Fasilitas Kampus Dinilai Mahasiswa tidak MemadaiĀ 

Mahasiswa Kecam Tindakan Intervensi Ketua Jurusan HPI

Kamis, 19 September 2019 | 16:11:45 WIB

MIMBAR BEBAS: Puluhan mahsiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa jurusan saat melakukan mimbar bebas di depan Gedung Fakultas Syariah.
MIMBAR BEBAS: Puluhan mahsiswa yang tergabung dalam aliansi mahasiswa jurusan saat melakukan mimbar bebas di depan Gedung Fakultas Syariah. ()

JAMBI – Persoalan di Kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Sulthan Tahaha Saifudin Jambi, ternyata cukup komplit. Selain kasus dugaan korupsi mega proyek pembangunan Gedung Auditorium bernilai Rp35 Miliar yang kini ditangani Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jambi. Ternyata muncul juga persoalan lain yaitu sarana prasarana yang dinilai mahasiswa tidak memadai.

Hal tersebut disuarakan oleh puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Jurusan, Kamis (19/9) pagi di Gedung Fakultas Syariah.  Ketua Dewan Mahasiswa Fakukltas Syariah, Ade saat dikonfirmasi memebenrakan aksi unjuk rasa tersebut.

“Memang benar, tadi pagi sejumlah mahasiswa melakukan Mimbar bebas di depan Gedung Akademik Fakultas Syariah,” kata Ade.

Diungkapan Ade, beberapa persoalan yang menjadi problem mahasiswa adalah terkait dengan sarana prasarana, tingginya nilai Uang Kuliah Tunggal (UKT) namun fasilitasnya nihil, buruknya birokrasi dalam pelayanan administrasi akademik, serta adanya intervensi ketua jurusan terhadap organisasi mahasiswa jurusan.

Ade selaku ketua Dewan Mahasiswa sangat menyangkan apabila masih ada Ketua Jurusan yang mengintervensi HMJ. Dengan hal itu ia mengharapkan agar pihak kampus dari rektortat hingga dekanat untuk lebih serius dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi mahasiswa saat ini.
“Kita berharap pihak kampus bisa lebih peka terhadap persoalan kami ini. Pihak kampus harus memberikan solusi dan penjelsan terkait hal ini,” kata Ade.

Sementara itu, orator aksi yakni Sabat Nase Indallah Jaiz menyatakan, terkait fasilitas yang disorot mahasiswa adalah kekurangan kelas, banyak fasilitas yang didalam kelas hanya pajangan seperti AC dan kipas angin, air wc yang tidak ada, serta papan tulis yang tidak layak pakai.

“Karena kekurangan kelas, mahasiswa banyak yang belajar di dalam masjid dan di bawah pohon. Fasilitas di dalam kelas juga hanya dipajang,” kata Sabat.

 “Percuma kita bayar UKT dengan praktikum mahal-mahal, kalau fasilitas dan sarana prasarana kita tidak memadai,” sambung Sabat.

Selain itu, mahasiswa mengecam adanya intervensi pihak jurusan kepada pengurus himpunan organisasi mahasiswa jurusan (HMJ) yang dinilai telah mengangkangi kebebasan mahasiswa. Dalam aturan mahasiswa, Ketua Jurusan tidak berhak untuk menentukan pengurus dalam HMJ.

“Masa’ ketua jurusan mengintervensi HMP dalam penysusunan pengurus, padahal dalam menentukan pengurus itu telah melalui musyawarah. Persoalan iini terjadi di jurusan Hukum Pidana Islam (HPI), kalau dalam pengurus itu tidak disetujui Ketua Jurusan, maka SK disuruh untuk disusun ulang, ” kata Sabat.

Ditegaskan Sabat, apabila aksi ini tidak direspon pihak kampus, maka ia akan kembali menggerakkan masa yang lebih banyak untuk melakukan aksi unjuk rasa lebih besar di dalam kampus. (tri)





BERITA BERIKUTNYA
loading...