Pembinaan Atlet Perastasi Terancam, Komitmen Gubernur Majukan Olahraga Dipertanyakan

Prestasi Meningkat, Anggaran KONI Disunat

Selasa, 23 November 2021 | 08:13:25 WIB

Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, Budi Setiawan.
Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, Budi Setiawan. (Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Prestasi para atlet Jambi di PON XXI Papua cukup membanggakan. Meski dengan anggaran minim, Jambi masih mampu meraih peringkat 18 dari 34 provinsi peserta . Ini naik dari peringkat PON di Jabar, 2016 yang berada diurutan 23. Di PON XX Papua, Jambi meraih 6 medali emas, 10 medali perak, dan 13 perunggu. 

Namun, sayangnya prestasi  olahraga Jambi itu tidak didukung dengan anggaran pembinaan yang dialokasi Pemprov Jambi. Anggaran pembinaan atlet prestasi malah disunat. Pada Tahun anggaran 2022, Pemprov melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) hanya mengalokasikan dana Rp 2,9 Miliar untuk KONI. ‘Penyunatan’ anggaran ini jelas berdampak buruk pada pembinaan olahraga prestasi Jambi

Ironisnya lagi, anggaran yang dialokasikan pemprov itu jauh lebih kecil dari dana yang dikucurkan Pemkot Jambi yang tahun depan menganggarkan Rp 6 Miliar untuk pembinaan olah raga di Kota Jambi. Dengan anggaran sekecil itu, pembinaan olahraga prestasi terancam tak jalan. Komitmen Gubernur Jambi terhadap kemajuan Olah Raga Jambi pun dipertanyakan.

Ketua Umum KONI Provinsi Jambi, Budi Setiawan, mengaku sangat kecewa dengan Pemprov Jambi. Dengan anggaran Rp 2,9 M di tahaun 2022, dia pesimis bisa meningkatkan prestasi olah raga Jambi di PON XXI di Aceh-Sumut 2024 mendatang.

" Tahun depan pemprov menganggarkan Rp 2,9 Miliar kepada KONI untuk pembinaan olahraga prestasi. Tapi itu masih dipotong sekitar Rp 450 juta untuk pelaksanaan turnamen sepak bola Gubernur Cup,"katanya kepada wartawan.

Dia pun membandingkan kucuran dana Pemkot Jambi yang mencapai Rp 6 Miliar. "Sangat jauh dengan anggaran KONI Kota Jambi. Padahal mereka membina prestasi olahraga di tingkat kota,"katanya.

Budi mengaku tidak tahu apa alas an Pemprov mengalokasikan dana sangat kecil untuk KONI tahun 2022. Padahal dia sudah mempunyai program pembinaan atlet menghadapi PON XXI di Aceh-Sumut 2024 mendatang. ‘’ Yang saya dengar alasannya tahun depan tidak ada event. Ini yang sangat kami sayangkan,’’ katanya.

Dengan anggaran minim tersebut, Budi jelas dibuat pusing tujuh keliling. Butuh effort dan etos melimpah untuk memulai program besarnya menghadapi PON XXI di Aceh-Sumut 2024 mendatang. Sebab dia berencana memulai pelatda jangka panjang sampai 2024 untuk kembali menempatkan prestasi olahraga Jambi minimal di 10 besar nasional.

"Ini berat. Tapi kami akan terus berusaha agar pemerintah bisa lebih memperhatikan pembinaan olahraga prestasi,"ungkapnya.

Budi memang telah merencanakan program besar menghadapi PON XXI. Pelatda jangka panjang akan segera dimulai usai PON Papua ini. Namun keterbatasan dana membuatnya harus lebih keras memutar otak.

Beberapa rencana pembinaan jangka panjang juga sudah dikonsep. Menurut dia, pemetaan kekuatan atlet tiap cabor juga sudah dilakukan saat masih berlaga di Papua kemarin. "Termasuk upaya kami untuk menggolkan ranperda keolahragaan Jambi sebagai payung hukum pembinaan olahraga prestasi harus terus didorong,"jelasnya.

Dia pun membandingkan kucuran dana hingga Rp30 miliar untuk KONI Provinsi Jambi 2-3 tahun sebelum kepengurusannya. "Sangat jauh. Belum lagi kami harus memenuhi kebutuhan rutin di KONI, seperti gaji karyawan, listrik hingga air. Bayangkan, tinggal berapa lagi untuk pembinaan,"katanya.

Minimnya anggaran pembinaan juga bisa menyebabkan terjadinya eksodus atlet prestasi dari Jambi ke daerah lain. Menurut Budi, sinyal bakal adanya atlet Jambi yang bakal dibajak oleh provinsi lain sudah terlihat.

Dia mengungkapkan, Ryzki, peraih 2 keping emas dari biliar langsung dipinang Aceh pasca PON Papua. "Sebenarnya Ryzki bisa menambah 1 medali emas lagi. Tapi stick-nya rusak dan tidak bisa maksimal tampil di nomor bola 9,"jelasnya.

Aceh, lanjut Budi, sudah menyiapkan segala sesuatu untuk Rizky jika mau gabung daerha tersebut yang akan menjadi tuan rumah PON XXI tahun 2024. "Bahkan Aceh juga sudah menyiapkan pekerjaan untuk Rizky. Kita? Apa yang bisa berikan untuk atlet berprestasi tersebut dengan dana tidak sampai separuh dana KONI Kota Jambi,"jelasnya. 

Menurut Budi, anggaran Rp 2,9 Miliar untuk pembinaan olahraga prestasi selama setahun tidak jelas tidak cukup. Bahkan untuk membina satu atlet hingga mendapat medali emas di PON berikutnya juga masih kurang. 

Sebelumnya, beberapa atlet Jambi juga sudah hengkang membela provinsi lain. Di antara mereka bahkan sukses menyumbang medali emas untuk "daerah" barunya.  Robi Sujanto adalah salah satunya. Lifter Jambi ini berhasil menyumbang medali emas di angkat berat untuk Lampung. Sedangkan Iqbal juga sukses tampil bagus untuk Jawa Timur di angkat besi. 

Bukan tidak mungkin akan makin banyak atlet potensial dan berprestasi lainnya yang bakal hengkang jika hanya diberi anggaran Rp2,9 Miliar setahun. "Masalah pindah daerah, itu keputusan atlet. Kalau kita tidak bisa menyejahterakan mereka dan provinsi lain bisa, masa kita larang mereka pindah. Itu masa depan mereka (atlet) yang tidak bisa diberikan daerah asalnya,"ujar salah satu ketua harian cabor bela diri tanpa mau disebut namanya.

Sementara itu Natalis Apay, pelatih kepala Pengprov Pabersi Jambi meminta pemerintah mengembalikan pembinaan olahraga ke KONI. Sebab untuk olahraga prestasi sesuai undang-undang menjadi ranah KONI.

"Kembalikan pembinaan olahraga prestasi ke KONI. Diskepora urus pemasalan olahraga saja. Olahraga prestasi, biar yang sehari-hari bergelut langsung dengan olahraga yang mengurus,"tegasnya.

Menurut dia, kasus atletnya yang gagal tampil optimal di PON Papua kemarin juga imbas dari itu. Pengadaan baju tanding lifter dicoret. Padahal baju lifter sangat penting untuk performa dan keselamatan atlet. "Untung atlet saya tidak cedera,"tuturnya.

Hal senada juga disampaikan pelatih judo Jambi, Toyo. Dia setuju jika pembinaan olahraga prestasi sepenuhnya dikelola KONI. Menurut dia, banyak lembaga yang mengurus olahraga. Mulai dari KONI, Diskepora, KOI, NPC hingga dinas pendidikan juga punya program khusus olahraga. "Kita yang di bawah ini suka bingung,"tukasnya. (tya)






BERITA BERIKUTNYA
loading...