Mereka yang Bertarung Melawan Covid-19 dan Berhasil Sembuh, Keluarga Jadi Motivasi Lewati Masa Krit

Selasa, 07 April 2020 | 00:05:43 WIB

PANTANG MENYERAH: Yunan Helmi di ruang isolasi RSUD Ulin, Banjarmasin. (YUNAN HELMI FOR JAWA POS)
PANTANG MENYERAH: Yunan Helmi di ruang isolasi RSUD Ulin, Banjarmasin. (YUNAN HELMI FOR JAWA POS) ()
 
 

Dari ruang isolasi, Yunan Helmi mengabarkan kondisinya sudah sangat baik. Kenangan bersama keluarga, ingatan tentang pertandingan yang pernah dijalani, melipatgandakan motivasi asisten pelatih Barito Putera itu melewati masa kritis.

DEMAM tinggi kembali menyelimuti tubuh Yunan Helmi. Kali ini disertai rasa gatal di tenggorokan. Mirip gejala orang yang terpapar virus korona baru.

Asisten pelatih Barito Putera itu berusaha menguasai diri. Menenangkan pikiran. Dan, yang awal tebersit dalam benaknya adalah kesehatan keluarganya. Juga, keselamatan orang-orang yang dicintai.

 

Dia pun bergegas pergi ke Rumah Sakit Suaka Insan, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tempat sehari sebelumnya dia pulang dari sana.

Lagi-lagi, kesehatan keluarga dan keselamatan orang-orang yang dicintai yang menyembul kali pertama ketika dokter menyarankannya untuk diisolasi.

”Dengan kesadaran penuh, saya langsung menerima saran dokter tersebut,” kata Yunan.

Pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur, itu pun langsung ”dilarikan” ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin, Banjarmasin. Rumah sakit rujukan itu telah menyiapkan ruang isolasi untuk menangani pasien yang terpapar virus korona penyebab Covid-19.

 

”Saat ini saya masih di ruang isolasi. Saya di sini sejak 14 Maret,” ucap dia saat kami berbincang lewat telepon Sabtu siang (4/4).

Sebelum jatuh sakit lagi dan harus dirawat di ruang isolasi, Yunan sempat sepekan menjalani perawatan di RS Suaka Insan. Saat itu Yunan demam tinggi. Awalnya dokter mendiagnosis laki-laki 45 tahun tersebut terserang demam berdarah.

Sebab, trombositnya turun. Diagnosis itu sama persis dengan diterimanya saat periksa di klinik dekat mes Barito di Banjarbaru.

Sepekan Yunan mendapat perawatan. Trombositnya naik. Kondisinya kembali stabil. ”Saya diizinkan pulang. Tapi, baru sehari di rumah, saya demam tinggi lagi,” ungkapnya.

Yunan kali pertama merasakan demam dua hari sepulang dari Madura. Atau tiga hari selepas Barito dijamu Madura United pada 29 Februari 2020.

Mantan asisten pelatih timnas U-23 tersebut sempat mengira itu demam biasa. Namun, ketika laga Barito kontra Bali United digelar di Stadion Demang Lehman, Martapura, pada 6 Maret 2020, demamnya makin tinggi.

Meski demikian, Yunan memutuskan tetap ikut mendampingi tim. ”Baru setelah pertandingan saya periksa ke klinik dekat mes. Trombosit saya turun,” ujarnya.

Di ruang isolasi, Yunan seperti kembali ke masa-masa dia bermain. Dimulailah ”90” menit pertarungan menghadapi lawan berat: penyakit Covid-19 yang dipicu virus SARS CoV-2.

Hanya, kali ini dia harus menjalani semuanya sendiri. Tak ada yang boleh menjenguk dan setiap hari hanya bersua dokter serta perawat. Juga, cuma bisa menatap dinding-dinding putih ruang isolasi.

Kondisi Yunan sempat kritis. Bukan sehari dua hari. Tapi, empat hari. ”Tanggal 14, 15, 16, 17 Maret saya benar-benar tak berdaya. Seperti tak memiliki tenaga sama sekali,” ungkapnya.

Lawan menggempur dengan hebat. Yunan seperti berada di posisi ada dan tiada. Sekujur tubuhnya demam. Napasnya tersengal-sengal. Sudah begitu, batuk pula. Jarum infus harus ditancapkan di lengan. Alat bantu pernapasan terpasang di hidungnya.

Dalam masa-masa kritis tersebut, Yunan selalu merapalkan doa yang sama: ”Tuhan, jika saya harus mengalami penyakit ini (Covid-19), saya akan menerimanya. Dan jika Engkau memberikan kesembuhan, saya akan berusaha untuk sembuh.”

Di saat masih dalam kondisi kritis, hasil tesnya keluar. Yunan dinyatakan positif menderita Covid-19. Seketika itu juga bayangan kelam melintas: dia bakal ”kalah” dalam laga melawan penyakit yang memang telah merenggut begitu banyak nyawa di berbagai penjuru dunia itu.

Namun, laki-laki yang semasa aktif menjadi pemain begitu lekat dengan kostum Barito tersebut tak mau rasa panik menguasai dirinya. Sebab, dia tahu itu hanya akan membuat imunnya makin turun. Yang berarti perjuangannya untuk sembuh bakal kian sulit.

Yunan memilih berpikir positif. Mengenang memori indah yang pernah dilaluinya. Kenangan-kenangan bersama istri dan kedua anaknya terus dihadirkan dalam pikirannya untuk menemani di masa kritis. Yunan memanggil kembali bayangan senyum manis sang istri dan tawa kedua buah hatinya.

Ingatan tentang perjalanannya di lapangan hijau juga dipanggilnya kembali. Masa-masa kala dirinya yang berposisi bek tengah menghentikan laju penyerang-penyerang lawan yang hendak masuk pertahanan Barito diingat-ingatnya kembali.

Dengan cara itu, Yunan ingin menegaskan kepada diri sendiri, ketika tantangan di lapangan bisa ditaklukkan, masa kritis di rumah sakit juga pasti bisa dilewati. ”Semua itu membuat motivasi saya untuk sembuh berlipat ganda,” ujarnya.

Yunan pun merasa mendapat mukjizat ketika masa kritis bisa dia lewati. ”Pada hari ketujuh di ruang isolasi, alat bantu pernapasan sudah dilepas. Tiga hari kemudian, slang infus dilepas.”

Begitu kondisinya makin membaik, Yunan langsung mengabarkannya kepada keluarga, juga para kolega. Pada 29 Maret, Yunan juga membalas pesan yang dikirim Jawa Pos hari sebelumnya.

”Keluarga pasti khawatir. Karena itu, begitu kondisi saya sudah membaik, saya langsung membagi kabar saya. Apalagi, saya juga sangat merindukan mereka,” ujarnya.

Itu juga cara dia ”membunuh” waktu dan rasa bosan karena begitu lama sendirian di ruang isolasi. Karena itu pula, Yunan begitu bungah ketika ada yang menyapanya lewat telepon. Selasa pekan lalu (31/3), Jawa Pos berbincang setengah jam dengan mantan penggawa timnas junior itu.

Seperti dikatakan Yunan, sepanjang pembicaraan, Jawa Pos merasakan bahwa napas pria yang pernah menjadi pelatih kepala Barito itu sangat teratur. Tak lagi tersengal-sengal.

Yunan juga tak sekali pun batuk. Sabtu siang lalu (4/4) dia mengirim video berdurasi 59 detik. Isinya, Yunan yang mengenakan kostum Barito sedang melakukan olahraga di ruang isolasi. Wajahnya terlihat sangat segar.

”Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada keluarga, teman-teman, dan keluarga besar Barito atas dukungannya,” katanya.

Yunan juga mengirim pesan kepada semua orang agar tak menyepelekan persebaran virus korona. Imbauan untuk menjaga kebersihan, jaga jarak, dan social distancing harus diikuti.

”Jangan menyepelekan, tak perlu merasa kuat. Para pesepak bola yang sehari-hari bergelut dengan olahraga seperti Paulo Dybala saja bisa terkena virus ini,” kata dia menyebut bintang Juventus itu sebagai contoh.

Meski begitu, masyarakat juga tak perlu panik. Begitu juga yang dinyatakan positif. ”Tetap tenang. Itu sangat membantu,” pesannya.

Hari ini, ”90 menit” pertarungan segera berakhir. Yunan dijadwalkan menjalani tes swab. Dia sangat berharap hasilnya negatif. Agar dia resmi menjadi ”pemenang” dalam duel melawan Covid-19.

”Saya ingin berkumpul dan melihat senyum serta tawa istri dan anak-anak. Apalagi, dari hasil tes, istri dan anak saya sudah dinyatakan negatif,” katanya.(disalin dari jawapos.com)





BERITA BERIKUTNYA
loading...