Lima Penyerang Siswa SMA N 7 Kota Jambi Ditangkap, Orang Tua Madon Minta Pelaku Dihukum Mati

Sang Eksekutor Terancam 15 Tahun Penjara

Rabu, 07 April 2021 | 07:16:12 WIB

()

JAMBIONE.COM, JAMBI- Romlah dan Muhali, kedua orang tua Syarul Romadhon alias Madon (17), siswa SMAN 7 Kota Jambi yang tewas dibacok Senin, 29 Maret lalu, bisa sedikit bernafas lega. Lima dari enam pelaku penyerangan disertai pembacokan anaknya sudah ditangkap polisi. Keduanya minta para pelaku diproses dan dihukum seberat beratnya.

“Kami berharap pelaku dapat dihukum seberat mungkin. Kalau perlu dihukum mati. Kami sangat kehilangan anak kami Madon,” kata Rolmlah, Selasa (6/4). Sang ayah, Muhali menambahkan, pihaknya akan mengawal proses hukum hingga ke pengadilan agara pelaku mendapat hukuman yang setimpal.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada pihak kepolisian yang sudah menangkap para pelaku. “Sekarang kami tinggal mengawal proses pengadilan agar pelaku mendapat hukuman yang layak,” katanya.

Sementara itu, lima dari enam pelaku kini sedang menjalani proses pemeriksaan di Polsekta Telanai Pura. Ke limanya ditangkap tim gabungan Polsek Telanaipura dan Tim Rangkayohitam Polresta Jambi di sejumlah tempat dan waktu berbeda. Ke lima pelaku yakni sang eksekutor (pelaku utama) berinisial AZ (19). Lalu, MZ (16), RK (16), FR (19), dan MA (16). Semuanya warga Kota Jambi. Satu orang lagi, MY (16) masih buron.

Keterangan dari pihak kepolisian, dari lima tersangka yang pertama kali ditangkap adalah MZ. Dia diamankan di rumahnya pada Jumat (2/4) siang. Dari keterangan MZ inilah diketahui identitas para tersangka lain sehingga bisa diringkus.

Berbekal keteragan MZ, Jumlah (4/4) malam, polisi meringkus MA di kediamannya. Tim Selanjutnya, tim berbagi lokasi mengejar pelaku lain. Karena salah satu pelaku diketahui kabur ke Kabupaten Empatlawang, Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel).

Berkat kerja keras polisi, Minggu (4/4), AZ berhasil ditangkap di Kabupaten Empatlawang. Kemudian, FR ditangkap di Kabupaten Tebo, dan MA ditangkap di rumahnya. Sementara RK, diserahkan orang tuanya ke polisi. Dari hasil interogasi, AZ diketahui sebagai pelaku utama alias eksekutor. Sementara parang yang digunakannya, milik MA.

“Kasusnya ditangani di Polsek Telanaipura,” kata Kapolresta Jambi Kombes Pol Dover Christian Selasa (6/4). Sementara itu, Kapolsek Telanaipura AKP Yumika mengatakan, pihaknya masih terus mendalami kasus ini. “Kita selidiki terus, masih dikembangkan,” kata dia.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka AZ diancam dengan pasal 355 ayat 2 KUHP tentang penganiayaan berat yang direncanakan terlebih dahulu dengan ancaman 15 tahun penjara, subsider pasal 354 ayat 2 dengan ancaman 10 tahun penjara, dan subsider pasal 351 ayat 3 dengan ancaman 10 tahun penjara.

Sementara untuk tersangka MZ, RK, FR, dan MA diancam dengan pasal 355 ayat 2 KUHP, jo pasal 55 KUHP tentang turut serta melakukan kejahatan, atau pasal 56 KUHP tentang membantu melakukan kejahatan dengan ancaman hukuman pasal pokok dikurangi sepertiga. Yumika mengatakan, AZ dan FR yang usianya di atas 18 tahun akan menjalani persidangan umum. Sisanya, menjalani peradilan anak.

Menurut informasi, peristiwa berdarah yang menewaskan Madon ini berawal dari turnamen Futasal Piala Wakil Walikota Jambi di GOR Kota baru, Senin, 29 Maret lalu. Saat itu, sekolah Madon berhadapan dengan sekolah lain. Sekolah Madon menang. Para supporter gembira. Gegap gempita. Hingga menimbulkan gesekan dengan supporter lawan yang terdiri dari beberapa sekolah. Kebetulan, para pelaku ada di pihak lawan.

Ketika itu sempat terjadi keributan. Para pemain dan supporter berlarian. Rupanya kejadian ini membuat para pelaku dendam. Hari itu juga, MZ mengajak FR, AZ, RK dan teman-temannya kumpul di rumah MA. Di sana, mereka mengambil sebilah parang, yang dipegang AZ. Tujuannya satu, menyerang kelompok Madon.

Berenam, mereka menggunakan dua sepeda motor. Sepeda motor Yamaha Lexi dikendarai MZ, RK dan AZ. Sementara sepeda motor Honda Scoopy dikendarai MA, MY dan FR.

Pukul 18.30, FR dan MZ melihat kelompok Madon lewat di Arizona. Mereka langsung mengejar. Di kawasan Teluk Kenali, rombongan Madon yang saat itu berboncengan dengan Daniel, terkejar. Naas, mereka ada paling belakang. MZ memepet sepeda motornya, sementara AZ langsung menyerang.

Punggung Daniel kena, dan dia langsung kabur. Madon yang menyupir, langsung berhenti. Kesempatan ini tak disia-siakan AZ. Parangnya dibacokkan ke kepala Madon, hingga tersungkur bersimbah darah.

Melihat kondisi korbannya, para pelaku langsung kabur ke sebuah warnet di kawasan Mayang. Di sana mereka membuang parang tersebut. Sementara itu, Daniel akhirnya berusaha mendapat pertolongan dari warga sekitar. Mereka pun membawa Madon ke rumah sakit. Madon sempat menjalani perawatan beberapa hari di RSUD Raden Mattaher Jambi. Namun nyawanya tidak tertolong.  Dia meninggal dunia Kamis, 1 April lalu. (ist/ji)





BERITA BERIKUTNYA
loading...