Beda Cerita 2 Penghina Nabi di Bulan Suci

Sabtu, 23 Mei 2020 | 08:28:58 WIB

()

Jambione.com, Jakarta - Ada dua cerita penghina Nabi Muhammad di bulan suci Ramadhan. Keduanya sama-sama menyampaikan hinaan ke Nabi saat mengomentari isu Habib Bahar bin Smith. Bedanya, yang pelaku nomor satu mendatangi kantor polisi, dan pelaku yang nomor dua ditangkap polisi.

Kasus pertama adalah soal perempuan bernama Meilin asal Jonggol, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Dia menghina Nabi lewat media sosial, seraya mengomentari pemberitaan mengenai Habib Bahar bin Smith. Sebagaimana diketahui, Bahar kembali dimasukkan ke bui usai sempat bebas dalam masa asimiliasi. Di berita mengenai Bahar itulah, Meilin menuliskan komentar sambil memberi emoji tertawa.

Kapolsek Jonggol AKP Agus Hidayat menjelaskan polisi mencari keberadaan Meilin sejak Rabu (20/5) malam. Namun, polisi tak menemukan keberadaan perempuan tersebut. Lalu keesokan harinya, Meilin datang ke Polsek Jonggol dengan wajah kusut.

"'Bu kenapa?' 'Pak saya mau minta perlindungan'. 'Minta perlindungan apa? Oh ibu yang bernama ini ya?' Saya cariin dari semalam akhirnya ketemu. Akhirnya sama kita, kita periksa, kita interogasi," kata Agus menceritakan kejadian pada hari Kamis (21/5) itu, kepada wartawan, Jumat (22/5).

Meilin ketakutan. Kepada polisi, sambung Agus, Meilin mengaku datang ke polsek karena mendapat kecaman di media sosial dari postingannya mengenai Habib Bahar bin Smith yang membawa-bawa Nabi Muhammad.

"Iya kecaman itu. Akhirnya dia takut, 'kalau saya pulang ada yang datang nggak ke rumah, ada yang datang nggak ke rumah', begitu. Padahal sih masyarakat yang datang ke rumahnya nggak ada. Cuma perasaan takut," ujar dia.

Agus pun mengatakan Meilin mengakui kesalahannya. Meilin, kata dia, memiliki itikad baik untuk datang ke kantor polisi.

Namun untuk kasus ini dilimpahkan ke Polres Bogor. Agus mengatakan Meilin dibawa ke Polres Bogor sejak Kamis (21/5) kemarin.

Kasus kedua yakni berkaitan dengan seorang pria di Simalungun, Sumatera Utara, namanya Gernal Lundu Nainggolan (31). Lain dengan Meilin, Gernal tidak datang ke kantor polisi, tapi ditangkap polisi.

Pegawai honorer pada Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) itu dinilai telah menista agama lewat akun Facebooknya. Ada tiga postingan pada kolom komentar Facebook yang diduga ditulis Gernal dan berisi penghinaan terhadap Nabi Muhammad hingga Habib Bahar.

"Terjadi penistaan terhadap salah satu agama yang diakui, yaitu agama Islam melalui medsos FB yang diketahui bernama GN pekerjaan pendamping desa Bosar Maligas," kata Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Tatan Dirsan Atmaja, Jumat (22/5).

Tatan mengatakan Gernal diamankan berdasarkan laporan nomor LP/42/V/2020/SU/Simal-Dagang pada Kamis (21/5). Gernal sempat dibawa ke Kantor Camat Perdagangan untuk dimintai klarifikasi.

Tatan belum menjelaskan status hukum Gernal. Dia mengatakan polisi masih melakukan pemeriksaan terkait kasus ini.(detikcom)

Sumber: detikcom




BERITA BERIKUTNYA
loading...