Oleh : Suhardiman Rusdi

Sejarah Asal Mula Penduduk Kampung Tua Tanjung Tanah

Selasa, 01 Juni 2021 | 22:15:52 WIB

()

 

Jambione.com- Bumi Sakti Silujur Alam Kerinci merupakan salah satu pusat peradaban malayu tua yang ada di Indonesia bahkan di dunia, berbagai peninggalan kebudayaan masa lalu masih banyak tersimpan di negeri yang dijuluki sekepal tanah dari surga "sekepal tanah dari surga", julukan ini diberikan kepada Alam Kerinci dikarenakan tanahnya yang subur, udaranya sejuk, pemandangannya indah dikelilingi bukit yang hijau serta pemandangan Pasir Panjang Tanjung Tanah Danau Kerinci nan elok. 

 Suku Kerinci yang mendiami wilayah puncak Andalas pulau Sumatera dikenal sebagai salah satu suku malayu tertua yang ada di pulau Perca Sumatera. Alasan untuk mengelompokkan atau menggolongkan suku Kerinci ke dalam salah satu suku malayu  tertua karena pada zaman megalithikum sudah ada manusia serta budayanya di wilayah Alam Kerinci. Van der  Hoop pada tahun 1937 menemukan alat-alat dari obsidian di kawasan pinggiran Danau Kerinci yang sama bentuknya dengan alat-alat yang terdapat di Bandung Jawa Barat, yang merupakan inti dari kebudayaan Mesolithikum (Kahar,1981-1982:43). 

 Suku Kerinci menurut para ahli dan ilmuwan merupakan bagian dari orang Malayu, sebagian dari ahli menyebutkan suku Kerinci berasal dari zaman Neolithikum, dan pendapat ini secara kasat mata dapat di lihat dari : Tipe orang Kerinci yang ada sekarang memperlihatkan banyak persamaan dengan Malayu tua, yang mirip dengan tipe Mongoloid, mata menyerupai mata orang Cina, badan pendek tegap dan kulit mendekati putih. Bahasa Kerinci termasuk golongan bahasa Austronenesia barat, yaitu bahasa Malayu tua. Alam dan Suku Kerinci itu unik dan spesifik. Masyarakat suku Kerinci pada masa lalu sudah memiliki bahasa, aksara Incao (miring), undang-undang (hukum), dan bahasa Kerinci mempunyai bermacam-macam logat/dialek disetiap kampung. Hampir di setiap jengkal pelosok alam Kerinci terdapat beragam benda budaya diantaranya adalah batu Megalith, Selindrik, Punden berundak,Menhir dan berbagai artefak-artefak termasuk Naskah Kuno Kerinci yang ditulis pada daun lontar,Daluang, tanduk, Tulang, ruas bambu, batu, dan ratusan benda budaya yang berumur ribuan tahun.

 Keberadaan Kampung Tua Tanjung Tanah Di Kabupaten Kerinci Jambi Dapat dipastikan sama tua atau barangkali keberadaannya lebih tua lagi dari pada  sejarah keberadaan Kerajaan Besar Dharmasraya Malayu-Jambi Abad 13 M.  Tigo Luhah Tanjung Tanah  tempo dulunya dijuluki Bumi Undang Silujur Alam Kerinci, kerena dikampung itulah ditemukan, ditempatkannya Dua  Naskah Undang-Undang yang diruntukkan atau diterapkan di Bumi Silujur Alam Kerinci. Kedua Naskah Undang-Undang itu dibuat atau dirumuskan bersama-sama oleh pihak kerajaan dan para Depati Silujur Alam Kerinci. Undang-Undang itu dibuat sebagai alat para Depati, Pemangku Adat untuk  memerintah,mengatur penduduk se-isi Bumi Silujur Alam  Kerinci. Dua Naskah Undang-Undang yang ditemukan, ditempatkan di kampung tua Tanjung Tanah yang pertama adalah Naskah Undang-Undang yang dibuat pada jaman Kejayaan kerajaan Dharmasraya Malayu-Jambi abad 13/14M (Tambo Kerinci 214) . Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah  tidak semuanya tertulis dengan aksara Malayu Kuno, namun pada dua  lembar terakhir KUUTT,  ditulis dengan aksara Incoung (aksara Kerinci kuno), Naskah kuno ini lebih populer disebut Kitab Undang-Undang Tanjung Tanah Naskah Malayu Tertua Didunia.  

 Naskah Undang –Undang yang kedua ditemukan, ditempatkannya di dikampung Tua Tanjung tanah adalah Naskah Undang-Undang Yang beraksara Arab-Malayu yang dibuat, dikeluarkan pada jaman kerajaan Kesultanan Islam Jambi Abad 16/17 M. (Tambo Kerinci 215).

 Tanjung Tanah Kampung tua ini terletak ditepi Danau Kerinci sekarang termasuk dalam Wilayah Kecamatan Danau Kerinci, Kabupaten Kerinci-Jambi. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda (1903-1942) mengabungkan kampung ini kedalam Wilayah Kemandapoan Tanah Saliman Kerinci Hilir, Kampung ini terletak kira-kira 13 Km dari pusat Kota Sungai Penuh, dikelilingi oleh hamparan sawah yang luas dan dikelilingi oleh bukit2 barisan, gunung  menjulang, menghijau, dan pantai pasir Panjang nan elok  tak heran kalau kampung Tanjung Tanah  tempo dulu tersohor sebagai lumbungnya padi di Kabupaten Kerinci, dengan jumlah penduduk lebih kurang 6000 jiwa, sekarang Kampung Tanjung Tanah telah dimekarkan  menjadi tiga Desa, Tanjung  Tanah selaku desa induk, Desa Simpang Empat , Desa Dusun Baru Tanjung Tanah,  secara wilayah adat disebut Tigo Luhah Tanjung  Tanah, mengapa disebut Tigo luhah, kerena penduduk yang mendiami Kampung tersebut dihuni oleh penduduk berasal dari keturunan Tigo luhah/ kalbu Tersebut . Ada yang disebut Luhah  Depati Talam, ada yang disebut Luhah Depati Bumi dan ada pula yang disebut Luhah Depati Sikumbang.

 Penduduk Tigo Luhah Tanjung  Tanah rata- rata bekerja sebagai petani, nelayan, buruh, pedagang, tukang, peternak sebagian kecil ada yang bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Sebagian besar penduduk Tigo Luhah Tanjung Tanah memilih berhijrah ke negeri jiran tepatnya di Kampoeng  kerinchi Kota Kuala Lumpur Malaysia. Cerita tentang Kampong  Kerinchi yang  pasti bahwa orang yang pertama yang bertanggung jawab dalam memainkan peranan penting dalam manaruko awal (Membuka) serta menamai Kampung Kerinchi-Kuala Lumpur dan kawasan di sekitarnya ialah Haji Abdullah bin Ahmad. Kedatangan Haji Abdullah bin Ahmad ke Tanah Malayu Malaysia bukanlah secara individu tetapi beliau membawa  isterinya serta ahli keluarga yang lain terutamanya mereka yang berasal dari satu kampung di tempat asal mereka Yaitu Kampung tua  Tanjung Tanah, Kerinci-Jambi diparuh abad 19 M. 

 Menurut tradisi lisan yang masih dituturkan turun-temurun oleh orang tua-tua Kampung. Ninek moyang penduduk kampung Tua Tanjung Tanah pada mulanya menetap, bertempat tinggal disekitar Tanjung Kerbau Jatuh Tepatnya disikitar Tanjung Hatta-Tanjung Merindu (Sanggaran Agung) Pinggir Danau Kerinci dari mana ia berasal tidak ada yang tahu  pasti. Ninek moyang Penduduk Tanjung Tanah cukup lama bermukim  dan bertempat tinggal disitu.  Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun  Makin lama penduduk keturunan ninek moyang Tanjung Tanah semakin banyak, lahan persawahan semakin lama semakin menyempit.

 Berhubung ninek moyang penduduk Tanjung Tanah merasa  wilayah itu tidak cocok lagi untuk dijadikan lahan persawahan dan tempat bermungkim , satu persatu ninek moyang penduduk Tanjung Tanah mulai berpindah mencari wilayah baru yang cukup luas untuk dijadikan lahan persawahan serta untuk dijadikan tempat pemukiman baru , lokasi yang dipilih untuk dijadikan tempat pemukiman baru tersebut itupun masih berada di pinggir Danau Kerinci yakni di sekitar Umpont Anggaouk (Bumi Hitam) atau Kayu Malinta (Saliman Rendah) Wilayah itu sekarang lebih dikenal dengan nama Tempat Kubur  Ninek Ji-Lateh (H. Abdul Latif), entah barapa tahun entah berapa abad pula ninek Moyang Penduduk Tanjung tanah tinggal disitu, agak nya besar kemungkinan penduduk awal yang bermukim disitu di Umpont Anggaouk adalah penduduk keturunan dari kalbu/luhah Depati Bumi. 

 

Selanjutnya pula diceritakan oleh Tambo Dusun Tanjung Tanah (Tambo Kerinci.223.) Diceritakan bahwa inilah usul kita tatkala masa dahulu kemudian dari anak Ratu sunan Jawa-Mataram sembilan beradik, seorang bergelar Sultan Ratu MajaPaid. Seorang bergelar Sultan Maraja Said, seorang bergelar Sultan Maraja Inang, seorang bergelar Sultan Maraja Salih, seorang bergelar Sultan Maraja Batu, seorang bergelar Sultan Maraja Basa/Besar, seorang bergelar Sultan Maraja Bangsu, seorang bergelar Sultan Kardo Besi/Garindo Besi, seorang bergelar Sikh Abd. rahman. Tatkala masa dahulu berperang dengan Tiku Pariaman berebut gedang.  Kata Raja Tiku Pariaman hamba dahulu turun di Pagaruyung. Kata Ratu MaharajaPaid hamba dahulu turun di pagaruyung, maka jadi perang, akan kalah Jawa-mataram, maka keluarlah ninik sembilan beradik itu. maka larilah musuh semuanya, tinggallah rampasan yang banyak, adapun riyal dapatnya sebuah gedung lima hasta bujur sangkar dan meriam satu pupus penuh sebuah, itulah lagi harta itu tinggal di Jawa-Mataram. Kemudian dari itu maka pikirlah ninik yang sembilan beradik itu hendak menjalang Pagaruyung, maka berhentilah di bukit Saguntang2 kerena hendak melihat musuh kalau lagi akan datang, kamudian dari pada itu maka berjalan pula maka berhenti pula di Koto Rayo, kamudian dari pada itu maka jadi kerjaaanlah Sultan Maraji Said di Jambi, maka berjalanlah orang yang tujuh beradik itu, maka tinggal Sultan Maraja Said di Jambi itu.

 Maka dimudikkanlah air Batang Hari maka lepaslah ke Pagaruyung. Kamadian dari pada itu maka berbaliklah di Pagaruyung maka lepaslah ke Pariyang Padang Panjang lamalah di situ, maka lepaslah ke Tebo-Bungo, maka lepaslah pula ke hulu air diki maka dihilirlah pula air diki maka tibolah di muara air diki, bersua (bertemu)lah dengan air gedang maka dikembangkanlah tabir maka digelarkanlah batang air itu Batang Sungai Tabir, maka pikir orang yang tujuh beradik itu, maka dimudikkanlah air Sungai Tabir itu maka tinggallah Sultan Maraja Batu itu, maka berjalan orang yang enam beradik itu maka sampailah ke Talun tinggi maka berdusunlah di situ maka tinggallah Sultan Maraja Besar di situ, maka berjalanlah orang yang lima beradik itu maka sampai ke hulu air itu tiada boleh lagi tempat mandi, karena air itu sudah kecil, maka berpikirlah orang yang lima beradik itu jikalau kita mudikkan juga air ini tiba pula kita di Pagaruyung, jikalau kita kirikan air ini, ada renah yang lebar, maka berjalan pulalah orang yang lima beradik itu bersua (bertemu) pula dengan sungai gedang, maka berhenti pula di situ maka turun pula hujan gedang maka gedang air itu maka digelar sungai itu sungai gedang, maka  berjalan pula dari situ bertemu pula dengan batu gedang maka berhenti pula di situ maka hari terus pula panas maka dikembangkan pula payung, maka digelarkan pula Batu Bapayung, maka berjalan pula  dari situ bertemu pula  dengan sungai bertumbuk tiga baik rupanya maka berdusunlah di situ karena banyak emas rupanya disitu seperti kepinding lapar rupanya emas lekat (menempel) dinapan. rupanya maka digelarkan dusun itu ulu Kalinding lama pula dari situ maka berjalan Sultan Maraja Inang, maka bertemu hulu air Hiang, maka dihilirkan air itu, adapun anaknya Sultan Maja inang itu Petinggi emas IndarJati.

Adapun Sultan Maraja Salih dua beradik dengan Temenggung Kertapati, berjalan maka bertemu pula air Kinci maka dihilir pula air itu. Kemudian dari itu maka berjalan pula Sultan Marajo Bangsu, Sultan Karda Besi/Garindo Besi, Siah Abd. Rahman. Adapun anaknya Sultan Marajo Bangsu Kertam Batu, adapun anaknya Sultan Kardo Besi /garindo Besi namanya Naai, anaknya puyang ruwanti. Adapun Sikh Abd. Rahman Tunggah raja nama anaknya, maka berjalanlah pula ketiko itu. Adapun Sultan Marajo Bangsu turunlah ke bukit kudeng, dari bukit Padang maka berdusunlah pula Kayuaro tungkat. Adapun Sultan Kardo Besi/Garindo Besi dengan Sikh Abd. Rahman maka turunlah ke batu gedang, dari situ maka bertemu dengan air Tanjung maka dihilirkanlah air itu maka berdusunlah pula dusun Tanjung, lamalah pula dari situ maka berjalan pula orang dua beradik itu maka berdusunlah pula sungai napan, lamalah pula dari situ maka berjalan pula Sultan Kardo Besi/Garindo Besi, maka Sich Abd. Rahman tinggallah di situ. Sultan Kardo Besi/Garindo Besi, bersualah (bertemu) dengan Tanah Bertanjung maka melihatlah Hilir mudik maka tampaklah danau dengan rendah, maka digelarlah (Dinamai) Dusun Itu Tanjung Tanah.

 Adapun isterinya Sutan Kardo Besi/Garindo Besi adalah Dayang Ruwanti, anak beliau seorang begelar Naai, seorang bergelar Raja Masail, seorang bergelar Raja Temenggung, Raja Masail dengan Raja Temenggung tinggallah ke dusun Talang Batu Besar. Adapun Naai mengadakan Sejambi, Sejambi mengadakan Dayang emas. Dayang emas mengadakan Kembang genap, Kembang genap mengadakan sediwi. Sediwi mengadakan Kembang dua, Kembang dua mengadakan Seman gl. Depati Mangku Bumi Mengentar Alam. Selanjutnya Sultan Kardo Besi/Gerindo Besi  beserta Istrinya Dayang Ruwanti bertempat tinggal di Tanah bertanjung/tanggit (Tanjung Tanah). Keduanya beranak pinak dan keturunannya berkembang-biak sampai sekarang, agaknya besar kemungkinan dari keturunan Sultan Kardo Besi/Gerindo Besi melahirkan keturunan penduduk dari luhah/kalbu Depati Talam.

 Lebih lanjut dituturkan pula oleh orang tua-tua  ninek Moyang Penduduk Tanjung tanah yang  bertempat tinggal menetap di Umpont Anggaouk ramai2 pula pindah ke Tanggit  dan menyatu dengan penduduk yang telah lama ada bermungkim ditanggit tanah bertanjung,  pada akhirnya terbentuklah mula awal lahik Saralent (larik-Dalam), seterusnya penduduk semakin lama semakin ramai dan terbentuk pula lahik sarayik (Dayik), berlanjut terbentuk pula lahik ujo, lahik panja, berlanjut membentuk lahik mudik, lanjut membentuk lahik sarahet (Dahet) terus terbentuk pula dusun Balai Simpang Empat-Tanjung Tanah  dan Saat ini secara keseluruhan Disebut Tigo Luhah Tanjung Tanah. Dulunya Dijuluki Bumi Undang Silujur Alam Kurinci. (.AHR.)

 






BERITA BERIKUTNYA
loading...