Hari ini, Golkar, PDIP, Gerindra, PBB dan Hanura Bertemu Bahas Pilkada Tanjabtim

Tiga Daerah Berpeluang Kotak Kosong

Senin, 29 Juni 2020 | 06:51:31 WIB

(ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI - Tiga dari lima daerah yang ikut melaksanakan Pilkada serentak 2020 berpeluang hanya satu paslon alias lawan kotak kosong. Pasalnya, sejauh ini hanya satu paslon saja yang menggema menuju ajang paling bergengsi lima tahunan nanti.

Ketiga daerah tersebut adalah, Pilbup Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Pilbup Bungo, dan Pilwako Sungai Penuh. Hingga saat ini tidak terlihat siapa lawan dari para calon petahana tersebut.

Pilbup Tanjabtim, petahana Romi Haryanto - Robby Nahliyansyah maju lewat jalur independen. Padahal mereka semua adalah kader PAN yang punya 17 kursi. Sebenarnya, bakal lawannya dari awal sudah ada yang muncul. Seperti Rasyid, Meidrin Joni, dan Aynur Ropik. Namun itu hanya sebatas gaungan saja, tidak terlihat keseriusan untuk maju.

Kemudian, di Pilbup Bungo, petahana Mashuri kembali berpasangan dengan Safrudin Dwi Apriyanto, kader PAN dan PKS. Mereka berdua hingga saat ini terlihat tidak ada lawan. Sebelumnya ada nama Ridwan Ibrahim yang dianggap kuat untuk melawan petahana. Hanya saja di petengahan jalan Ridwan memutuskan mundur. Beberapa orang yang lain juga serasa menghilang dari pencalonan.

Lalu, di Pilwako Sungai Penuh, ada mantan Ketua DPRD Sungai Penuh Fikar Azami yang merupakan anak Asafri Jaya Bakri (AJB), Walikota Sungai Penuh. Pasangannya adalah Yos Adrino, kader PAN. Mereka juga ada banyak lawan seperti Zulhelmi yang merupakan petahana, Pusri Amsi, dan juga Ahmadi Zubir. Namun, hingga saat ini belum ada tanda-tanda kepastian maju dan mendapat dukungan partai.

Pengamat Politik Dori Efendi menilai, tiga daerah ini memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Namun, memang calon yang muncul saat ini bisa dibilang terlalu kuat untuk dilawan. Tanjabtim misalnya. Menurut Dori, pasangan Romi - Robby memang sangat sulit untuk dilawan. Karena asal partai mereka adalah PAN yang saat ini menguasai lebih 50 persen kursi di DPRD.

“Apalagi saat mendaftar lalu, pasangan ini diantar 18 anggota DPRD. Termasuk DPRD Provinsi dapil Tanjabbar - Tanjabtim. Itu artinya dukungan terhadap pasangan ini sudah klop. Juga pasangan ini perwakilan dari suku Melayu dan Bugis. Kita semua tahu bahwa Bugis adalah mayoritas di Tanjabtim,” katanya.

Untuk Pilbup Bungo juga terjadi politik etnik. Pasangan Mashuri dan Safrudin Dwi Apriyanto ini merupakan perbaduan pasangan yang klop. Yaitu antara Melayu dan Jawa. Suku Jawa sudah menjadi basis tersendiri di daerah Bungo. Mashuri sangat piawai mengambil hati pendukung dari basis Bupati Bungo sebelumnya.

"Lawan dari awal sangat banyak muncul. Namun belakangan seperti menghilang. Ditambah lagi ada Ridwan Ibrahim yang dianggap sangat bisa melawan petahana karena bagian dari keluarga Gubernur Jambi. Nyatanya juga ikut mundur dari pencalonan," ujarnya.

Sungai Penuh yang terjadi dan dipahami semua orang adalah politik dinasti. Pengaruh Asyafri Jaya Bakri (AJB) begitu kuat mempertahankan basisnya. Ditambah lagi Fikar Azami punya suara hampir di 9 kecamatan di Sungaipenuh dan merata. Jadi sulit mencari lawan tanding.

“Jadi ketika ada yang ingin maju, pastinya harus berpikir ulang dan benar- benar matang. Meski begitu, peta politik bisa saja berubah. Politik sifatnya dinamis, sebelum pengesahan dari KPU maka apapun bisa berubah,” tandasnya. 

Sementara itu, santer kabar yang menyebutkan, hari ini, Senin (29/6) sejumlah partai politik di DPRD Tanjabtim, seperti Golkar, PDI Perjuangan, Gerindra, PBB dan Hanura akan mengadakan pertemuan untuk menyatukan suara dalam mengusung Rasyid di Pilkada Tanjabtim Desember mendatang.

Ketua DPD II Partai Golkar Tanjabtim, Juber, ketika dikonfirmasi tak menampik akan ada pertemuan. Namun ia mengatakan pertemuan itu hanya sebatas pertemuan biasa. "Kalau deklarasi tidak ada. Karena kalau deklarasi itu jika rekomendasi dukungan partai telah kita terima. Jadi memang ada rencana pertemuan besok (hari ini, red), tapi hanya untuk menyatukan komitmen bersama," kata Juber, Minggu (28/6) kemarin.

Lebih lanjut, anggota DPRD Provinsi Jambi ini mengatakan pertemuan tersebut ingin menyatukan pendapat. Tapi belum mengarah kesepakatan untuk langsung mengusung. "Kita ingin saling mendengarkan pendapat dengan teman-teman. Karena figur yang kita usung ini adalah tanggung jawab kita bersama. Kita bukan hanya terget menang. Tapi kalau nantinya menang bagaimana memajukan Tanjabtim ini," jelasnya.

Ia menambahkan, pertemuan dilakukan untuk menyatukan sikap antar Parpol di Tanjabtim apakah akan mengusung calon, karena sama-sama tidak bisa mengusung calon kalau sendiri. "Kami (Parpol) mengadakan pertemuan untuk memastikan apakah iya tidak mengusung calon. Karena kalau kita sama-sama berpencar tidak ada cukup untuk mengusung calon sendiri. Yang ada nanti malah musuh kotak kosong," jelasnya.

"Kalau sampai tidak ada yang kita usung dan dicalonkan, dimana marwah partai? Tanjabtim ini banyak orang pintar. Yang penting saat ini adalah komitmen terlebih dahulu. Itulah yang melandasi pertemuan kami besok," tukasnya.

Sementara itu, Rasyid ketika dikonfirmasi tak banyak berkomentar. Dia mengaku belum tahu tentang pertemuan hari ini. "Saya belum mengetahui pertemuan itu. Informasi juga belum di dapat," ujarnya.

Untuk diketahui, pada Pileg 2019 yang lalu di Tanjab Timur PAN meraih sebagai pemenang dengan perolehan 17 kursi, Golkar 4 kursi, PDI Perjuangan 3 kursi, Gerindra 2 kursi, NasDem 2 kursi, Hanura 1 kursi dan PBB 1 kursi.

Dari Sungai Penuh dilaporkan, pasangan Fikar Azami-Yos Adrino akhirnya mendapatkan penantang kuat di Pilwako Sungai Penuh. Duet Pusri Amsy-Alvia Santoni memastikan bakal ikut berkompetisi dalam perebutan BH 1 RZ mendatang. Pusri Amsy mempunyai latar belakang birokrat. Sementara Alvia Santoni berlatar belakang akademisi. Dia merupakan Ketua STIE Sakti Alam Kerinci, Kota Sungai Penuh.

Heldi Efendi, tim keluarga Pusri Amsy menegaskan, pasangan ini siap berlayar untuk memenangkan Pilwako Sungai Penuh. Saat ini, dia mengklaim jika sudah mengantongi dukungan parpol untuk maju sudah cukup.

"Kami sudah siap berlayar, sudah cukup. Dalam minggu depan kita sedang intens komunikasi dengan Nasdem. Insya Allah minggu depan rekomendasi turun dari nasdem. Partai sudah siap berlayar. Ada 7 kursi yang mendukung kita. Sudah memenuhi syarat minimal hanya 5 kursi untuk maju. 7 kursi ini belum termasuk Nasdem," sebutnya.

Dia menyebut, berdasarkan survei dari Komunika Reserach Center, pasangan Pusri Amsy-Alvia Santoni hanya terpaut satu persen dari pasangan Fikar-Yos. "Menurut survei Komunika research center periode 1 Januari- 20 Juni, Pusri Amsy-Alvia Santoni perpaduan antara birokrat dan juga akademisi hanya terpaut satu persen. Pasangan Pusri-Alvia 23 persen. Sementata Fikar Azami-Yos Adrino 24 persen," sebutnya.

Kemudian di bawah itu, sebut dia, ada pasangan Ahmadi Zubir-Hardizal, 13 persen. Lalu Zulhelmi-Arpensa Salam 10 persen. "Yang tidak menyatakan sikap 30 persen," tandasnya.(fey) 





BERITA BERIKUTNYA
loading...