Oleh: dr Benny Hartono SpB

Hipertrofik Pilorus Stenosis

Jumat, 26 Maret 2021 | 09:30:46 WIB

()

JAMBIONE.COM, Penyebab terjadinya hipertrofik pilorus stenosis (HPS) ini belum diketahui dengan pasti. Kelainan ini lebih sering ditemukan pada bayi laki-laki dengan perbandingan 4:1 terhadap bayi perempuan. Insidensi HPS terdapat satu diantara 300–900 kelahiran. Beberapa penyebab diduga faktor genetik dan lingkungan. Faktor lingkungan yang berperan antara lain cara menyusui, variasi musim, penggunaan antibiotik eritromisin, bayi lahir prematur yang mendapatkan asupan makan melalui transpilorik.

Pada penelitian terakhir menunjukkan ada keterkaitan protein peptida gastrointestinal, growth factor, neutrofin, perubahan sistem saraf dan nitrit oksida.
Protein peptida adalah suatu zat yang berperan pada kontraksi otot saluran cerna, apabila terjadi kontraksi dalam jangka panjang dapat menyebabkan terjadinya hipertrofi.

Peptida ini ditemukan konsentrasinya meningkat pada penderita HPS. Neutrofin mempunyai peran pada diferensiasi saraf, diketahui jumlahnya menurun pada HPS. Nitrit oksida dapat menginduksi otot pada esofagus, lambung dan usus. Sehingga apabila mengalami defisiensi NO mengakibatkan kegagalan relaksasi pilorus.


Penemuan khas penyakit ini adalah gejala berupa muntah proyektil dan tidak hijau, mulai bayi berusia 2 minggu sampai 8 minggu. Awalnya muntah kadang hilang timbul, kemudian muntah lebih sering dan tahap lanjut setiap diberi minum menjadi muntah. Cairan yang dimuntahkan kadang mengandung darah akibat adanya luka pada lambung. Kuning pada bayi (ikterus) yang didominasi bilirubin indirek dapat terjadi dengan kejadian 2–5% kasus. Hal ini diakibatkan karena kekurangan enzim glukoronil transferase.

Diagnosa lain yang memiliki gejala yang sama seperti GERD, gastroenteritis, tekanan intrakranial meningkat, atresia pilorus, duplikasi antropilorus.
Diagnosis penyakit ini ditandai dengan muntah tidak hijau, kembung pada perut bagian atas, kegagalan pertumbuhan, kehilangan berat badan, hipokloremia, hipokalemia dan alkalosis metabolik. Pada pemeriksaan tampak dehidrasi, mata cekung, kulit keriput, adanya massa di daerah epigastrium menegakkan diagnosa pada 75% penderita (teraba pilorus yang membesar/olive sign). Bayi selalu rewel dengan kesan lapar (hunger feeder) dan selalu ingin minum lagi setelah muntah.

Pemeriksaan USG merupakan diagnosa standar untuk HPS. Dikatakan positif apabila terdapat penebalan dinding pilorus melebihi 4 mm, panjang saluran yang menebal melebihi 16 mm atau diamater pilorus melebihi 14 mm. Bila hasil USG meragukan, maka pemeriksaan kontras meal sangat efektif untuk HPS (gambaran string sign yang menunjukkan penyempitan pada pilorus). Pada pemeriksaan fluoroskopi tampak pengosongan lambung yang lambat.

Untuk tatalaksana HPS tergantung dari berat ringannya dehidrasi dan gangguan elektrolit. Bayi dilakukan pemasangan sonde lambung (NGT), lambung dibilas dengan larutan garam fisiologis untuk mengeluarkan endapan susu atau sisa barium, penderita dipuasakan dan dilanjutkan dengan resusitasi cairan serta koreksi elektrolit. Transfusi darah dan plasma bila terdapat anemia atau kekurangan protein serum. Operasi yang dilakukan adalah Fredet-Ramstedt piloromiotomi sebab tindakan ini telah teruji dengan cepat, tepat, kuratif dengan morbiditas rendah.
Sedangkan pada manajemen non-operasi, diberikan minum sedikit-sedikit tetapi sering. Sembari menunggu hipertrofi menjadi reversibel. Kesulitannya adalah perawatan yang lebih lama di rumah sakit. Pada penderita dengan risiko operasi tinggi, penderita diberikan nutrisi melewati NGT dan bisa memakan waktu sampai 6 bulan. Penderita memerlukan keperawatan yang baik untuk mencegah aspirasi dan malnutrisi.

Terdapat beberapa laporan, bayi dengan HPS yang diberikan suntikan sulfas atropin dapat sembuh tanpa dilakukan operasi, dibuktikan dengan klinis dan pemeriksaan USG.
Komplikasi operasi sangatlah jarang. Muntah pasca operasi terjadi 30–90% hal ini terjadi karena edema dari mukosa dan gangguan peristaltik yang akan membaik dalam seminggu. Hipertrofi otot akan tampak normal setelah lebih dari 4 minggu. (Penulis adalah Dokter Bedah Umum RS Theresia dan RS Siloam di Kota Jambi)





BERITA BERIKUTNYA
loading...