Lagi, Polisi Gagalkan Penyelundupan Baby Lobster Senilai Rp 3,2 M

Jumat, 22 Januari 2021 | 14:43:24 WIB

()

Jambione.com, MUARASABAK - Penyelundupan Baby Lobster (Benur) kembali digagalkan Polda Jambi dan jajaran. Kali ini Polres Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim) mengamankan 17 box strefoam di Dusun Apung Desa Lagan Ilir, Kecamatan Mendahara, Kamis (21/1) malam sekitar pukul 22.00 WIB.

Masing masing box diperkirakan berisi sekitar 5.000 an baby lobster. Jika ditotalkan jum?ahnya kurang lebih 85.000 ekor Baby Lobster. Jika dirupiahkan nilainya mencapai Rp 2,3 Miliar.

Kapolres Tanjabtim AKBP Deden Nirhidayatullah menjelaskan kronologi penangkapan.  Sekitar pukul 21.00 WIB Kamis (21/1) malam Kanit Intel Polsek Mendahara mendapatkan informasi dari masyarakat akan ada upaya penyelundupan Baby Lobster. 

"Kemudian Tim Satgas Anti Kejahatan Wilayah Perairan (Anker) langsung bergerak  melakukan penangkapan terhadap dua pelaku yang diduga membawa Baby Lobster," katanya.

Kedua pelaku yang ditangkap bernama Trumon Salasi (49), warga Tanjung Karang No 08 RT 01 RW 08 Kelurahan Perak Barat, Kecamatan Krembangan, Surabaya dan Edi Suhaimi (52), warga Lrg Sederhana RT 23 Kelurahan Pasir Putih, Kota Jambi.

Menurut Deden, 17 box berisi baby lobster tersebut diangkut  dua mobil mini bus jenis Toyota Inova warna Silver dengan Nopol B 1345 KYS dan Daihatsu Xenia warna Silver Nopol B 1624 PZR. 

Deden menjelaskan, Baby Lobster tersebut dibawa dari Merak, Banten menuju Jambi. Setibanya di Jambi pelaku atas nama Trumon Salasi bertemu Edi Suhaimi. Selanjutnya Edi Suhaimi menemani Trumon Salasi mengangkut baby lobster tersebut ke Kecamatan Mendahara.

"Rencananya Baby Lobster tersebut akan diselundupkan ke Luar Negeri melalui perairan Kabupaten Tanjabtim. Namun Tim Satgas Anker langsung bergerak menggagalkan penyelundupan tersebut," jelasnya.

Atas perbuatannya, kedua tersangka dijerat dengan Pasal 88 Jo Pasal 16 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 sebagaimana diubah menjadi menjadi Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan Jo Pasal 31 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang Karantina Ikan hewan dan Tumbuhan. Ancaman hukumannya paling lama 6 tahun dan denda sebesar Rp 1,5 Miliar.

"Untuk estimasi kerugian negara dalam penyelundupan ini sebesar Rp 2,3 Miliar," terangnya.

Sementara, Anggota Pengawasan dan Pengendalian Hama Penyakit Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Jambi, Suhardo menerangkan,  Baby Lobster ini akan di repacking ulang dibawa ke Jambi untuk penyelamatan dan akan segera dilepasliarkan. 

"Kemungkinan kita akan repacking ulang, ganti oksigen dan ditambah es agar kondisinya tetap hidup. Soal dimana akan dilepasliarkan menunggu arahan dari Pimpinan, baik Jambi maupun Jakarta," terangnya.

Namun biasanya, untuk melepasliarkan Baby Lobster ini di Daerah Padang dan Jawa. Tapi kemungkinan akan dilepasliarkan di Padang, sebab lebih dekat jaraknya karena memikirkan keselamatan Baby Lobster tersebut.

"Tapi kita tetap menunggu arahan dari pimpinan kita di Jambi dan Jakarta," tutupnya.(zal)





BERITA BERIKUTNYA
loading...