Status Desa Sangat Tertinggal Menurun Drastis

Sabtu, 07 September 2019 | 07:57:35 WIB

(Paradil Iwel/Jambione.com)

SAROLANGUN- Status desa sangat tertingal atau desa tertinggal di Kabupaten Sarolangun mengalami penurunan secara drastis. Hal ini diketahui dari hasil finalisasi pengukuran Indeks Desa Membangun (IDM) yang dilakukan pada tahun 2019 ini oleh pihak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Kabupaten Sarolangun.

Kepala Dinas PMD Sarolangun, Mulyadi mengatakan bahwa pengukuran IDM dilakukan dengan pengisian kuisioner yang dilkaukan di 149 desa dengan melibatkan unsur penting para pendamping desa dan OPD terkait.

"Kita peroleh dari hasil pengukuran IDM, pada 149 desa, dengan hasil tersebut dapat kita simpulkan bahwa kabupaten Sarolangun berada di level kabupaten dengan status berkembang," ujar Jumat (6/9) kemarin 

Dijelaskannya, apabila dibandingkan pada tahun 2016 status desa sangat tertinggal di kabupaten Sarolangun sebanyak 27 desa dan status tertinggal ada 83 desa.

"Kalau tahun 2016 lalu, desa sangat tertinggal ada sebanyak 27 desa, Tapi tahun 2019, Alhamdulillah sudah tidak ada lagi yang namanya desa sangat tertinggal," terangnya.

Kemudian kata Mulyadi, di grafik validitas IDM 2018 terjadi penurunan presentase jumlah desa berstatus sangat tertinggal menjadi 23 desa, dan 76 desa berstatus tertinggal.

Lanjutnya, Selain porsi Dana Desa (DD) yang bernilai Rp 700 juta lebih berperan besar, Program Peningkatan Percepatan Desa/Kelurahan (P2DK), Bantuan Keuangan Provinsi (BKP) dan sumber sumber dana lain yang masuk ke desa ikut andil.

"Itu terlihat melalui hasil ukur IDM tahun 2019 ini. Desa dengan status sangat tertinggal hanya satu desa dari 23 desa di tahun sebelumnya. Status tertinggal turun menjadi 66 desa," tergasnya.

Dimana target RPJMD Kabupaten Sarolangun dengan formulasi desa status berkembang dan maju dibagi 149 desa. 

"Target sebesar 53,69 persen, sementara hasil IDM kita 55,70 persen. Ya, secara target memang terpenuhi. Tapi PR kita masih panjang mengembangkan desa," kata Mantan Camat Bathin VIII ini.

Sementara Tenaga Ahli Pelayanan Sosial Dasar (TA PSD) P3MD Kemendes PDTT

Kabupaten Sarolangun, Qomaruddin menelaah bahwa progresivitas kemajuan perkembangan desa tak terlepas dari adanya peran dan dukungan pendamping desa. 

"Ya. Peran kita mendorong ketepatan sasaran pembanguan di setiap lini sesuai kondisi riil di desa," katanya.

Tepat atau tidak menurutnya, bisa dirujuk melalui pendekatan pada 50 variabel di IDM yang diklasifikasikan pada tiga dimensi, yakni Indeks Ketahanan Sosial (IKS), Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) dan Indeks Ketahanan Lingkungan (IKL).

Selaku pihak yang mendominiasi pengisian kuisioner IDM, ia tak memungkiri, lokus pembangunan tiap tahun di desa tentu terkorelasi dengan tahun sebelum dan berikutnya. 

"Tidak mungkin kan parsial. Misal sekarang bangun PAUD, kedepan bisa penguatan kapasitas pelaku, kalau itu kebutuhannya. Ya, artinya saling terkait," ujarnya.

Ia tak memungkiri, apabila IDM tahun 2019 dipergunakan sebagai acuan dasar master plan integrasi dan sinergi pembangunan, tentu ketimpangan di desa lambat laun terkikis. 

"Kita mendorong RKP Desa tahun 2020 nanti, acuan kerangkanya pada IDM tahun ini," pungkasnya.(wel)





BERITA BERIKUTNYA
loading...