Sejarah Konflik Si Raja Hutan-Manusia di Jambi Berlangsung Sejak 1998, Puluhan Korban Tewas

25 Warga Nambang di Habitat Harimau

Selasa, 19 Oktober 2021 | 06:56:50 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Belajar dari pengetahuan ekologi tradisional masyarakat di sekitar hutan, konflik manusia dengan harimau atau satwa lainnya seharusnya tak perlu terjadi. Masing-masing punya habitat tersendiri dan bisa hidup harmonis.

Namun, dalam dasawarsa terakhir ini, konflik manusia versus satwa liar, seperti harimau, di beberapa kawasan Sumatera kian sering terjadi. Termasuk di Jambi. Sejak 25 September 2021 terjadi konflik antara manusia dan Harimau Sumatera di Kabupaten Merangin yang menyebabkan dua orang meninggal dunia dan 1 luka-luka.

Korban pertama, benama  Rasidi 30 Tahun, Petani Warga Desa Guguk. Korban diserang si raja hutan ketika sedang beristirahat di sekitar Sungai Nilo bersama teman-temannya pukul 20.00 WIB.  Saat korban sedang minum teh, tiba-tiba Harimau datang dan mengigit lehernya.

Lokasi kejadian berada di Hutan Produksi dan berbatasan langsung dengan Hutan Adat Guguk.

Mayat korban baru bisa dievakuasi tiga jam kemudian, Pukul 23.00 WIB, setelah warga sekitar berhasil mengusir harimau.

Kemudian, pada tanggal 11 Oktober 2021, konflik kembali terjadi. Korban kedua bernama Pami 62 Tahun. Petani, warga Desa Marus Jaya. Pami diserang Harimau ketika sedang berada di kebun karet miliknya di Desa Marus Jaya, berjarak 2 km dari lokasi korban pertama. Untungnya Pami berhasil selamat.

Serangan ketika terjadi tanggal 13 Oktober 2021. Korbannya bernama Abu Bakar (21). Petani, warga Desa Air Batu. Korban diserang si raja hutan ketika sedang mencari signal internet di Bukit Semenit, Dusun Baru, Air Batu di samping kebun karet bersama temannya, pukul 17.00 WIB.  Harimau tiba-tiba menerkam dan menyeret tubuh korban. Teman-temannya berusaha meminta pertolongan warga hingga jasad korban berhasil diamankan dari si raja hutan tersebut.

Selain di Jambi, sepanjang tahun 2020 tercatat delapan kasus konflik antara manusia dan harimau di Aceh. Sementara pada tahun yang sama di kawasan lainnya, seperti di Sumatera Selatan, diberitakan bahwa enam petani di Pagaralam Lahat dan Muara Enim diterkam harimau (Kompas.com, 3/1/2020).

Tidak hanya itu, di tempat lainnya, seperti di Desa Alang, Kacamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis, Riau, harimau sering masuk dusun sehingga menyebabkan warga desa sangat resah dan ketakutan (Royani 2018). Kemudian, pada 30 Juni 2021, seorang laki-laki warga Nagari Koto Bangun, Kecamatan Kapur IX, Sumatera Barat, yang sebelumnya diberitakan hilang ketika menangkap ikan di sungai, akhirnya ditemukan di kawasan ladang pinggiran hutan, berkisar 5-6 kilometer dari desanya, dalam kondisi meninggal.

Diduga kuat ia diterkam harimau. Pasalnya, badannya penuh dengan luka-luka, bagian perutnya terdapat jejak cakaran kuku, dan ada bolong di tengkuk, sebagai tanda-tanda diagnostik bahwa korban diterkam harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae).

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Jambi telah berhasil menangkap Harimau yang menyerang tiga warga Merangin. Selanjutnya, hewan yang dilindungi itu dibawa ke Tempat Penyelamatan Satwa BKSDA Jambi di Mendalo,  Kabupaten Muaro Jambi.

Koordinator Penyelamatan Satwa BKSDA Jambi, Sahron mengatakan harimau yang diselamatkan berjenis kelamin betina,  dengan panjang +180 cm, umur sekitar 10-12 tahun. Pada saat evakuasi tidak dilakukan pembiusan dikarenakan kondisi harimau yang sangat lemah. Kondisi kaki depan sebelah kanan terdapat luka bekas jerat, dengan kondisi badan kurus, lemah dan memprihatinkan.

Menurut Sahron, penyebab harimau menyerang warga sekitar diperkirakan karena habitatnya yang terganggu. ‘’Berdasarkan informasi yang kami terima, di desa Guguk itu ada sekitar 25 orang masyarakat yang memasuki habitat harimau untuk melakukan aktifitas illegal seperti minning,” katanya saat konferensi pers di BKSDA Mendalo Jambi, Minggu (17/10).

Untuk diketahui, sejarah konflik Harimau dengan masunia di Jambi sudah terjadi berulang ulang. Berdasarkan hasil rekapitulasi data konflik satwa liar di Jambi versi Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi, tercatat pada 2010 sebanyak 15 kasus. Sementara hingga paruh tahun 2011, konflik dengan harimau di Jambi ada sudah mencapai lima kasus. Konflik antara manusia dengan harimau di wilayah Provinsi Jambi selama 2011 termasuk tertinggi kedua di Sumatera setelah Provinsi Riau.

Sementara itu, sepanjang tahun 2020, BKSDA Jambi menangani konflik antara hewan liar dan manusia sebanyak 72 kali. Puluhan konflik tersebut sebagian besar dipicu dengan kondisi habitat dan ekosistem yang sedang terganggu.

Puluhan konflik yang ditangani BKSDA Jambi, 19 di antaranya melibatkan seekor Harimau Sumatera (Phantera Tigris Sumateranus). Salah satu konflik dengan Harimau Sumatera menyebabkan 2 orang meninggal dunia. Konflik ini terjadi pada tanggal 1 sampai tanggal 7 Januari 2020 di Kecamatan Muara Enim, Sumatera Selatan.

Konflik antara Harimau Sumatera dan manusia di Jambi sepanjang tahun 2020, tidak menimbulkan orang meninggal dunia, walaupun sebagian besar terjadi di daerah tersebut.

Koordinator Polisi Kehutanan BKSDA Jambi menjelaskan puluhan konflik ini mengindikasikan habitat hewan liar sedang terancam atau mulai mengalami kerusakan. Ancaman itu, juga disebabkan perkembangan permukiman dan aktifitas perekonomian sekitar habitat para hewan liar. Tidak heran, para satwa liar justru memasuki permukiman warga untuk mencari makan.

"Habitat mereka bisa dikatakan mulai rusak, mau tidak mau para hewan dan hewan jadi berkonflik," sebutnya.

Kemudian, berdasarkan data Forum Konservasi Harimau Kita, konflik manusia dengan satwa, khususnya harimau di Jambi sejak 1998 hingga 2010 mencapai 103 kasus. Angka konflik tertinggi ada di Provinsi Riau yang menembus angka 134 kasus, disusul Provinsi Aceh sebanyak 98 kasus, Lampung 86 kasus, Bengkulu 71, Sumatera Utara 11 kasus, Sumatera Barat delapan kasus dan Sumatera Selatan empat kasus.

Jika berdasarkan tahun terhitung 1998-2011, jumlah konflik terbesar terjadi pada 2010 sebanyak 98 kasus, tahun 2009 (87 kasus), 2004 (81) dan 2008 (61). Pada tahun 2006 dan 2007 jumlahnya sama yakni 44 kasus, 2002 dan 2005 juga sama (39 kasus), 2001 (29) dan 2003 (19). Sedangkan tahun 1998, 1999 dan 2000, jumlah konflik hanya tiga atau satu kasus pertahunnya.

Perseteruan antara satwa liar dengan manusia itu juga menimbulkan kerugian di kedua belah pihak. Dari 563 konflik yang terjadi, korban meninggal dunia 57 orang dan korban hidup atau luka-luka 81 orang. Selain manusia, banyak hewan ternak milik masyarakat menjadi korban yang jumlahnya bervariatif, di antaranya kambing 101 ekor, unggas (87), anjing (82), sapi dan kerbau (42), babi (11), kuda (2) dan simpai satu ekor.

Namun tidak sedikit pula harimau yang mati menggenaskan ditangan warga. Dari jumlah kasus tersebut, harimau mati sebanyak 46 kasus, ditangkap sebanyak 22 kasus, yang berkeliaran ada 63 dan dilepas 223. Timbulnya konflik ini akibat tergerusnya kawasan hutan akibat kegiatan manusia yang memanfaatkan kawasan tersebut sehingga menganggu habitat satwa seperti kegiatan penambangan, perkebunan, perambahan dan lain sebagainya.(ist/dari berbagai sumber)






BERITA BERIKUTNYA
loading...