rempah yang hari ini bernama Muara Sabak di kawasan Pantai Timur Sumatera. Persisnya di Tanjung Jabung Timur, Jambi.

-------

Berita Cina lama selanjutnya menyebut ’San-fo-tsi’ sebagai bandar yang sering dikunjungi oleh saudagar-saudagarnya untuk membeli lada. Phonetis kada ’san-fo-tsi’ dekat sekali dengan bunyi ’tembesi’. Tua (Jambi) yang utama ialah Muara Sabak, yang dalam pemberitaan Arab disebut ’Zabaq’. Orang Arab mentranskribir sebagai ’Sribuzza’, dan berita Cina menuliskan ’Che-li-fo-che’. Dari berita-berita ini menyebutkan bahwa kerajaan tua yang berada dibandar-bandar penting Sumatera adalah kerajaan Melayu Tua yang berpusat di Muara Tembesi.

Daerah sebelah selatan Jambi mulai penting sebagai produsen lada dan dengan bantuan armada Cina T’ang, San-fo-tsi mendrikan pangkalan disana (683 Masehi). Che-li-fo-che, Sriwijaya/Jambi, Muara Sabak, diapit oleh Melayu Tua/Muara Tembesi di Utara dan Palembang di sebelah selatan. Dalam hubungan ini penting berita I-tsing, bahwa ”Mo-lo-yoe” telah menjadai ”Sriwijaya” (685 Masehi).

Berita I’tsing itu mendapat ketegasan dalam batu bertulis Kedukan Bukit, yang tertanggal 605 Syaka atau 683 Masehi. Antara lain diberitahukan, bahwa ’dapunta hyang’ telah’nayik disana’ dengan ’koci’, yang mebanwa ’bala dua laksya banyaknya’ guna ’menyalap siddhyatra’ dan ’marbuwat banua syrivijaya jaya’. Sebagai tempat bertolah disebut ”minanga Tamwan”, yang berdasarkan penyelidikan bahasa oleh Purbotjaroko disimpulkan sebagai ”minangkabwa”, asal kata ”minangkabau’.

Dalam prasasti Talang Tuwo berasal dari tahun yang sama (683 Masehi), memberitakan tentang didirikan ”ksetra” guna kesejahteraan segala makluk. Upacara pendirian taman itu sesuai dengan upacara agama Budha Mahayana. ”Revolusi istana” yang didalangi oleh angkatan laut Cina mengakibatkan mati terbunuhnya Sri Maharaja Indra-warman, Muara Sabak (730 Masehi). Suasana politik yang membara dan gawa di Syria pada tahun 750 masehi berhasil menumpas kekuasaan Chalifah Ummayyah di Damsyik, menghalang-halangi Chalifah Ummayyah untuk memberikan bantuan militer seperlunya kepada ”Zabaq”. Dengan demikian terhentilah dakwah Islam di wilayah ini, sekelumit sejarah tentang negeri Zabag.

Selasa, 20 Agustus 2019, kita dan bergerak menuju kota Sabak, melihat eksavasi yang dilakukan oleh tim arkeologi UI yang bekerjasama dengan pemda Kabubaten Tanjung Jabung Timur, kita disambut dengan kopi laberica yang lansung di buat oleh Bupati Tanjab Romi Haryanto, kopi laberica yang ditanam di lahan gambut, mempunyai cita rasa yang khas dan kelat eksotis dengan aroma berbeda, ibarat kata tambo tua “ melangkah masuk gelanggang, kita hatur jari nan sepuluh, carano di hujur, sirih pinang nan sabungkah rokok nan sabatang, izin pada yang punya negeri, tegur sapa pada leluhur penunggu batas, jangan di dago, jangan di dagi kami yang hendak berjalan, menapak jalan para pendahulu pendahulu yang menegakkan  tiang negeri”

Tak berpanjang pantun dan basa basi, kita lansung menuju lokasi desa Lambur, menuju kesana kita ada tiga kendaraan satu diisi oleh Kabid Budaya Balitbangda, Arga dengan semangat dan kerendahan hadi sudi menemani kita, satu kendaraan kawan kawan AJI Jambi, dan kendaraan kita diisi dua petualang Saiful Mursal dan Yoga, menempuh jalan yang berdebu dan berlubang, membuat pinggang tua ini sedikit sakit. Namun aura leluhur pengarung samudera membuat rasa sakit tak terasa. Sesampai di lokasi, tim arkeologi UI sedang bekerja bermandi lumpur. Kita disambut dengan senyum ramah sosok sederhana, ketua tim eksavasi Dr. Ali Akbar SS. M. Hum. Sosok berbeda untuk seorang arkeolog, beliau lansung menunjukan temuan temuan  keramik dari situs Siti Hawa dan beberapa kayu rangka kapal yang sedang di eksavasi.

Menurut pak Abe- panggilan Dr. Ali Akbar SS. M.Hum- tak hanya satu kapal saja, namun ada banyak rangka kapal yang ditemukan di kawasan tersebut. Dan yang sedang dieksavasi sekarang sangat unik. Tekhnologinya sangat tua. Tak hanya disatukan dengan pasak kayu, namun juga diikat dengan tali ijuk, dan ukurannya besar. Ia menyakini kapal ini yang bisa mengarungi samudera. Bukan hanya untuk transportasi sungai.

Dari hasil pengamatan dan survei yang juga dilakukan dari udara, di kawasan ini banyak ditemukan jalur jalur kanal kuno, dari sungai Batang Hari hingga kelaut lepas. Dari hasil sementara eksavasi ini, kawasan lambur, Muara Sabak merupakan pabrik kapal kuno atau galangan untuk membuat kapal pada abad 7 dan 6 masehi. ‘’Namun untuk memastikannya kita masih menunggu penanggalan atau uji karbon, bisa saja lebih tua, ‘’ujarnya.

Dari banyak temuan keramik di kawasan situs Siti Hawa, yaitu keramik Cina, dari periode Sung, Tang dan Ming, sedikit gerabah dari pengalian kapal di desa lambur, yang di duga gerabah lokal yang sangat tua. Juga ditemukan batu bata. Bisa jadi ini kawasan percandian di masa itu.

Saat melihat lokasi pengalian, tampak rangka kapal, dengan ikatan tali ijuk. Disini saya terbayang tekhnologi rumah kuno di dataran tinggi Kerinci, yang mana sistim pengikat rangkanya, pasak kayu dan tali ijuk.

Pada tahun 1994-1996, kita meneliti Architecture Traditional Kerinci yang disponsori Academy Science  and Art The Royal Netherlands Institute, Leiden, simpul ikatnya disebut “silampit Simpe”. Simpul ikat yang sangat kuat, hasil studi saat itu simpul ini merupakan warisan tradisi neolitichum, proto melayu dataran tinggi Sumatera. Simpul ini dipakai juga untuk mengikat beliung, kapak batu, dan ulu parang, dan alat angkut seperti Jangki dan Ambung- sejenis ransel-, yang digunakan penduduk dataran tinggi Kerinci. Simpul ikat Silampit Simpe ini juga tertuang dalam ragam hias rumah larik atau rumah tradisional Kerinci.

            Timbul pertanyaan apa hubungannya dengan temuan kapal kuno Sabak? Mobilitas manusia zaman dulu tak lepas dari hulu dan hilir. Dan sungai merupakan transportasi penting saat itu dalam perdagangan maupun sosial. Di sini terjadi pertukaran informasi dan pengetauhan. Dalam catatan catatan kuno, hulu membawa hasil bumi, hasil buruan, gading, kulit harimau, cula badak dan yang utama rempah, untuk dibarter. Hilir merupakan pintu pertemuan dengan para pedagang luar. Ini di buktikan temuan temuan keramik kuno Sung, di dataran Tinggi Kerinci.(oleh: M. Ali Surakhman-bersambung)

 


 

 





BERITA BERIKUTNYA
loading...