“Arah Baru PAN” atau Arah Tenggelam?

Senin, 06 Juli 2020 | 18:19:20 WIB

()

Oleh : Dr Dedek Kusnadi MSi MM

 

 

Telepon genggam itu berdering-dering selepas Isya, Ahad 5 Juli 2020, malam. Di ujung telepon, pria itu mengenalkan namanya Madian Saswadi. Ia mengabarkan “Pak Bakri mau ngajak ketemu. Diskusi dan ngobrol-ngobrol…”.

 

Esoknya, Senin, kami bertemu di sebuah warung kopi, persis di sebelah masjid Nurdin Hasanah. Masjidnya Nurdin Hamzah, ayah kandung Zulkifli Nurdin.

 

Bakri tengah ngobrol bersama Romi Haryanto, Bupati Tanjab Timur. Melihat saya datang, Romi bergegas angkat kaki. Daeng Bakri menyalami saya dengan tangan terkepal--mungkin mencegah interaksi karena Covid--, dan dengan ramah ia mempersilahkan saya duduk. 

 

Kami duduk saling berhadapan. Bakri ditemani Madian Saswadi dan Lutfi, ajudannya. Pit Arzuna, memilih duduk di sudut luar.

 

Kami ngobrol dan diskusi panjang lebar. Sepertinya Bakri dan kawan-kawan ingin meluruskan opini yang sempat saya tulis beberapa hari lalu. Opini itu tentang posisi Bakri, PAN dan Ratu.

 

Saking asyiknya, tak sadar waktu zuhur telah tiba. Bakri mohon pamit hendak ke DPW. Katanya, ada tamu yang sedang menunggu. Tak berselang lama, kami pun bubar.

 

Baru saja sampai di rumah, saya menerima pesan WA dari seorang kolega. Isinya sebuah opini yang dimuat media online Metro Jambi. Opini itu ditulis Musri Nauli, seorang advokat dan aktivis yang saya kagumi.

 

Artikel itu berjudul “Arah Baru PAN Jambi”.

 

Pelan-pelan saya baca dan pahami arah serta maksud tulisan itu. Yang pada intinya, kanda Musri Nauli hendak membantah tulisan saya yang berjudul “Tinggalkan Ratu, PAN Kehilangan Arah”.

 

Saya kaget karena meluncurnya opini kanda Musri Nauli itu, persis ketika saya baru saja usai berdiskusi panjang lebar dengan Bakri.

 

Tulisan harus dijawab dengan tulisan.

 

Baiklah.

 

Izinkan saya menjawab tulisan kanda Musri Nauli tersebut, dengan sebuah tulisan pula. 

 

Sebagai mukaddimah….terlebih dulu saya ingin mengirim salam hormat kepada kanda Musri Nauli, yang di tengah kesibukannya, sudah mau bersusah payah membaca dan menganalisa tulisan saya. 

 

Beliau saya kenal sebagai praktisi hukum yang produktif. Tulisan-tulisannya tentang hukum kerap menghiasi dinding media.

 

Saya bahagia karena menjawab tulisan itu dengan paparan data-data pembanding. Walaupun, sebenarnya ada beberapa data pembanding itu tak relevan dipaparkan dan justru terlalu memaksa.

 

Nah, ada beberapa hal yang wajib saya luruskan. Agar publik tak merasa bias memamah artikel kanda Musri Nauli itu. Agar tak muncul mispersepsi.

 

Saya mencatat ada beberapa poin yang disorot dalam tulisan kanda Musri Nauli itu. 

 

Pertama, tentang pernyataannya yang menyebut bahwa “PAN mengalami masalah berat pasca Zola…PAN menerima getahnya”. 

 

Saya menilai statmen ini hanyalah asumsi, untuk tak menyebut sebuah khayalan. Semestinya, kanda Musri Nauli menyisipkan data, misalnya data riset yang menunjukkan bahwa PAN ikut terimbas karena kasus Zola. 

 

Dalam pandangan saya, fakta tanpa data tak lain hanyalah sebuah asumsi. Bukankah sebuah asumsi itu… cenderung bisa salah. Karena bangunan asumsi itu adalah emosi, bukan akal sehat.

 

Dalam tulisannya, Kanda Musri lantas membayangkan betapa berat beban yang dipikul PAN sebagai partai, dan sulit akan menjadi partai yang kembali diperhitungkan di Jambi. Ia menyebut saya mengabaikan peristiwa pasca OTT dan nasib PAN menjelang pemilu. “Kok tidak menjadi bahan?” tulisnya.

 

Justru, artikel saya yang berjudul “Tinggalkan Ratu, PAN Kehilangan Arah”, telah mengutip satu alasan penting kenapa Ratu rela capek-capek kembali terjun ke politik. Berdasar data yang saya peroleh, ikhtiar itu karena Ratu ingin membawa politik santun dan membersihkan nama baik keluarga besar, termasuk PAN, yang mungkin sempat tercoreng oleh Zumi Zola, putra sambungnya.

 

Semestinya, Bakri memberi ruang dan jalan bagi Ratu untuk memperbaiki itu. Di tangan suaminya lah PAN itu berdiri tegap, berkibar dan menjadi partai termashur di Jambi. Anggaplah di tangan Zola PAN kemudian tercoreng. Alangkah naïf bila PAN tak memberi kesempatan bagi Ratu, ibu sambung Zola, istri mendiang Zulkifli Nurdin itu, untuk mengembalikan marwah dan nama baik keluarganya, wabil khusus PAN.

 

Musri lantas berasumsi Politik kok melodrama. Mendayu-dayu?

 

Lah, memangnya bagaimana politik yang tidak mendayu-dayu itu? Yang tidak melodrama itu? Mestinya dijelaskan donk. Sehingga publik tercerahkan, bukan diarahkan berdasarkan asumsi kosong.

 

Dalam suasana krisis, Musri mengklaim Bakri masih mampu membawa biduk PAN melewati badai. Klaimnya, PAN masih bisa menyumbang suara DPR RI. Terus, kanda Musri menyebut masih bersebaran anggota DPRD di berbagai kota/kabupaten dari PAN.

 

Ia kemudian menyebut PAN Tanjab Timur bisa menang telak dari 15 kursi menjadi 17 kursi…

 

Kanda Musri seperti berlebihan menyatakan peran Bakri di PAN adalah sebuah kemenangan yang tidak mungkin diraih oleh pemimpin partai politik di Jambi.

 

Sekarang coba kita bedah data yang dipaparkan itu. 

 

PAN memang sukses mempertahankan kursi DPR RI. Tapi, apakah keberhasilan itu bisa dikatakan sebuah prestasi Bakri? Akankah kanda Musri Nauli mengabaikan peran caleg PAN lain, semisal Dipo Ilham Djalil, atau Mahili dan caleg DPR RI lainnya?

 

Padahal, Bakri awalnya sempat sesumbar PAN akan meraih dua kursi sekaligus. Faktanya…?

 

Lalu soal kedigdayaan PAN di Tanjab Timur? 

 

Apakah betul perolehan suara besar PAN di Tanjab Timur itu karena peran seorang Bakri? Dan lantas mengabaikan peran penting Romi Haryanto, sebagai Ketua DPD PAN di sana dan Bupati yang tengah berkuasa saat ini. 

 

Saya kira asumsi yang dibangun kanda Musri Nauli tidak tepat. Karena, kemenangan PAN di Tanjab Timur tidak linier dengan peran Bakri sebagai Ketua DPW PAN.

 

Ini jelas-jelas klaim premature dan memaksa.

 

Seterusnya, ihwal tulisan Kanda Musri yang menulis begini “Menempatkan Ratu sejajar dengan siapapun yang mengikuti konvensi Pilgub di Jambi buah kecerdasan”. Lagi-lagi adalah klaim sepihak yang tak berdasar. Sikap cerdas yang dimaksud tak dijelaskan secara rinci, seperti apa dan bagaimana?

 

Justru, dengan begitu, Bakri dan PAN akan ditikam stigma buruk oleh publik secara luas. Mereka akan dianggap politisi yang tak tahu balas budi. Tak piawai membaca momentum. Di sini, PAN justru menunjukkan sikap tak cerdas.

 

Pendapat kanda Musri yang menyatakan “Cara PAN menentukan Pilgub dengan tidak memberikan privilege khusus kepada Ratu menampakkan cara berpolitik PAN dengan gaya arah baru PAN Jambi”. Bagi saya adalah sebuah kesimpulan keliru. Kesimpulan yang terlalu memaksa.

 

Di sini, PAN justru akan dicap telah mengabaikan Ratu sebagai kader murni, sosok yang pernah berjasa besar kepada partai ini. Bukankan hutang budi di bawa Mati?

 

Yang saya pahami, cara terbaik membalas jasa orang adalah dengan mengangkat harkat dan martabatnya. PAN Jambi dalam konteks ini malah akan dianggap partai yang tak pandai membalas jasa tokoh pendirinya.

 

Contoh Zulkifli Hasan, Ketua Umum PAN, yang tetap menghargai dan menghormati Amien Raies sebagai pendiri PAN, meski sempat berseberangan. 

 

Apakah sosok Ratu sudah terlanjur dinilai tak lebih baik dari Haris atau Fasha? Ataukah karena Ratu tak punya sesuatu yang bisa membuat PAN Jambi mengusungnya?

 

Lalu atas dasar apa PAN Jambi kemudian memberi privilege khusus kepada Haris atau Fasha ketimbang Ratu?. Tolak ukurnya semakin tak jelas dan ngawur saja.

 

Sikap Bakri dan PAN Jambi justru memperkuat anggapan publik di luaran sana, yang menyebut ada kekhawatiran PAN Jambi atas kemunculan Ratu dan trah Nurdin. 

 

Khawatir kalau-kalau kekuasaannya di PAN akan rontok. Mengingat jejaring Ratu dan trah Nurdin di PAN Jambi masih cukup besar. Potensi besar itu akan bangkit kembali jika Ratu meraih kekuasaan.

 

PAN bukan tengah membuka jalan baru atau arah baru, seperti klaim kanda Musri Nauli itu. Tapi, PAN justru tengah menggali kuburannya sendiri. 

 

Obrolan hampir dua jam bersama Bakri di warkop itu, sudah cukup membuat saya menarik sebuah kesimpulan, bahwa PAN Jambi akan tenggelam seiring sikapnya yang mengabaikan Ratu.

 

Saya terpaksa menyudahi tulisan ini seiring pesan lain masuk ke WA. Isinya, berita yang menyatakan PAN sudah final ke Al Haris. Pertemuan saya dengan Bakri pagi itu, dilanjutkan dengan melayangnya artikel kanda Musri Nauli itu, lalu muncul lagi sebuah berita di media online Brito.id tentang sikap PAN ke Haris, membuat saya kembali tertegun. 

 

“Semoga peristiwa ini tidak saling terkait…”

 

Saya percaya kanda Musri Nauli adalah aktivis independen yang tidak menghamba pada siapa-siapa. Salam takzim saya kepada kanda Musri Nauli. Salam hormat saya buat daeng Bakri.





BERITA BERIKUTNYA
loading...