Oleh: Khotib Syarbini

Kerinduan Ramadhan Tanpa Dirimu, Bapak

Minggu, 28 Maret 2021 | 22:10:27 WIB

(Khotib)

Selalu ada rindu yang tak pernah habis, yakni rindu pada seorang lelaki bernama Bapak. Sosok yang tak pernah kenal pamrih. Sosok pemikul beban berat yang tak pernah mengeluh. Dialah Bapak. Tak pernah peduli akan waktu demi kelangsungan hidup keluarganya.

Bapak. Begitulah Kami memanggilmu sejak saat itu hingga kini dan bahkan selamanya. Dirimu adalah lelaki pertama yang kami kenal begitu diri ini tiba di dunia. Bersama ibu, kita sungguh menjalani kehidupan yang bahagia. Bapak, kami yakin dirimu adalah satu-satunya lelaki yang takkan pernah membiarkan terluka sedikitpun.

Seiring berjalannya waktu kami tumbuh semakin besar, dirimu semakin terpacu untuk mencari nafkah lebih gencar demi memenuhi segala kebutuhan keluarga mu.

Kami yakin semua yang engkau lakukan adalah yang terbaik untuk keluarga, meskipun telah banyak waktumu tersita untuk pekerjaan, berkelumit dengan sejumlah tekanan, hingga hari-hari penuh peluh yang kau lewati, namun tak pernah engkau tampakkan dan keluhkan segala yang dirasa.

Tak luput di dunia ini manusia yang ingin sakit.  Saat tubuhmu yang dulu gagah pun ambruk dibuat penyakit, hati kami tak sanggup menerima segala kesedihan dan kecemasan ini. Laksana mendapat tamparan keras, Bapak maafkan kami tak mampu menjagamu dengan baik.

Kami ingin engkau selalu sehat Bapak. Kami ingin Bapak selalu ada untuk keluarga dengan tubuh yang tetap sehat. Bapak, kami tahu dirimu adalah sosok yang tangguh dan selalu bisa menghadapi segalanya, bahkan engkau lebih kuat dibandingkan para super hero dalam cerita dongeng. Bapak, teruslah berjuang untuk sehat.

Setangguh apapun bebatuan di pantai akhirnya akan tetap hancur jua. Jika tuhan akhirnya memiliki rencana yang lebih indah untukmu, kami ikhlas.

Waktu kebersamaan ini terasa begitu singkat Bapak. Rasanya baru kemarin raga ini terlelap dipangkuanmu. Namun kini ternyata tuhan ingin mengambilmu dari pelukan kami dan ibu lebih cepat. Kami sadar bahwa tuhan jauh lebih menyayangimu dari kami maupun ibu, Tuhan mempunyai rencana yang lebih indah untuk mu.

Bapak, kami ikhlas melepasmu terbang menuju pangkuan Allah SWT. Namun izinkan kami menangis sekejap untuk bisa mengenangmu lagi dengan lebih tegar selamanya. Bapak, kami dan ibu akan selalu menyanyangimu.

Banyak cerita tentang dirimu hingga saat ini engkau telah tiada. Mengenang semua kebaikanmu terhadap anak, menantu, cucu, keluarga kerabat dan tetangga. Semua orang menceritakan kebaikan dirimu, gurauan mu yang kami anggap itu memang jati dirimu yang sebenarnya.

Siapa yang tidak mengenal dirimu. Di masa engkau ada, banyak yang sudah dirimu lakukan, yang hasilnya meninggalkan kami pelajaran yang sangat berharga sekali untuk berkehidupan. Sikap dan jiwa serta toleransi mu terhadap sesama patut diancungi jempol.     Mereka sangat mengenang semua kebaikan yang sudah dirimu tanam. Kami anak-anak mu, menantu mu, cucu-cucu mu, bangga menjadi bagian besar dari perjuangan hidupmu selama ini. Perjuangan untuk keluarga mu hingga kami dapat merasakan kebaikan yang dirimu berikan.

Di masa tua mu, banyak yang menjadi pelajaran berharga bagi kami anak-anakmu. Berkunjung mendatangi rumah anak-anak mu, menantu mu, cucu-cucumu walaupun hanya sedetik tetap engkau lakukan dalam hari-hari mu. Itu berguna bagi engkau yang hanya mengingikan kabar tentang pertalian darah mu. Mengatur keharmonisan keluarga itu memang jurus ampuh yang sudah engkau ajarkan kepada anak-anak mu agar dapat bisa menjaga kehormatan keluarga besar mu.  

Banyak cara yang sudah dirimu lakukan bapak, kepada kami anak-anak mu, menantu mu, cucu-cucu mu, beribu kata telah bapak ucapkan, beribu cinta telah bapak berikan, beribu kasih telah bapak suguhkan hanya untuk kami.

Kesukaan dirimu dengan berkumpul dan mengumpulkan keluarga momen yang sangat mengharukan bagi kami semua yang engkau tinggal. Makan bersama adalah suasana yang sangat dirimu suka untuk bisa berkumpul anak menantu dan cucu-cucumu.

Sesekali kesedihan kami muncul disaat akan datangnya  bulan suci Ramadhan tahun ini tanpa dirimu. Puasa kami sekeluarga berbeda sekali dengan puasa bersama Bapak dahulu. Rindunya waktu itu. Tahun ini merupakan pertama puasa tanpa Bapak di sisi agak menyayat hati. Tangisan menyambut hari pertama berpuasa. Sungguh sedih berbuka hanya di temani ibu, tanpa Bapak di sisi. Mungkin ramai ditemani suami/istri/cucu dan keluarga, tetapi berbeda karena tiada lagi Bapak untuk menyiapkan semua keperluan berbuka. Momen yang paling membekas di hati pun adalah saat buka puasa bersama.

Apapun yang telah engkau ajarkan kepada kami semua menjadi ilmu sangat berharga untuk bisa menjaga keharmonisan dalam keluarga. Tentu kerinduan ini tidak akan hilang dan pasti akan tetap ada terlebih dari sikap-sikap dirimu terhadap semua anggota keluarga, anak-anak mu, menantu mu, dan cucu-cucu mu.

Kami semua mendoakan agar engkau di sana di alam berbeda dapat tersenyum indah menuaikan hasil dari kebaikan yang telah engkau tanam. Doa kami anak-anak mu, menantu mu, cucu-cucu mu, cintaku, cinta kami selalu dan selamanya tetap bersamamu. Selamat jalan Bapakku. Akan terus kami kirim Al-Fatihah untukmu bukti cinta kami padamu. Semoga engkau khusnul khotimah. Aamiin. (Penulis adalah Redaktur Harian Pagi Jambi One)





BERITA BERIKUTNYA
loading...