Fakhrurazi dan Arrakhmad Eka Putra Minta Maaf dan Mengaku Menyesal

Wiwit Ngotot Bantah Terima Uang

Kamis, 13 Januari 2022 | 09:28:53 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI-  Terdakwa kasus suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2017-2018, Wiwit Iswara membantah menerima uang ketok palu dari Kusnindar. Dia juga membantah menerima tambahan jatah untuk Komisi III. Sementara dua rekannya, Fakhrurozi dan Arrachmad Eka Putra mengaku menerima uang suap tersebut. Keduanya meminta maaf atas perbuataannya.

Pengakuan ini disampaikan Wiwit, Fakhrurozi dan Eka saat diperiksa sebagai terdakwa dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jambi yang pimpin hakim ketua Syafrizal, Rabu kemarin (12/1). Dalam sidang kemarin, Fakhrurrozi yang diperiksa pertama kali Fakhrurozi mengaku tidak tahu banyak adanya permintaan uang ketok palu itu.

Menurut Fakhrurorzi, sebagai anggota DPRD dia wajib mengetahui adanya pembahasan RAPBD. Dia pun hadir terus saat pembahasan. "Pembahasannya jalan sebagaimana mestinya. Ada perdebatan sedikit hal yang biasa, ketika di sah kan. Ada pandangan fraksi agar jadi pertimbangan eksekutif," Katanya.

Namun, dia mengaku tidak tahu adanya permintaan uang anggota DPRD maupun komisi III. Baik dalam rapat maupun di luar rapat. Dia mengaku baru tahu adanya permintaan uang setelah diberikan uang oleh Kusnindar Rp 200 juta. ‘’ Saya lupa kapan pemberian itu tepatnya. Akhir tahun atau awal (Tahun),  saya lupa. Uang itu dalam kantong plastik,’’ katanya.

"Ini jatah kata Kusnindar. Pemberian itu di depan rumah saya. Saat itu Kusnindar sempat tanya  dimana Zainur Arfan. Ya saya bilang tidak tahu. Tiba tiba datanglah Zainur Arfan, dia dikasih uang juga. Kusnindar sempat bilang, ini jatah anggota, sisanya nanti ada lagi," kata Fakhrurozi menceritakan saat dia menerima uang tersebut.       Kemudian, tahap kedua diberikan di rumah Kusnindar.

Lalu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK menanyakan dikemanakan uang suap ketok palu tersebut. Menurut Fakhrurazi, uang itu dipakai untuk keperluan pribadi. "Uangnya dipakai untuk keperluan pribadi. Saya tidak tahu dari mana uangnya. Cuma yang kasih dari pemerintah saja" jelasnya.

Fakhrurazi terus bercerita terkait jatah komisi III. Jatah pertama dia terima Rp 25 juta saat Bintek di Bogor bersama  Gusrizal dan Zainal Abidin. Uang itu diantara ke kamarnya. ‘Ini bang titipan dari Efendi jatah Komisi III. Tidak di sebut dari mana uangnya. Cuma dikasih tau jatah komisi III saja," ungkapnya.

Diakhir keterangannya Fachrurozi meminta maaf dan mengaku menyesali perbuatannya. "Saya mohon maaf. Saya menyesali perbuatannya saya. Saya minta tolong selesaikan kasus ini. Mohon pertimbangan majelis hakim, karena saya masih punya ank kecil yang butuh perhatian. Kalau penerimaan uang ini jadi masalah, saya tidak akan terima," katanya.

Terdakwa lainnya, Arrachmat Eka Putra juga mengaku menerima uang dari Kusnidar. Namun sudah dikembalikan. Ia menyadari bahwa itu bukan penghasilan di luar gaji. Oleh karena itu, Rahmat mengaku sangat menyesalinya.  "Ya saya menyesali," katanya.

 Menurut Eka, dia menyampaikan kepada Fraksi PKS ada uang Rp 300 juta dari Kusnindar untuk PKS.  ‘’Uangnya saya diserahkan di parkiran. Setelah itu saya laporkan ke ketua fraksi (Rudi Wijaya)," terang Eka. Menurutnya, tidak ada tanda terima.

Selain uang ketok palu,  Arrahmat Eka Putra juga mengaku menerima jatah untuk komisi III. Uang itu ia terima saat Bintek di hotel Seruni. "Saya disuruh (Pak Zainal) ngambil aplop di atas meja. Kata pak Zainal itu jatah jen," jelasnya.

Setelah mengembil amplop, ia kembali ke kamar. Selain itu Arakhmat juga menerima uang Rp 175 juta tahap ke dua di rumah Zainal Abidin. Namun, dia mengatakan uang itu sudah ditransfer ke KPK. "Saya menyesal, saya khilaf dan tifak akan mengulangi lagi," kata Arakhmat terisak-isak saat ditanya penasehat hukumnya tentang perasaanya selama menjalani perkara ini.

Berbeda dengan dua rekannya, Wiwid Iswara mengaku tidak pernah menerima uang dari Kusnindar. Wiwid juga menegaskan bahwa Kusnindar tidak pernah menghubunginya secara pribadi. "Tidak pernah," tegasnya.

Selain itu, Wiwid juga membantah menerima uang jatah Komisi III dari Zainal Abidin. Bantahan Wiwit ini sempat membuat majelis hakim kesal. "Memang saudara punya hak ingkar. Tapi perlu diingat, keterangan saudara sebagai terdakwa tidak berdiri sendiri. Ada juga keterangan saksi. Tapi keterangan yang lain berbeda dengan keterangan terdakwa. Makanya menjadi pertanyaan kami," katanya hakim mengingatkan.

Meski sudah didesak hakim, Wiwid tetap ngotot bahwa dirinya tidak menerima. "Ya sudah kalau tidak mengakui tidak apa-apa. Nanti kami yang akan menilainya," kata hakim lagi.

Namun saat ditanya jaksa, Wiwid mengakui hadir di Bintek komisi III di hotel Seruni Bogor. "Hadir semua, kalau tidak salah empat atau lima hari," katanya.

Jaksa lalu menanyakan apakah terdakwa pernah menelpon Kusnindar, atau sebaliknya. "Seingat saya tidak pernah," jawab Wiwit. Dia juga menegaskan tidak pernah bertemu dengan anggota komisi III lainnya di luar kantor. "Tidak pernah," ujarnya.(usd)






BERITA BERIKUTNYA
loading...