Cerita Mereka yang Melanggar Larangan Mudik dengan Berbagai Cara

Minggu, 10 Mei 2020 | 13:10:56 WIB

()

Masih ada agen travel yang menawarkan jasa pengantaran mudik dari Jakarta ke berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Trik melewati penyekatan beragam: mulai menumpang mobil boks sampai lewat jalur tikus.

ILHAM D. WANCOKO, Jakarta, Jawa Pos


JAMBIONE.COM, NAIK truk sayur, ada. Sembunyi di bus yang dimatikan lampunya? Ada. Naik mobil yang ditumpangkan truk towing? Itu juga ada.

Itulah sebagian cara mereka yang masih nekat di saat larangan mudik -yang menurut Presiden Jokowi beda dengan pulang kampung, by the way– dikampanyekan di mana-mana demi mencegah penularan virus korona.

Mulai pusat sampai daerah. Yang diikuti penyekatan di berbagai titik.

Sekali lagi, itu baru sebagian trik. Masih ada yang berusaha sembunyi dalam kontainer. Ada pula yang pura-pura beristirahat di minimarket.

Sejauh ini sudah sekitar 35 ribu kendaraan, baik berpelat umum maupun pribadi, yang diminta putar balik oleh polisi. Kapok? Oh, tentu tidak. Masih saja ada agen travel yang menawarkan jasa mengantarkan mudik ke Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, dan sejumlah wilayah di Sumatera.

Lewat Facebook, misalnya, Jawa Pos mendapati sebuah agen travel yang menawarkan jasa seperti itu. Siap mengantarkan mudik ke berbagai kota di Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur.

”Mau kapan? Nanti malam juga ada,” kata admin agen travel tersebut saat dihubungi Jawa Pos yang berpura-pura mencari tiket ke Brebes, Jawa Tengah, melalui WhatsApp Rabu lalu (6/5).

Tiketnya, kata si A, admin tersebut, seharga Rp 450 ribu. Harga itu lebih mahal dua kali lipat dari biasanya. ”Yang pasti sampai ke kota tujuan,” jelas si admin yang menolak ditelepon dan minta dikontak lewat WhatsApp saja itu.

Selain Brebes, agen travel tersebut juga melayani pengantaran ke Tegal, Pemalang, Pekalongan, dan Batang. Semua kota-kota di pantai utara Jawa Tengah.

Apakah yakin bisa lolos penyekatan polisi? Admin tersebut berusaha meyakinkan bahwa sudah banyak armadanya yang tembus penyekatan. ”Rutenya bergantung sopirnya,” paparnya.

Bahkan, untuk menghilangkan keraguan, admin tersebut mengirimkan screenshot. Dalam tangkapan layar itu terdapat pembicaraan antara dia dan seorang penumpang. Singkatnya, penumpang sudah sampai di kampung halaman. ”Ini bukti perjalanan,” jelasnya.

Bagaimana bila nanti disuruh putar balik oleh polisi? Dia langsung menjawab pasti aman. ”Armadanya punya anggota (kepolisian, Red),” kata dia, lalu meminta formulir perjalanan diisi.

Di hari keberangkatan yang ditentukan, seseorang dengan nomor yang berbeda menghubungi Jawa Pos. Dia meminta lokasi penjemputan.

Saat Jawa Pos akhirnya membatalkan pesanan tiket, si penelepon tetap berusaha meyakinkan bahwa beberapa mobilnya sudah sampai di tujuan penumpang. ”Satu unit sampai Cirebon, dua unit di Cikampek, dan satu unit masih dalam kota,” tuturnya.

Ketika dimintai konfirmasi kemarin (9/5), Kabag Ops Korlantas Kombespol Benyamin menuturkan, adanya agen travel yang mengklaim bisa menembus sekat karena milik anggota kepolisian tidaklah benar. ”Silakan saja klaim, tapi ya di lapangan kami kandangkan,” paparnya.

Beberapa hari belakangan yang paling marak mencoba menembus merupakan kendaraan travel. Untuk wilayah DKI Jakarta saja, sudah ada 42 kendaraan travel yang ketahuan. ”Karena (kendaraan, Red) travel marak coba menembus, aturan baru dibuat,” paparnya.

Angkutan travel yang ketahuan berusaha menembus tidak diputar balik. Mobil ditahan dan dilakukan pemulangan. ”Mobil travel yang dikandangkan ya semua itu, 42 kendaraan,” katanya kepada Jawa Pos.

Mayoritas pemudik dari Jabodetabek, menurut polisi, mengalir ke Jawa Tengah. Karena itu pula, pengawasan di berbagai pintu masuk provinsi yang dipimpin Gubernur Ganjar Pranowo tersebut sangat ketat.

Di Semarang, kendaraan umum yang hendak masuk ke Kota Lumpia tetap diminta putar balik. Itu implementasi pembatasan kegiatan masyarakat di ibu kota Jawa Tengah tersebut.

”Kami masih memberlakukan pembatasan,” kata Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Semarang Endro P. Martanto kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Beberapa hari lalu sejumlah kendaraan umum pelat luar kota diminta putar balik. Sebab, mereka tidak memiliki tujuan yang jelas. Salah satunya bus nopol K 1589 FW dari Jakarta yang menuju Pati. Kemudian, angkutan travel nopol D 7129 SD dari Bandung yang menuju Solo. Lalu, kendaraan travel nopol G 8524 UK dari Tegal dengan tujuan Kudus.

”Ada pula (angkutan, Red) travel nopol B 7088 WAA dari arah Jakarta dengan tujuan Purwodadi dan mobil pribadi nopol B 2290 SA dari Jakarta menuju Madura,” ujarnya.

Hampir semua kendaraan itu mengangkut pekerja bangunan. Diakui, banyak modus pemudik untuk mengelabui petugas di pos pantau. Salah satunya, memakai jasa transportasi umum. Mulai bus hingga kendaraan travel.

Di Solo sempat ada pemudik dari Semarang dengan tujuan Boyolali yang menumpang di dalam mobil boks. Namun, pemudik itu bisa diketahui setelah polisi mendapat laporan dari masyarakat. ”Dia ke Solo hanya mampir karena sopir mobil boks akan bongkar muat di kawasan Manahan. Setelah itu, kami minta langsung ke Boyolali,” kata Kasatlantas Polresta Surakarta Kompol Afrian Satya Permadi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Di Jakarta, Jawa Pos juga menemukan satu agen travel lain yang menawarkan jasa mudik. Rutenya dari Jakarta ke Lampung.

Modusnya mirip. Saat dihubungi, admin langsung meminta calon pengguna jasa untuk mengisi formulir pendaftaran. ”Diisi dulu,” ujarnya.

Setelah diisi dengan tujuan Lampung dan ditanya kapan bisa berangkat, barulah si petugas agen travel mengatakan bahwa keberangkatan menunggu kapal beroperasi. ”Dalam waktu dekat belum bisa,” urainya.

Berbagai cara, dengan beragam motif, dilakukan untuk bisa sampai ke rumah di kampung halaman. Tapi, di masa pandemi seberbahaya ini, cara terbaik sebenarnya ya tetap di tempat masing-masing. Jangan mudik atau pulang kampung atau apa pun namanya.(*)

Sumber: JawaPos.com




BERITA BERIKUTNYA
loading...