Ribuan Buruh dan Mahasiswa Datangi DPRD Provinsi, Demo Tolak Omnibus Law Ricuh Lagi

Polisi Bubarkan Massa dengan Gas Air Mata

Selasa, 13 Oktober 2020 | 06:30:27 WIB

()

jambione.com, JAMBI- Gelombang aksi demonstrasi menolak UU Cipta Kerja (Omnibus Law) di Jambi berlanjut, Senin (12/10) kemarin. Seperti sebelumnya, aksi kali ini juga diwarnai kericuhan. Ribuan buruh dan mahasiswa bergerak bersamaan mendatangi Gedung DPRD Provinsi Jambi di kawasan Telanaipura. Aksi serupa  juga berlangsung di Sungai Penuh, Tanjab Barat dan Sarolangun.

Awalnya aksi berlangsung aman dan tertib. Ribuan buruh dan mahasiswa bergerak dari Tugu Juang, kawasan Sipin, Kota Jambi menuju  Simpang empat Bank Indonesia Telanaipura. Sementara itu, ratusan aparat keamanan dari TNI-Polri bersiaga mengamankan jalannya aksi massa sepanjang jalan perkantoran Telanaipura, mulai dari Simpang BI, halaman kantor Gubernur Jambi dan di depan Kantor DPRD Provinsi Jambi.

Kemudian massa menyerukan penolakan terhadap Undang-undang Cipta Kerja. Mereka merangsek dan memadati Gedung DPRD Provinsi Jambi. Setelah lama berorasi tidak ada tanggapan, massa mulai panas. Massa kecewa karena tak menemui kata sepakat dengan pimpinan DPRD dan Pjs Gubernur Jambi Restuardy Daud untuk ikut bersikap menolak UU tersebut.

Aksi saling dorong dengan polisi pun terjadi. Kemudian ada lemparan air mineral dan batu ke arah petugas. Sehingga bentrok pun tak terelakkan. Melihat situasi mulai tak kondusif, polisi berupaya membubarkan massa.

Kemudian terdengar suara ledakan. Polisi melepaskan tembakan gas air mata. Aksi itu kian memanas. Karena kewalahan menghadapi massa yang jumlahnya ribuan, polisi pun menembakkan puluhan kali gas air mata. Massa pun buyar.

Polisi terus memberondongan tembakan ke arah massa yang lari ke luar pagar lapangan kantor gubernur, tepatnya di depan kantor BPS Jambi.  Akibatnya, barisan massa terbelah. Mereka  berlarian menghindari pedihnya gas air mata.

Saat tembakan gas air mata reda, massa kembali merangsek maju. Namun mereka kembali mundur saat kembali terdengar suara tembakan gas air mata. Massa pun berlarian dan berlindung di gang-gang yang ada di sekitaran kawasan tesebut.

Infromasinya, kericuhan dipicu adanya pihak yang memprovokasi massa dengan melempari polisi dan gedung DPRD dengan batu, botol air mineral serta benda lainnya. Bahkan, ada yang kedapatan melempar batu ke arah petugas. “Semua massa menyuarakan penolakan atas disetujuinya RUU Cipta Kerja oleh DPR RI untuk disahkan menjadi UU,” kata seorang massa.

Ketua DPRD, Edi Purwanto langsung menemui massa. Sebelumnya massa sempat ditolak dewan untuk masuk ke perkarangan halaman gedung DPRD. "Sekarang kami tidak akan menutup ruang diskusi mengenai UU Omnibus Law ini karena melihat dari kemarin silih bergantinya para demonstran yang menyuarakan aspirasinya. Saya secara resmi menolak UU Cipta Kerja dan mendukung para teman-teman mahasiswa dan juga masyarakat dalam penolakan ini,” kata Edi membacakan deklarasi penolakan.

Kemudian Edi bersama Rocky menemui massa yang terkonsentrasi di Simpang Bank Indonesia. Namun di sini massa tidak mau pimpinan DPRD menyambut mereka. Namun massa ingin tetap dihadirkan PJs Gubernur Jambi.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jambi justru mengingatkan demonstran yang menyampaikan aspirasinya tetap mematuhi protokol kesehatan COVID-19 mengingat kasus terkonfirmasi positif di daerah itu terus bertambah.

"Kami mengimbau kepada peserta aksi damai, baik itu mahasiswa, organisasi pemuda dan buruh untuk menerapkan secara disiplin protokol kesehatan Covid-19 selama melakukan aksi," kata Kepala Biro Humas dan Protokol Setda Provinsi Jambi Johansyah.

Johansyah mengakui, persetujuan pengesahan Rancangan Undang Undang Cipta Kerja oleh DPR  pada beberapa waktu lalu menimbulkan reaksi penolakan oleh sejumlah kelompok masyarakat di Jambi.

Penolakan tersebut diimplementasikan dengan melakukan aksi damai ke Kantor DPRD Provinsi Jambi. Meski dalam masa pandemi Covid-19, ribuan peserta aksi turun ke jalan dan menyampaikan aspirasinya di depan Kantor DPRD Provinsi Jambi.

Johansyah berharap aksi damai dapat dilakukan dengan tertib dan dilaksanakan dengan mematuhi protokol kesehatan Covid-19. Harapannya seluruh masa aksi menggunakan masker, bila perlu masker yang digunakan  berlapis dua serta diimbau untuk membawa hand sanitizer.

Selain diimbau menggunakan masker, peserta diimbau tidak berkerumun dan membentuk kelompok kelompok diskusi jika aksi damai sudah selesai dilaksanakan karena hal tersebut sangat rentan terjadi penularan Covid-19.

Dan yang tidak jauh lebih penting yakni, jika sudah selesai melakukan aksi di harapkan para demonstran pulang ke rumah dan bersih bersih sebelum berkumpul dengan keluarga. Saat tiba di rumah hendaknya langsung mandi dan pakaian yang dikenakan saat demo langsung di cuci.

"Jjika para demonstrans mengalami penurunan kondisi fisik dan kesehatan segera lakukan pengecekan ke Puskesmas terdekat, karena di setiap puskesmas sudah terdapat petugas screening COVID-19," kata Johan.

Menurut dia, data Gugus Tugas Provinsi Jambi dalam sepekan terakhir terus terjadi penambahan pasien terkonfirmasi positif Covid-19 yang cukup tinggi.(ist)





BERITA BERIKUTNYA
loading...