Haris: Sopir Sepakat Lewat Jalan Bajubang-Tempino dan Tak Boleh Lebihi Tonase

Pengalihan Jalur Angkutan Batubara Bisa Timbulkan Masalah Baru

Selasa, 16 November 2021 | 07:38:08 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Rapat Koordinasi (Rakor) masalah angkutan batubara di Auditorium Rumah Dinas Gubernur Jambi, Senin kemarin (15/11) melahirkan beberapa keputusan. Salah satunya adalah mengalihkan jalur angkutan batubara. Kedepannya, angkutan batubara diarahkan melewati jalur lintas selatan, yakni Jalan Bajubang-Tempino.

Rakor tersebut dipimpin Gubernur jambi AL Haris, Kapolda Jambi Irjen Pol A Rachmad Wibowo dan unsur forkopimda, bupati/wali kota yang daerahnya dilintasi angkutan batubara, mahasiswa, sopir, investor, serta OPD terkait. Gubernur Jambi Al Haris menyatakan, salah satu keputusan hasil rapat tersebut yaitu mengalihkan angkutan batubawa melewati jalur lintas selatan, Bajubang-Tempino.

"Jalur yang tadinya padat di ruas Mendalo-Muara Bulian dan juga yang selama ini sudah banyak korban di situ, kita alihkan dan disepakati oleh Kapolda ke Tempino dan Bajubang. Nantinya jalur itu berada di Lingkar Selatan," ungkap Al Haris pada sesi wawancara.

Selanjutnya dalam rapat itu juga disepakati angkutan batu bara tidak boleh lagi melebihi tonase. Keputusan ini juga disepakati oleh para sopir angkutan batubara yang hadir pada rapat tersebut. Haris juga meminta para pemilik izin usaha tambang batubara diundang dalam rapat selanjutnya, dalam membahas tarif angkutan.

" Kami akan segera mengundang pemilik izin usaha produksi batubara. Kita akan membahas tariff angkutan berapa harga yang pantas. Sehingga para sopir yang membawa muatan sedikit, tapi mereka tidak merasa rugi," jelasnya.

Haris juga mengklaim pihaknya akan mendorong para pengusaha yang sudah sepakat untuk membangun jalan khusus angkutan batubara. Dan segera membantu pembangunan jalan tersebut. "Kita dorong. Apabila ada yang mendorong untuk pembangunan jalan Khusus ini, maka permasalahan angkutan batubara dipastikan sudah selesai," ucapnya.

Saat ini, lanjut dia, pembangunan jalan khusus batu bara sudah berjalan dan berada di tahap pembebasan lahan masyarakat. "Saat ini kami sedang menjalani kesepakatan gantirugi kepada masyarakat. Ada yang sudah dan ada yang belum," pungkasnya.

Banyak yang menilai, pengalihan jalur ini bukanlah solusi yang tepat. Karena keputusan mengalihkan jalur angkutan batubara ke Bajubang-Tempino, kemudian melewati jalur padat jalan Tempino-Jambi kecamatan Mestong, Muarojambi bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah baru. Selain jarak tempuh yang semakin jauh, arus lalulintas di jalur tersebut juga cukup padat. Terutama pada sore dan malam hari.

Selain itu, jalur tersebut juga melewati area padat pemukiman penduduk. Jika tidak diawasi dengan ketat, bukan tidak mungkin jalur tersebut bakal menjadi sangat rawan kecelakaan lalulintas.

 ‘’ Untuk solusi sementara bolehlah angkutan batubara dialihkan melwati jalur Bajubang-Tempino- Kota Jambi. Namun, jika tidak diawasi ini bisa menjadi masalah baru lagi. Kondisinya bisa saja seperti kasus di jalur Muara Bulian-Mendalo. Karena jalur Bajubang-Tempino juga padat dan rawan. Terutama di jalur Tempino-Kota Jambi,’’ kata Yadi, salah seorang pemuda Mestong.

Menurut dia, saat ini arus lalulintas jalur Tempino-Kota Jambi atau sebaliknya sudah sangat padat dan rawan kecelakaan. Ditambah lagi dengan ribuan angkutan batubara yang akan melintas, jalur ini akan semakin padat. ‘’ Bisa dibayangkan bagaimana padatnya lalulintas Tempino-Kota Jambi (simpang Paal 10) nantinya. Bukan tidak mungkin akan menimbulkan masalah baru dikemudian hari,’’ ungkapnya.

Oleh sebab itu, lanjut Yadi, pemerintah harus tegas dan segera merealisasikan jalur khusus angkutan batubara. ‘’ Keputusan ini sama saja dengan menyelesaikan satu masalah dengan membuat masalah baru. Kita sebagai warga Mesting minta pihak kepolisian dan instansi terkait benar benar mengawasi pelaksanaan pengalihan jalur angkutan batubara ini. Jangan sampai timbul masalah baru,’’ pungkasnya. (ist)






BERITA BERIKUTNYA
loading...