Selain Banding, Aan Ayam Berencana Melapor Secara Pidana

Senin, 19 Juli 2021 | 07:05:33 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Hasanudin alias Aan Ayam alias Coang tengah mempersiapkan tim hukum. Dia memastikan akan mengajukan banding atas putusan Pengadilan Negeri (PN) Sengeti dalam perkara lahan (tanah) di RT 25 Desa Kasang Pudak, Kecamatan Kumpeh Ulu Kabupaten Muarojambi yang digugat Haji Busro.

Saat ini para lawyernya tengah mempelajari keputusan PN Sengeti Nomor: 56/pdt.G/2020/PN Snt, tanggal 7 Juli 2021 yang mengabulkan gugatan penggugat (H Busro). Padahal menurut Aan Ayam, H Busro selaku penggugat mengklaim sebagai pemilik tanah tersebut hanya berdasarkan sporadik yang dikeluarkan tahun 2004. Dalam sporadik tersebut itupun objek tanah tertulis dalam wilayah Kota Jambi.

Menurut Aan Ayam, objek tanah seluas 44.374 M2 yang diperkarakan ayah Bupati Muarojambi Masnah tersebut masuk dalam tiga Sertifikat tanah hak miliknya. Yakni sertifikat nomor 835 atas nama Hasanudin alias Aan ayam alias Coang, serifikat nomor 845 atas nama Ratnawati, dan serifikat nomor 844 atas nama sandi.

Makanya, Aan Ayam melakukan perlawanan hukum dengan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi (PT) atas putusan PN Sengeti tersebut. ‘’ Tim hukum saya masih mempelajari apa dasar hakim PN Sengeti mengabulkan gugatan H Busro. Karena sudah jelas dia menyerobot tanah saya,’’ katanya, Sabtu (17/7).

Aan Ayam menegaskan, dari legalitas dokumen sudah jelas tanah tersebut masuk dalam tiga sertifikat miliknya yang diterbitkan tahun 1990. Objeknya pun di Muarojambi. Sementara Sporadik H Busro dikeluarkan tahun 2004. ‘’ Ini yang sedang kita telusuri, bagaimana bisa legalitas Sertifikat bisa dikalahkan oleh sporadik,’’ ujarnya.   

Apalagi lanjut dia, semua legalitas atas tanah tersebut telah dipenuhuinya sebagai warga yang taat aturan. Diantara membayar pajak setiap tahun, izin bangunan, izin ligkungan hidup, izin usaha, nomor induk berusaha (NIB), izin oprasional/Komersial, dan lain-lain. Semua itu diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Muarojambi.

Sebab objek tanahnya terletak di wilayah adminitrasi Pemkab Muarojambi, yang dulunya masuk wilayah Kabupaten Batanghari. Baru pada tahun 1999 pemekaran wilayah menjadilah Kabupaten Muarojambi.  ‘’Semua bukti pembayaran pajak sudah saya lampirkan. Buktinya ada semua. Jadi apalagi masalahnya,’’ katanya.

Makanya, Aan Ayam mengaku akan terus akan melawan. Selain mengajukan banding, dia juga berencana membawa masalah ke ranah hukum pidana. Semua pihak yang terlibat dalam kongkalikong ini akan dia laporkan ke pihak kepolisian. ‘’ Memaori banding paling lambat tanggal 27 Juli sudah kita ajukan. Saat ini kita tengah mempertimbangkan melaporkan masalah ini secara pidana,’’ tambahnya.           

Seperti diberitakan sebelumnya, Aan ayam menjelaskan awalnya lokasi tanah itu adalah hamparan hutan belantara. Pada tahun 1986 dibuka dan digarap oleh kelompok tani desa setempat. Kemudian pada tahun 1990 terbitlah sertifikat hak milik atas nama para anggota kelompok tani yang memiliki lahan. ‘’Termasuk lokasi hak milik saya. Semuanya sudah memiliki sertifikat hak milik,’’ katanya.

Pada tahun 2020, tiba tiba H Busro memperkarakan lokasi tanahnya yang sudah bersertifikat. H Busro berbekal surat alas hak, berupa surat sporadik tahun 2004 dengan luas lahan lebih kurang  44.374 m2 atau sekiatar 4 hektar 43 tumbuk. Objeknya terletak di RT 27 Kelurahan Payo Selincah, Kecamatan Jambi Timur, Kota Jambi.

Padahal Aan ayam telah menguasai fisik bidang tanah tersebut lebih dari 12 tahun. Sertifikatnya pun jauh lebih ‘tua’ dari sporadik yang dimiliki H Busro yang dijadikan dasar menggugat.

‘’Sporadiknya dikeluarkan tahun 2004, objeknya pun di Kota Jambi. Bukan Muarojambi. Sedangkan sertifikat saya Muarojambi. Anehnya lagi, menurut pengakuan H Busro, surat  sporadik itu dididapatnya dari jual beli dengan anggota kelompok tani atas dasar tebas tebang hutan tahun 2004. Padahal, pada tahun itu (2004) tidak ada lagi hutan di area yang di perkarakan,’’ jelasnya. (ist)






BERITA BERIKUTNYA
loading...