Arfan Tak Enak Nolak Perintah Cari Uang Karena Sudah Diangkat Jadi Plt Kadis PUPR

Asiang Perintahkan Lina, Ahui dan Lili Siapkan Rp 5 M

Jumat, 01 November 2019 | 07:29:43 WIB

()

JAMBI – Mantan Plt Kepala Dinas PUPR Provinsi Jambi, Arfan membeberkan latar belakang dan kronologi dia meminjam uang Rp 5 Miliar kepada Joe Fandi Yoesman alias Asiang, di pengadilan Tipikor Jambi, Kamis (31/10) kemarin. Uang Rp 5 Miliar itu diketahui digunakan untuk menyuap anggota DPRD Provinsi Jambi agar pengesahaan RAPBD Provinsi Jambi 2018 berjalan mulus.

Arfan dihadirkan jaksa sebagai saksi untuk terdakwa Asiang. Selain Arfan, jaksa juga menghadirkan saksi lainnya yang terkait dengan uang Rp 5 M tersebut. Diantaranya, kerabat Asiang, Lina dan Ahui. Lalu Mantan Asisten III Saifudin, Mantan anggota DPRD Jambi Supriyono, dan Kusnindar.

            Di hadapan majelis hakim, Arfan mengaku tidak bisa menolak saat diminta Plt Sekda Erwan Malik mencari uang Rp 5 Miliar karena tidak enak sudah diangkat menjadi Plt Kadis PUPR.

Sebenarnya, Arman mengaku tidak mau melakukan hal itu. Namun, akhirnya dia menjalankan poerintah Plt Sekda itu karena merasa tidak enak telah diberi jabatan Plt Kadis PUPR Provinsi Jambi.

"Saya tidak enak sama Pemda, karena sudah diangkat menjadi Plt Kadis PUPR. Waktu itu yang suruh saya nyari uang pak sekda (Erwan Malik),"katanya saat memberikan kesaksian.

            Mendapat perintah mencari uang, Arfan mengaku teringat dengan Asiang yang mungkin bisa pijamkan uang. "Saya langsung hubungi pak Asiang lewat telepon. Waktu itu dia mau berobat ke Cina, dan sudah sampai Jakarta,"jelasnya.

            Menurut Arfan, setelah menyampaikan maksudnya meminjam uang Rp 5 Miliar, Asiang menyanggupinya. Asiang mengatakan nanti urusan tersebut sama Lina, Ahui dan Lili. "Ya, urusan nya sama mereka bertiga nanti uang nya,"katanya lagi.

            Setelah koordinasi, Asiang kembali menelponnya dan mengatakan nanti urusan itu (uang Rp 5 M) sama ketiganya. Arfan lalu meminta anak buahnya Amidi dan Wahyudi untuk mengambil uang tersebut. "Ada di lima kardus itu uangnya diambil anak buah saya dari Robert, suami Lina di depan salah satu mini market. Uang itu ditaruh dalam mobil Mitsubishi Outlander,"sebutnya.

            Arfan menjelaskan mekanisme peminjmam uang itu sudah diatur. Karena uang cas yang dipinjam untuk diberikan ke dewan sangat besar jumlahnya, makanya penyerahan uang itu panjang prosesnya.

            “Itu sengaja, agar tidak ada yang curiga kalau bawa uang banyak. Kalau ambil  uang di Bank kan tinggal minta bantuan Polisi sudah aman sampai tujuan. Tapi ini kan untuk maksud dan tujuan yang berbeda,” jelasnya.

Arfan juga mengaku ada pertemuan di hotel Aston saat itu. Di sana ada Eh Helwi, Saifudin, Supriyono dan sejumlah staf nya. Di tempat itu mereka bagi bagi tugas untuk pembagian uang tersebut. "Susah di bagi bagi uangnya. Untuk setiap fraksi dengan kode tertentu,"ungkapnya.

 

 

            Sementara itu, kerabat Asiang, Lina mengaku tidak mengetahui lima kardus yang dia ambil di rumah Asiang merupakan uang sebanyak Rp 5 miliar. Dia beranggapan kardus tersebut berkas. "Saya kira dokumen, saya tidak tau yang mulia jika itu isinya uang,"katanya.

            Lina mengaku mengambil lima kardus tersebut menggunakan mobil Outlander yang dibawa suaminya. "Yang bawa suami saya Robert, waktu itu sebagai sopirnya bersama Ahui,"ujarnya.

            Mendengar keterangan keterangan itu, Majelis Hakim Victor sempat geram. "Gimana tidak tau. Itukan uang yang anda koordinasikan dengan Asiang, masak ngak tau,"ujarnya.

            Namun Lina tetap ngotot mengaku tidak tahu soal uang itu. Menurut lina dirinya hanya disuruh mengambil kardus di rumah Asiang yang sudah di iapkan dalam kondisi di lakban. "Ya, itu yang ada pak,"ujarnya.

            Kerabat Asiang lainnya, Ahui mengatakan dirinya diminta (Asiang) untuk menyiapkan uang yang akan dipijam Arfan tersebut. "Ya gitu perintahnya (Asiang) pak. Beliau (Asiang) yang suruh siapkan,"tandansya.(isw)

 

 

 





BERITA BERIKUTNYA
loading...