Dokter yang Menangani Ratusan Pasien Covid-19

Sehari Pulang, Dapat Surat Pemberitahuan: Tidak Ada Dokter Pengganti

Sabtu, 04 Juli 2020 | 15:43:11 WIB

()

Ada 193 pasien dengan status OTG yang tengah dia tangani, 600 lainnya sudah berhasil sembuh. Kisah-kisah yang dihadapi demikian beragam: dari yang hendak bunuh diri sampai yang keguguran karena stres.

MUCHLIS ABDULLAH, Makassar, Jawa Pos


PEREMPUAN itu mengancam untuk bunuh diri. Di tangannya sudah tergenggam erat sebilah pisau.

Hotel Harper, Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tempat perempuan itu menjadi peserta duta wisata Covid-19, tentu saja gempar. Tak lama berselang, dr Sugih Wibowo datang untuk membujuk.

Dia bernegosiasi agar pasien tersebut tidak ceroboh melukai dirinya. Tapi, perempuan tersebut tak langsung ”menyerah”. Dibutuhkan waktu beberapa jam hingga akhirnya dia berhasil ditenangkan dan dipertemukan dengan sang suami.

”Saya yang hadapi langsung. Itu pisau sudah hampir diiris ke tangannya dan tidak mau dia lepas jika tak ada suaminya,” kata Sugih kepada Fajar, mengisahkan salah satu kejadian selama menjadi dokter penanggung jawab pasien Covid-19 yang diisolasi di Hotel Harper.

Sugih merupakan dokter yang bertanggung jawab untuk peserta duta wisata Covid-19 khusus di Hotel Harper. Sejumlah hotel di Makassar punya dokter masing-masing yang melayani pasien dalam status orang tanpa gejala (OTG) yang berasal dari seluruh kabupaten di Sulsel. Sugih kembali mengisahkan cerita tersebut untuk menunjukkan begitu banyak kisah dan liku-liku serta tantangan yang mesti dia hadapi.

Kisah pasien Covid-19 yang ingin bunuh diri itu hanya satu di antara sekian kisah yang dia hadapi. ”Sempat juga ada yang mengalami stres, sementara dia sedang hamil dan sampai akhirnya keguguran,” ungkap Sugih yang ditemui kemarin di Hotel Harper.

Sore kemarin Sugih masih memakai rompi merah dengan tulisan namanya di depan. Itu salah satu baju yang dia pakai setiap hari saat bertugas.

Sambil memakai masker, pria kelahiran Ujung Pandang (kini Makassar), 21 Juni 1983, itu menceritakan bagaimana hari-harinya menghadapi begitu banyak pasien Covid-19 sendirian. Saat ini ada 193 pasien yang ditangani. Sedangkan yang sudah sembuh dia tangani mencapai 600 orang.

Sehari-hari lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia (UMI), Makassar, itu tak jauh-jauh dari upaya untuk membuat para pasien tetap merasa bahagia dan meningkatkan imunitas mereka. Pada pagi, misalnya, akan memimpin para pasien melakukan olahraga.

Selesai berolahraga, dia memberikan edukasi seputar bagaimana menjaga imunitas tubuh. Contohnya, rajin mengonsumsi air hangat dan melakukan aktivitas yang menyenangkan.

”Saya bilang kalau selama ini tidak pernah nonton kartun, coba-coba nonton supaya Anda ketawa dan merasa bahagia. Ketika kita bahagia, imun kita juga membaik,” jelasnya.

Sugih juga memastikan semua peserta Covid-19 di Hotel Harper terlayani dengan baik. Jika ada yang memiliki keluhan seperti batuk, demam, atau penyakit lain, langsung dirujuk ke RS terdekat.

”Kami tidak ingin ambil risiko. Sebab, di sini (Harper, Red) kan hanya OTG yang dilayani dan jika butuh penanganan lebih lanjut, harus ke rumah sakit,” jelasnya.

Jika menghitung dari hari pertama hingga saat ini, dia menyebut kurang lebih sudah ratusan orang yang ditangani. Pasien yang sembuh tak kurang dari 600 orang.

Sebagai satu-satunya dokter yang menangani pasien Covid-19 Hotel Harper, dia pun harus pandai mengatur waktu istirahat. Empat perawat yang menemani tetap harus menunggu keputusan akhir dari Sugih sebelum mengambil tindakan. Akhirnya paling lama waktu tidurnya hanya tiga sampai lima jam setiap hari.

”Saya setiap hari tidur di atas jam 3 pagi. Istirahat itu selang-seling, tidur satu atau dua jam bangun lagi, dan kalau ada waktu kosong, tidur lagi sebentar,” jelasnya.

Pada dasarnya Sugih mengaku tak pernah membayangkan bakal menjadi satu-satunya dokter yang bertanggung jawab untuk peserta wisata Covid-19 di Hotel Harper. Padahal, di semua rumah sakit yang juga menangani pasien OTG Covid-19, rata-rata ada empat dokter.

”Surat tugas saya sudah diperpanjang sampai tiga kali,” imbuhnya.

Dampak dari perpanjangan tugas hingga tiga kali membuat dia tak punya waktu lagi untuk bertemu anak dan istri. Padahal, dia punya anak umur 3 bulan yang membutuhkan banyak kasih sayang dan perhatian darinya.

”Saya jujur tidak enak ke istri dan anak. Saya menelepon itu air mata saya menetes karena tak kunjung bisa bertemu,” ujar Sugih sambil menyodorkan gawai dan menunjukkan percakapan dia dengan istri.

Lelaki yang gemar bermain catur itu mengisahkan, awalnya dirinya yang mengajukan diri menjadi relawan. Sebelumnya diumumkan bahwa pemerintah membutuhkan relawan untuk menangani pasien duta wisata Covid-19.

Tanggal 25 Mei menjadi hari pertama dia bekerja. Dan berdasar surat tugas, seharusnya sudah selesai 14 hari ke depan atau berakhir 7 Juni.

Tanggal 8 Juni lalu dia sempat pulang ke Puskesmas Camba, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, tempat dia selama ini bekerja. Ternyata, sehari kemudian ada informasi bahwa tidak ada dokter pengganti dia di Hotel Harper.

”Akhirnya saya lanjut lagi bekerja di Hotel Harper untuk lanjutkan surat tugas kedua,” bebernya.

Namun, ternyata mendekati masa tugas kedua berakhir, sambil menunggu hasil swab, dia kembali mendapat surat tugas untuk yang ketiga.

”Insentif dari Allah, insya Allah lebih besar. Kesembuhan pasien adalah kebahagiaan terbesar saya sebagai tenaga medis,” katanya.(*)

Sumber: JawaPos.com




BERITA BERIKUTNYA
loading...