Para Wanita Karir di Tengah Pandemi Covid-19

Minggu, 03 Mei 2020 | 21:21:03 WIB

()

Pandemi Covid-19 membuat para wanita karir di Surabaya menghabiskan banyak waktu di rumah. Meskipun demikian, mereka tetap dituntut untuk produktif. Termasuk dalam kegiatan bakti sosial. Banyak suka dan duka yang mereka rasakan selama di rumah saja.

WAHYU ZANUAR BUSTOMI, Surabaya


JAMBIONE.COM, Aktivitas tambahan kini harus dilakukan Dwi Santi. Jika sebelumnya sibuk soal pekerjaan, vice president salah satu bank asing itu sekarang justru bergelut dengan urusan rumah. Mulai mengepel, mencuci, hingga memastikan meja makan di rumah terisi makanan. Semua itu dilakukan setelah asisten rumah tangga (ART)-nya mudik lebih awal.

Kepulangannya dari Inggris pada Maret lalu membuat dia harus memulangkan satu ART dan sopir pribadi. Bukan untuk dirumahkan, melainkan guna mencegah persebaran Covid-19. Sebab, saat itu Santi harus menjalani karantina mandiri. ’’Mereka tetap kami gaji kok,’’ ucapnya kemarin siang (2/5).

Tanpa ART, kesibukan Santi di rumah meningkat.

Bahkan terasa sejak pagi. Apalagi saat Ramadan seperti sekarang. Bangun pukul 03.00 WIB, dia lantas salat Tahajud dan menyiapkan sendiri sahur keluarga. Begitu pun sesudahnya. Semua peralatan makan dipastikan bersih sebelum bergeser untuk pekerjaan lainnya.

Di sinilah profesionalitasnya diuji. Meski WFH, urusan pekerjaan disiapkan sejak pagi. Pukul 07.00 WIB, biasanya dia memeriksa jaringan internet. Maklum, internet menjadi faktor utama dalam memantau perkembangan kantor. Termasuk untuk koordinasi dengan pimpinan dan berdiskusi bersama para staf.

Rasa bosan jelas dialami. Apalagi, semua urusan rumah harus ditangani. Untung, suami dan anak-anak ikut membantu. Bahkan, kini pekerjaan kerumahtanggaan itu dibagi-bagi. Misalnya, Santi ngepel, lalu suami dan anak-anaknya menyemprotkan disinfektan. Setiap pagi, dia juga harus mengecek suhu tubuh keluarganya. Memastikan apakah ada yang demam atau tidak.

Untuk membunuh rasa bosan, perempuan kelahiran Malang tersebut punya cara sendiri. Yaitu, mengadakan challenge dengan para staf. Misalnya, membuat fruit carving dan telur mata sapi. Semuanya dilakukan via online. Selain membunuh rasa jenuh, langkah itu dapat menjalin keakraban. Apalagi, sudah lama dia tidak bertemu langsung.

Tapi, menurut Santi, keluarga sangat berpengaruh. Sebab, sejak WFH, quality time bersama keluarga lebih banyak. Sebelumnya, semua direpotkan dengan kesibukan masing-masing. ’’Kami mengambil positifnya. Mungkin ini saat yang tepat bersama keluarga,’’ ungkapnya.

Bukan hanya sebagai pimpinan sebuah bank, Santi juga aktif dalam kegiatan sosial. Situasi pandemi serta gejolak ekonomi di masyarakat membuat dia harus sering turun lapangan. Mulai membagikan masker, sembako, hingga melakukan sosialisasi kepada ibu-ibu yang berjualan keliling. Menurut dia, waspada terhadap Covid-19 boleh. Tapi tidak dijadikan ketakutan yang berlebih. ’’Ambil positifnya dan kita syukuri itu,’’ jelasnya.

Perasaan yang sama dialami Amelia Salim. Hanya, ART beserta sopir pebisnis itu tidak mudik. Nah, untuk mengatasi rasa kangen mereka, dia membelikan smartphone canggih. Tujuannya, para pembantunya bisa melakukan video call dengan keluarga di kampung. ’’Mereka sudah paham. Pada enggak mau pulang, takut membawa virus ke desanya,’’ ucapnya.

Kebosanan juga menghampiri Amelia. Apalagi, Covid-19 membuat geraknya terbatas. Keinginan hang out pun tak bisa dipenuhi. Terlebih ketika pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) seperti sekarang. Meski begitu, dia selalu mengambil sisi positifnya.

Sebab, dia justru merasa hangatnya quality time bersama keluarga. Meskipun, tak dimungkiri saat pagi dia kerap bingung mau melakukan apa.

Untuk mengatasi kebosanan, Amelia sering memanfatkan tutorial yoga di YouTube. Sejak WFH, dia merasa aktivitas olahraganya justru rutin. Jika sebelumnya hanya seminggu sekali, sekarang bisa setiap hari dilakukan di rumah. ’’Yang jelas, waktu untuk keluarga sekarang lebih banyak,’’ terangnya.

Selain itu, bersama teman-temannya, dia membuat aransemen lagu. Semuanya dilakukan melalui online. ’’Jadi, kita semua menyanyi di rumah masing-masing. Nanti ada yang bagian menggabungkan dan dijadikan satu dalam video,’’ ujarnya. Cara itu dilakukan untuk mengurangi kejenuhan di rumah.

Apalagi, pandemi Covid-19 berdampak pada bisnisnya di sektor perminyakan. Meski begitu, dia selalu mengambil hikmahnya. Bahkan melihat dinamika yang terjadi. Khususnya bagi masyarakat yang terdampak. Dia dan kelompoknya justru lebih sering melakukan bakti sosial. Jika sebelumnya hanya tiga bulan sekali, sekarang bakti sosial bisa dilakukan sebulan sekali, bahkan lebih.

Amelia dan Santi berharap pandemi Covid-19 segera berlalu. Dengan begitu, perekonomian warga kembali pulih.(*)

Sumber: JawaPos.com




BERITA BERIKUTNYA
loading...