Minimalkan Risiko di Sekolah, Persakmi Minta Perhatikan Empat Faktor

Sabtu, 01 Agustus 2020 | 17:32:30 WIB

()

Jambione.com – Rencana pembukaan 21 SMP di Surabaya mendapat atensi dari Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi). Mereka menekankan empat hal mendasar yang menjadi persyaratan sebelum sekolah dibuka. Yakni, kondisi ventilasi, durasi di dalam satu ruang, kepatuhan untuk menjaga jarak aman, serta protokol kesehatan lain yang sudah diatur di Perwali 28/2020 dan Perwali 33/2020.

Pengurus Persakmi memang diminta Pemkot Surabaya untuk memberikan pengetahuan lengkap terkait dengan protokol kesehatan di sekolah. Mereka juga memberikan penilaian potensi risiko bila sekolah dibuka. Nah, hal tersebut didasarkan pada empat parameter itu.

Pembina Persakmi Jatim Estiningtyas Nugraheni mengungkapkan, risiko tersebut memang tak bisa dibuat nol sama sekali. Sesedikit apa pun tetap ada. Tapi, bisa diminimalkan.

Nah, dengan empat hal tersebut, bisa diukur tingkat risikonya. Kemudian, pengelola sekolah bisa membuat mitigasi untuk meminimalkannya.

”Variabel risiko dikembangkan dari standar protokol kesehatan yang sudah ada. Ada empat subjek besarnya. Yakni, ventilasi, durasi, jarak aman jaga jaraknya, protokol kesehatan yang diatur dalam perwali,” jelas Esti kemarin (31/7).

Empat hal tersebut juga disampaikan saat bertemu dengan para pengelola sekolah Kamis lalu (30/7). Ada semacam penghitungan dari tiap-tiap sekolah. Dari hasil tersebut disimpulkan, 21 sekolah itu bisa dibuka dengan protokol kesehatan yang ketat.

”Kalau kami lihat sih, dari tempat kegiatan, sekolah relatif cukup rendah tingkat risikonya. Terhadap 21 sekolah yang ikut workshop itu ya, bukan sekolah secara umum di Surabaya,” tegas dia.

Soal ventilasi, menurut Esti, ruang kelas harus memiliki jendela yang cukup. Dengan begitu, aliran udara bisa dengan bebas keluar-masuk. Tidak boleh lagi di tempat tertutup dengan hanya mengandalkan pendingin ruangan. Kipas angin ditambahkan untuk membuat aliran udara di dalam ruangan itu jadi lebih bagus.

”Dari 21 sekolah itu, semua kelas terakses sinar matahari. Jadi, bisa pertahankan suhu tinggi,” kata dia.

Durasi di dalam ruangan juga menjadi perhatian Persakmi. Mereka memberikan parameter lamanya seseorang di dalam satu ruangan bersama banyak orang. Yakni, kurang dari 15 menit hingga maksimal 15 menit. Nah, dalam sekolah tersebut memang sangat mungkin lebih dari 15 menit, bahkan dalam hitungan jam. Sebab, makin lama orang dalam satu ruangan, potensi tertular juga makin besar.

Namun, Esti menyebutkan, ada keuntungan dengan memberi siswa SMP kesempatan untuk masuk sekolah. Siswa SMP relatif sudah bisa diberi tahu dan mereka masih cukup bergantung kepada guru. Dengan demikian, siswa tersebut lebih bisa dikendalikan. Termasuk soal mengatasi durasi belajar di sekolah.

”Sehingga bisa pastikan perintah untuk mematuhi protokol kesehatan terlaksana,” kata dia.

Sedangkan soal protokol kesehatan, dia mengatakan juga perlu lebih detail. Misalnya soal penyediaan tempat cuci tangan, harus dihitung dengan cermat jumlah siswanya. Dengan begitu, tidak sampai ada antrean siswa yang terlalu lama.

”Misalnya, cuci tangan cuma satu, tapi jadinya lama. Sehingga anak-anak abai juga. Karena kalau abai, jadinya lengah,” tambah dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana dan Perlindungan Masyarakat (BPB Linmas) Surabaya Irvan Widyanto mengungkapkan, sekolah-sekolah tersebut memang dipilih dengan sangat selektif oleh Dispendik Surabaya. Sekolah itu memiliki kemampuan untuk bisa menegakkan protokol kesehatan.

”Kami akan koordinasi terus dengan dispendik dan sekolah tersebut. Sambil menunggu nanti betul-betul disiapkan untuk bisa buka,” jelas Irvan.

Dalam waktu dekat ini, pemkot akan mempersiapkan rapid test bagi guru-guru dan tenaga kependidikan di sekolah tersebut. Pemkot ingin memastikan bahwa pembukaan sekolah itu tidak sampai kontraproduktif dengan menjadi tempat penularan atau klaster baru. ”Kami melangkah dengan terukur,” imbuh dia.

Atur Jadwal Masuk Siswa SMP

Dinas Pendidikan Surabaya mempersiapkan dengan matang rencana membuka 21 SMP di Surabaya. Bakal ada pengaturan jam dan hari masuk bagi siswa sehingga di dalam sekolah bisa tetap ada physical distancing.

Kepala Dispendik Surabaya Supomo mengungkapkan bahwa di sekolah tersebut akan diatur jumlah siswa dan jam belajarnya. Salah satu skemanya, siswa kelas VII, VIII, dan IX tidak akan dimasukkan dalam hari yang sama. Tetapi, bisa jadi dalam satu hari siswa kelas VII masuk. Kelas VIII dan IX tetap melakukan pembelajaran di rumah.

”Jadi, gantian bertatap mukanya. Tidak bisa semuanya bersamaan. Karena harus mengatur jarak juga,” ungkap Supomo.

Dia mengungkapkan, jenis mata pelajaran juga sedang dipersiapkan dengan matang. Sesi tatap muka di kelas hanya untuk mata pelajaran yang membutuhkan penjelasan langsung dari guru. ”Misalnya, salah satunya matematika atau mata pelajaran lainnya. Itu sedang didiskusikan,” kata dia.

Supomo menjelaskan bahwa persiapan untuk memasukkan siswa itu memang sudah saatnya. Sebab, lanjut dia, persebaran Covid-19 di Surabaya relatif sudah terkendali. Selain itu, siswa berlama-lama belajar di rumah juga jenuh. ”Semuanya ini agar menjaga pendidikan di Surabaya tetap dan terus berkualitas,” imbuh dia.

Persiapan untuk membuka 21 SMP itu tidak menghentikan rencana dispendik dalam menyediakan fasilitas belajar di balai RW. Supomo menyebutkan, sedang ada koordinasi intensif dengan dinas lainnya. ”Persiapannya, sudah ada survei di balai RW,” tambah dia.

Jawa Pos mengecek kondisi fasilitas sejumlah balai RW di Surabaya.

Hingga kini pengurus RW 02 UKA Sememi, Kecamatan Benowo, masih menunggu perangkat komputer atau laptop untuk kelengkapan di balai RW dari pemkot. Ketua RW 02 UKA Wachid menyatakan, sementara ini balai RW digunakan untuk mengurus administrasi kependudukan warga.

Dia menyebutkan, belum ada aktivitas belajar dari murid-murid sekolah di balai RW. Wifi, lanjut dia, sebetulnya sudah ada. ”Tapi, ya laptopnya itu yang tidak ada. Komputer juga nggak ada. Kalau mau belajar di balai RW, mau pakai apa?” terangnya kemarin.

Wachid menyatakan, dua minggu lalu ada tim dari pemkot yang datang ke balai RW. Tujuannya, mengecek kondisi wifi balai RW yang tidak bisa dipakai secara optimal alias lemot. ”Sampai sekarang belum ada kabar pasca tim pemkot datang,” tambahnya.

Sementara itu, imbauan kepada masyarakat supaya memanfaatkan fasilitas wifi untuk belajar online di balai RW telah diinformasikan oleh Ketua RW 09 Sememi Jaya Hambali. Kekurangan yang dimiliki Balai RW 09 Sememi Jaya, lanjut Hambali, adalah tidak adanya komputer atau laptop. Dia menyebutkan, komputer atau laptop tidak bisa dimasukkan dalam daftar permintaan RW ke pemkot untuk dipenuhi. ”Sementara ini, pengurus bawa laptop sendiri sih. Ada yang begitu,” ujar Hambali.

Di tempat terpisah, Ketua RW 06 Sambiarum, Kelurahan Sambikerep, Kecamatan Sambikerep, Jarot menyatakan, pihaknya masih menanti prosedur pembukaan pelayanan balai RW untuk aktivitas belajar anak-anak. Koneksi internet, kata dia, sejatinya dipasang pemkot sejak awal tahun.

Sayang, problematika terkait koneksi internet yang dihadapi RW 06 Sambiarum sama dengan RW 02 UKA Sememi. ”Jaringan internetnya itu lemot sekali, tapi dua minggu lalu sudah dikroscek sama tim pemkot. Belum diperbaiki, hanya dicek,” ujar Jarot.(*)

Sumber: Jawapos.com




BERITA BERIKUTNYA
loading...