Garap 16 Kontraktor, KPK Gali Informasi Aliran Uang Suap ke Paut dan Apif

Selasa, 14 September 2021 | 19:32:18 WIB

Asiang dan istrinya Lily usai diperiksa KPK di Polda Jambi, Senin (13/9)
Asiang dan istrinya Lily usai diperiksa KPK di Polda Jambi, Senin (13/9) ()

 

Jambione.com, JAMBI-  Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali melanjutkan pemeriksaan saksi kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2017-2018 di Polda Jambi, Senin kemarin (13/9). Kali ini yang dimintai keterangan adalah 16 orang kontraktor yang dalam persidangan sebelumnya sebagian besar disebut sebut sebagai donatur alias pemberi uang untuk menyuap anggota DPRD Provinsi Jambi.

            Ke 16 kontraktor itu antara lain Ismail Ibrahim alias Mael Bungo yang juga merupakan ipar mantan Gubernur Jambi Fachrori Umar. Berikutnya, Hardono alias Aliang, Hendri (Direktur Utama PT Sinar Utama Indah Lestari Abadi, Ali Tonang alias Ahui (Direktur PT Chalik Suleiman Bersaudara), Joe Fandy Yoesman alias Asiang (Direktur Utama PT Sumber Swarnanusa), Lily—istri Asiang (Komisaris PT Chalik Suleiman Bersaudari), dan Lina (Direktur PT Sumber Sumber Swarnanusa).

Selanjutnya, Norman Robert, Rudy Lidra Amidjaja (Direktur Utama PT Rudy Agung Laksana) dan Andi Putra Wijaya (Direktur Utama PT Air Tenang). Kemudian,Kendrie Aryon Alias Akeng (Direktur Utama PT Perdana Lokaguna), Edi Zulkarnaen (Direktur PT Fadli Satria Jepara), Chandra Ong Alias Abeng, Hendri Attan alias Ateng (Direktur PT Artha Mega Sentosa), Musa Effendi (Pemilik CV Berkat Usaha Lestari), dan Yosan Tonius Alias Atong (Direktur Utama PT Wahyunata Arsita).

            Pantauan  di lapangan, Norman Robert dan Lina datang berbarengan ke lokasi pemeriksaan di gedung lama Mapolda Jambi sekitar pukul 12.04 WIB. Keduanya berada di ruang pemeriksaan sekitar satu setengah jam. Pukul 13.30 WIB, keduanya keluar dari ruang pemeriksaan.

Saat ditanya wartawan, Norman dan Lina menyatakan kedatangan mereka tidak terkait dengan kasus suap "uang ketok palu". "Ndak ada urusannya dengan saya," kata Norman sambil menuruni anak tangga menuju ke mobilnya.

            Sementara saksi lainnya, Andi Putra Wijaya saat ditanyai wartawan mengaku diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Paut Syakarin. Andi datang memenuhi panggilan tim penyidik KPK sekitar pukul 13.12 WIB. Dia tampak memakai baju kaos polo warna biru, celana hitam.

 "Ada sekitar 10 lah pertanyaan tadi, untuk Paut dan kawan-kawan," kata Direktur Utama PT Air Tenang itu menjawab pertanyaan wartawan usai diperiksa.

            Saksi lainnya, Direktur PT. Rudy Agung Laksana, Rudy Lidra Amidjaja usai pemeriksaan berusaha menghindari wartawan. Ia berjalan dengan cepat keluar dari gedung lama Mapolda Jambi. Nakun Rudy Lidra sempat mengatakan diperiksa untuk tersangka Paut Syakarin. "Untuk Paut Syakarin," ujarnya.

            Terpisah, Direktur PT Fadli Satria Jepara, Edi Zulkarnaen saat dikonfirmasi mengatakan dirinya diperiksa sebagai saksi tersangka Apif Firmansyah. "Jadi saksi Apif," ujarnya.

            Pengusaha Hendry Attan juga memilih bungkam saat ditanya wartawan usai diperiksa penyidik KPK. Mengenakan baju kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana jeans, Direktur PT. Artha Mega Sentosa itu tiba di Polda Jambi sekitar pukul 15.00 WIB. Usai diperiksa lebih kurang satu jam, Hendry langsung pergi tanpa menjawab satupun pertanyaan wartawan.

            Namun bukannya langsung meninggalkan Polda Jambi, Hendry terlihat menuju ruang Subdit III Tipikor Direktorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jambi. Hanya saja, tidak diketahui tujuan Hendry menuju ruangan tersebut.

            Sementara itu, Joe Fandy Yoesman alias Asing datang bersama istrinya Lily yang juga diperiksa. Ditanyai wartawan usai pemeriksaan, Asiang yang juga merupakan terpidana dalam kasus ini dan telah bebas, menyatakan keterangan yang ia berikan masih sama dengan keterangan saat pemeriksaan sebelum-sebelumnya. "Keterangan masih sama seperti sebelumnya," ujarnya.

            Seperti diketahui, ke 16 kontraktor yang diperiksa ini namanya disebut dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan persidangan Zumi Zola. Mereka sebagian besar disebut sebagai pemberi dana alias donatur untuk menyuap anggota dewan. Dana yang mereka berikan berkisar antara Rp 300 juta- Rp 2 Miliar. Dana tersebut diberikan melalui Apif  dan kaki tangannya.  

            Diantara para kontraktir tersebut, baru Asiang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan sudah menjalani hukuman. Dalam kasus ini Asiang awalnya divonis 2 tahun 6 bulan penjara dan denda Rp 250 juta subsidair 4 bulan penjara oleh majelis hakim Pengadilan Tipikor Jambi.

Terhadap vonis tersebut, awalnya Asiang menyatakan menerima.

Namun belakangan ia mengajukan peninjauan kembali (PK), dan dikabulkan Mahkamah Agung. Hukuman Asiang dikurangi menjadi 1 tahun 6 bulan, serta denda 250 juta subaidair 4 bulan kurungan.

            Juru bicara KPK Ali Fikri mengatakan ke 16 saksi diperiksa untuk tersangka Farurrozi, Arakhmat Eka Putra, Wiwid Iswara, dan Zainul Arfan, yang merupakan anggota DPRD Provinsi Jambi peridoe 2014-2019. Selain itu, juga untuk tersangka Paut Syakarin dan Apif Firmansyah.

            Sebelumnya, penyidik KPK juga telah memeriksa sejumlah anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2014-2019. Pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Jambi periode 2014-2019 yang menjadi terpidana dalam kasus ini juga telah diperiksa di Lapas Klas IIA Jambi.(fey/ist)

 






BERITA BERIKUTNYA
loading...