Pulang dari Natuna, Peserta Observasi Kembali Beraktivitas; Tunggu Situasi Aman, Kuliah Secara Onlin

Senin, 17 Februari 2020 | 22:33:13 WIB

Nusa Syarafina, Mahasiswa Asal Jambi tiba di bandara Sultan Thaha  Saifuddin Jambi, Sabtu (15/2) malam lalu
Nusa Syarafina, Mahasiswa Asal Jambi tiba di bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Sabtu (15/2) malam lalu ()

 

 Jambione.com, - Tinggal di lokasi observasi selama dua pekan menjadi kenangan tak terlupakan bagi mereka. Setelah pulang ke kampung halaman masing-masing, semua bersiap melanjutkan aktivitas seperti sedia kala. Life must go on…

 

----

 Zainidar dan anggota keluarganya yang lain langsung memeluk Nusa Syarafina saat keluar dari ruang ke datangan bandara Sultan Thaha Saifuddin Jambi, Sabtu (15/2) malam lalu. Malam itu sang cucu tiba di Jambi menggunakan pesawat Lion Air. "Alhamdulillah, senang sekali dan bersyukur Syara udah bisa pulang ke Jambi," kata Zainidar.

Menurut Zainidar,  cucunya sudah tiga tahun kuliah di  Fakultas Kedokteran Yangtze University, Jingzhou, Hubei, China. Nusa Syarafina dipulangkan setelah melawati masa inkubasi selama 14 hari dengan pemeriksaan kesehatan yang sangat ketat. Ia bersama ratusan WNI lainnya dipulangkan setelah dipastikan sehat dan tidak terjangkit virus corona.

            Syara saat ditanyai awak media mengaku jika saat ini ia dalam kondisi sehat. "Alhamdulillah sehat, dan pelayanan pemerintah di sana baik," ujarnya. Ditanya bagaimana dengan perkuliahannya dan kapan dia akan kembali ke China, Syara mengaku masih menunggu kondisi di sana benar-benar baik.

            "Untuk kuliah sementara pihak kampus lagi siasati kuliah online dulu. Dan kapan akan kembali ke China untuk melanjutkan kuliah, Saya belum bisa memastikannya, Mungkin sampai situasi benar-benar oke," tutupnya.

            Di tempat berbeda, ELLY Riyadhti juga langsung memeluk dan menciumi Pramesti Ardita Cahyani. Air mata kerinduannya tumpah. Sudah enam bulan ini dia memendam rindu. Sejak Memes –sapaan Pramesti– berangkat ke Wuhan, Tiongkok, pada September 2019.

Memes adalah mahasiswi Unesa yang mendapat beasiswa satu semester studi bahasa Mandarin di Central China Normal University (CCNU).

            Kerinduan Elly makin menjadi-jadi saat Memes menjalani observasi di Natuna. Elly bahkan tak doyan makan selama beberapa hari. Elly adalah bulik alias tante Memes. Meski begitu, Memes sudah seperti anaknya sendiri. Maklum, Memes tinggal dengan Elly sejak kelas VII SMP. Terutama setelah ibunya meninggal dunia dan ayahnya menikah lagi. Karena itu, Elly dan Memes sangat dekat.

Pesawat yang mengangkut Memes dan rekan-rekannya mendarat di Bandara Internasional Juanda sekitar pukul 22.00 WIB Sabtu (15/2). Bersama rombongan, dia dilewatkan pintu kedatangan VIP. Dan langsung dipertemukan dengan keluarganya di Grha Amukti Praja Wijaya 1 Terminal 1 (T1). Malam itu Memes disambut tujuh anggota keluarganya sekaligus. Selain Elly, ada paman, tante, keponakan, dan dua saudara kandung perempuannya. Mereka datang berombongan dengan satu mobil dari Lamongan ke Surabaya. Rombongan keluarga membawa makanan yang sudah dipesan Memes sebelumnya. Yakni, botok ikan dan sambal tomat.

Di rumahnya di kawasan Brondong, Lamongan, Elly dan keluarga sudah menggelar karpet. Lengkap dengan aneka penganan yang dimasukkan ke stoples-stoples. Mirip Hari Raya Idul Fitri. ”Sudah kayak open house Lebaran memang. Karena pasti keluarga besar dan pihak pemda juga datang semua ke rumah menyambut Memes. Insya Allah mau syukuran kecil-kecilan juga. Sampai kemarin mbahnya ada rencana mau dimandikan air kembang segala,” ungkap Elly, lantas tertawa.

Memes memilih menghabiskan hari pertamanya di Lamongan kemarin dengan nyekar di makam ibundanya. Dia ingin mengabarkan bahwa dirinya sehat. Tidak kekurangan suatu apa pun. Di atas pusara ibunya, Memes juga berdoa. Dan tentu saja mengucap syukur tak berkesudahan. Sebab, dia akhirnya bisa pulang setelah perjalanan panjang dari Wuhan, lalu dikarantina 14 hari di Natuna.

Memes mengaku tidak akan pernah melupakan masa karantina selama 14 hari di Natuna. Bagi dia, itu adalah pengalaman hidup yang sulit dilupakan. ”Di sana semuanya sudah seperti keluarga besar. Sama TNI setiap hari diajak senam, yel-yel santai. Kebersamaannya juga sangat terasa. Ngantre makan, ngantre mandi, semuanya barengan,” kenangnya. Terlebih, menjelang perpisahan dengan keluarga besar di Natuna, dia menghibur mereka semua dengan melantunkan lagu-lagu dangdut. Semua bergoyang dan bergembira.

Selama berada di Wuhan, ketika merebak Covid-19 alias virus korona, Memes mengakui bahwa dirinya diselimuti rasa waswas. Namun, dia berusaha meredam kekhawatiran itu dengan memperbanyak doa. Dia menyugesti diri dengan pikiran-pikiran positif. Dukungan keluarga lewat video call setiap hari menjadi penenteram sendiri baginya.

Sebagai WNI yang ikut dikarantina, Memes juga tak luput dari bully alias perundungan. Dia bahkan pernah menerima direct message (DM) di akun Instagram-nya. Isi kalimatnya kurang lebih begini, ”Cukup namamu saja yang pulang ke Brondong, nggak usah orangnya, nanti nyebar virus. Nyusahin pemerintah saja.” Sedih, tentu saja. Namun, dia sadar, ujaran semacam itu akan semakin tidak sehat untuk mentalnya kalau dimasukkan ke hati.

Namun, tidak semua netizen mengiriminya dengan kalimat perundungan. Ada juga beberapa yang iseng merayu. ”Ada yang bilang begini: nggak usah pulang ke Lamongan, pulang ke hatiku saja,” ungkapnya.

Beruntung, tetangga sekitar rumahnya tak menunjukkan antipati. Mereka justru bersikap biasa dan malah menyambutnya sebagai warga kampung yang baru pulang dari perantauan. Beberapa tetangga Memes melontarkan guyonan. Mereka mengatakan bahwa sekarang desa mereka punya artis dadakan yang terkenal sampai masuk TV. Hal itu membuatnya terhibur. Ke depan perempuan 22 tahun itu ingin kembali menjalani hidup seperti biasa. Seperti sediakala.

Melakoni berbagai kesibukan seperti mengajarkan bahasa Mandarin untuk siswa SMA di Lamongan. Jika ada kesempatan, perempuan 22 tahun itu juga tertarik menjajal dunia media.

Lain lagi kisah Kepala Pusat Krisis Kementerian Kesehatan dr Budi Sylvana. Dia berhasil menyelesaikan tugas menjemput 238 WNI di Provinsi Hubei, Tiongkok. Budi juga termasuk salah seorang yang diobservasi di Natuna.

Budi tampak semringah ketika ditemui Jawa Pos di salah satu restoran di Bandara Halim Perdanakusuma Sabtu malam. Budi tiba paling akhir dari Natuna. Ada tiga pesawat milik TNI yang mengangkut seluruh peserta observasi. Pesawat pertama landing pukul 15.24. Sedangkan pesawat yang ditumpangi Budi mendarat pukul 20.32. Berbeda dengan sebelumnya, pesawat itu tak disambut pejabat. Awak media pun tidak ramai.

Dia tampak lebih santai jika dibandingkan dengan waktu mau berangkat ke Hubei pada 1 Februari lalu. Jawa Pos yang menemuinya saat upacara pelepasan waktu itu sempat melihat ekspresi ketegangan di wajah Budi. Dia terlihat begitu menghayati setiap doa yang diucapkan. Doa yang dibacakan di ruang VIP Terminal 1 A Bandara Soekarno-Hatta itu tentang keinginan agar tim penjemput WNI bisa kembali dalam kondisi sehat. Waktu itu persiapannya cenderung singkat. Budi baru diberi tugas untuk berangkat pada Jumat (31/1) pukul 14.00. Selanjutnya, dia harus menyelesaikan rapat-rapat persiapan. Dia baru menyelesaikan rapat persiapan penjemputan dengan seluruh tim Kemenkes pada Sabtu dini hari. Waktu persiapan dan tidurnya hari itu tak banyak.

Sebelumnya, dia juga harus menemui pilot dan pramugari yang terlibat dalam penjemputan tersebut. Total ada 15 orang yang harus diyakinkan bahwa misi itu aman asalkan tertib aturan. ”Padahal, saat itu saya takut juga,” ceritanya.

Pukul 13.00 pesawat Batik PK-LDY sudah harus berangkat ke Wuhan, ibu kota Hubei. Penerbangan ke Wuhan bukanlah perjalanan singkat. Mereka baru sampai bandara setempat pada pukul 19.00 waktu setempat. Nyalinya sempat menciut ketika melihat bandara yang terang benderang karena lampu, tapi sepi aktivitas. Budi menggambarkan saat melihat keluar melalui jendela, dirinya seolah berada di film-film zombi. Mencekam.

Saat itu peraturannya adalah pintu pesawat baru boleh dibuka saat semua sudah boarding. Sebelum itu, seluruh tim penjemput, termasuk Budi, harus tetap di dalam pesawat. Kondisi tersebut berlangsung hingga pukul 01.00. ”Begitu pintu dibuka, angin masuk, langsung kepikiran kalau virusnya masuk gimana,” tuturnya.

Kekhawatiran itu makin menjadi ketika dikabarkan ada tiga orang WNI yang tidak bisa ikut pulang karena sakit. Meski mengenakan ’baju minion’, sebutan Budi untuk baju alat pelindung diri (APD), dia tetap khawatir. Dia sebenarnya yakin bahwa 238 WNI dan 5 tim aju (pendahulu) yang ikut dalam penerbangan pulang malam itu dalam kondisi sehat. Meski demikian, masih saja ada kekhawatiran.

Selama penerbangan kembali ke tanah air, dia tak membuka baju APD-nya. Konsekuensinya, dia harus menahan lapar dan haus selama perjalanan. Selain itu, hasrat buang air pun tidak ditunaikan. Sebisa mungkin tak membuka baju APD. ”Kalau yang dari Hubei memakai masker saja,” ungkapnya.

Sesampai di Indonesia, mereka harus transit di Batam dan pindah menggunakan pesawat TNI. Di sana pun Budi belum melepas APD. Tim karantina masuk untuk melihat suhu seluruh penumpang, termasuk awak kabin. Tidak ada yang menunjukkan demam dengan suhu lebih dari 38 derajat Celsius. Mereka diperbolehkan keluar pesawat satu per satu lewat pintu tengah depan sayap. Di luar pesawat sudah ada petugas karantina yang menyambut dengan menyemprotkan cairan disinfektan. Harapannya, tidak ada virus yang ikut.

Sekitar pukul 12.00 WIB pesawat mendarat di Pangkalan Terpadu TNI di Natuna. Di situlah seluruh tim penjemput melepas baju APD. Masa selanjutnya adalah karantina. ”Saya harus ikut karantina selama 14 hari sesuai standar operasional WHO,” ungkapnya.

Hari-hari awal merupakan yang paling berat. Sebab, mereka harus menyesuaikan diri. Sebanyak 285 orang yang diobservasi harus mengikuti kegiatan yang ada. Salah satunya adalah pemeriksaan rutin untuk mengetahui kondisi tubuh.

Bagi petugas seperti Budi, masa observasi bukan untuk bersantai. Selain memastikan kondisi semua peserta sehat, mereka harus memastikan kenyamanan peserta. Kebutuhan logistik hingga kebersihan lingkungan pun diperhatikan. Akibatnya, dia tidur paling larut dan bangun paling pagi.

Bagi Budi, yang terberat adalah membangkitkan semangat 238 orang yang sebelumnya tinggal di Hubei. Sebagian di antara mereka khawatir jika kembali ke rumah akan mendapatkan diskriminasi. Bahkan, dia dicurhati tentang netizen yang menghujat WNI yang baru pulang dari Hubei. Komentar negatif maupun berita yang memojokkan membuat sebagian peserta sampai stres. ”Ada yang sampai sesak napas, lalu kami bawa ke rumah sakit yang ada di tempat observasi,” tuturnya.

Karena itu pula, akses informasi ke dunia luar ditutup untuk sementara. Peserta diberi kesibukan lain sehingga waktu untuk berselancar di dunia maya lebih sedikit.

Budi pun merasakan adanya nyinyiran dan berita bohong mengenai penanganan selama observasi. Untuk menangkalnya, dia berinisiatif membuat video. ”Saya ini tidak pernah buat film sebelumnya. Jadi, buatnya ya seadanya, nggak ada skenario,” ungkapnya.

Video pertama yang dikirimkan Budi adalah kabar soal kondisi peserta karantina yang sehat. Dia ingin menunjukkan bahwa kondisi mereka baik-baik saja. ”Video pertama ini take beberapa kali karena nggak kedengaran, anginnya kencang,” ucapnya.

Video lain yang dibuat Budi adalah penyemprotan disinfektan ke seluruh bagian ring 1, tempat mereka diobservasi. Dia ingin meyakinkan bahwa benda mati saja diperlakukan agar tetap bersih, apalagi manusia yang ada di dalamnya. Budi ingin memberi tahu bahwa yang di dalam pusat observasi betul-betul dijaga. ”Buat video ini modalnya cuma handphone, sekarang handphone saya full memorinya,” selorohnya.

Di tempat itu Budi juga harus menahan hobinya bersepeda setiap pagi. ”Di sana paling cuma lari. Satu dua orang yang ikut,” ungkapnya. Namun, mulai kemarin Budi sudah bisa melanjutkan hobinya. Bahkan, saat Jawa Pos menanyakan apa yang dilakukannya di hari pertama, dia menjawab akan bersepeda.(cr04/c10/oni/jpg)

 





BERITA BERIKUTNYA
loading...