Hari ini, Apif Kembali Disidang

Kamis, 12 Mei 2022 | 08:37:53 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Hari ini, Kamis (12/5), sidang perkara suap pengesahan RAPBD Provinsi Jambi 2017 dan grativikasi dengan terdakwa Apif Firmansyah kembali digelar di Pengadilan Tipikor Jambi.  Humas pengadilan Tipikor Jambi, Yandri Roni menbgatakan, agenda sidang hari ini masih pemeriksaan saksi. Namun, dia belum mengetahui siapa saja dan berapa orang saksi yang akan dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK.

"Untuk sidang Apif Firmansyah agendanya masih pemeriksaan saksi. Tapi kita belum tahu berapa dan dari kalangan apa saksi yang akan dihadirkan," katanya, Rabu (11/5). Sejatinya, lanjut Yandri, mantan ajudan Zumi Zola itu disidangkan dua kali dalam sepekan. Namun, bagaimana kedepannya tergantung JPU.

"Memang ada kesepakatan sidangnya dua kali seminggu. Tapi beberapa kesempatan, JPU ada sidang juga di tempat lain. Saya belum tahu apakah Jumat sidang lagi atau tidak" tambahnya.

Sejauh ini, sudah ada 30 orang saksi yang diperiksa di persidangan. Diantaranya dari mantan anggota DPRD Provinsi Jambi, M. Juber, Poprianto, Zainal Abidin, Efendi Hatta, Kusnindar, Sufardi Nurzain, Parlagutan Nasution, Cekman, Supriono, Meli Khairiah, Luhut Silaban dan Mesran.

Kemudian, ada juga dari kalangan kontraktor. Diantaranya Joe Fandy Yoesman alias Akeng, Chandra Ong alias Abeng, Muhammad Immanuddin alias Iim, dan dari kalangan PNS mantan mantan Kadis PUPR Provinsi Jambi Doddi Irawan. 

Dari sidang sebelumnya terungkap Apif beperan penting dalam mengumpulkan uang gratifikasi dari para kontraktor. Dalam dakwaan JPU, Apif disebut sebagai orang kepercayaan Zumi Zola ketika menjadi Gubernur Jambi. Dalam rentang waktu Januari hingga Maret 2017, Apif memberikan uang Rp 13 Miliar kepada anggota DPRD Provinsi Jambi. Tujuanya  agar DPRD mengesankan RAPBD Provinsi Jambi APBD 2017.

 "Saudara Zumi Zola meminta terdakwa agar mencarikan uang untuk anggota DPRD Provinsi Jambi sebagai konpensasi ketok palu. Masing masing anggota menerima uang sebesar  Rp 200 juta," katanya jaksa saat membacaan dakwaan.

Kemudian, setelah uang didapat, Apif Firmansyah diminta memperhatikan rekanan yang sudah membatu memberikan uang ketok palu. Setelah berkordinasi dengan Dodi Irwan, terdakwa berhasil mengumpulkan Rp 9 Miliar dari sejumlah rekanan. Uang itu diambil Muhammad Imanuddin alias Iim.

Dalam dakwaan, JPU juga membeberkan aliran dana yang dikumpulkan Apif. Selain ke anggota DPRD Provinsi Jambi, uang gratifikasi dari para kontraktor tersebut juga mengalir ke Masnah Busroh dan Bambang Bayu Susesno (BBS).

Menurut JPU, uang gratifikasi itu digunakan untuk kampanye pemenangan Masnah-BBS saat mencalonkandiri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Muarojambi di pilkada 2017. Saat proses penyidikan, Masnah dan BBS memang pernah beberapa dipanggil dan diperiksa penyidik KPK sebagai saksi Apif.

"Anggaran itu mengalir ke Masnah dan Bambang Bayu Suseno saat keduanya mencalonkan diri sebagai Bupati dan Wakil Bupati Muarojambi. Penggunaannya dalam rangka kampanye pemenangan Manah dan Bambang Bayu Suseno yang didukung oleh Zumi Zola," Kata JPU.

‘’Perbuatan Apif bersama-sama dengan Zumi Zola Zulkifli menerima gratifikasi dalam bentuk uang yang seluruhnya berjumlah Rp 34.610.300.000 (Rp 34,6 M) haruslah dianggap suap. Karena berhubungan dengan jabatan Zumi Zola dan berlawanan dengan kewajiban atau tugas Zumi Zola selaku Penyelenggara Negara,” Kata JPU Siswandono.

Selain itu, Apif juga terlibat dan berperan dalam perekrutan pejabat di lingkungan Pemprov Jambi.  Apif membentuk tim khusus untuk merekrut pejabat di Pemerintah Provinsi Jambi. Tim bentukan Apif tersebut mengusulkan nama-nama dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang ikut berperan memenangkan Zumi Zola pada pemilihan Gubernur Jambi 2016. Tim ini juga menjaring dari “kalangan dalam dan luar” tim sukses yang ingin menjabat suatu jabatan. 

Fakta ini dibenarkan oleh Endria Putra, kolega Apif yang dihadirkan jaksa KPK sebagai saksi.Ssaat itu ada perubahan nomenklatur. Sehingga banyak jabatan eselon kosong. Apif membentuk tim untuk mengisi jabatan eselon III dan eselon IV. “Ini kan untuk mengisi jabatan di ASN, kan orang-orangnya PNS? Tim itu dibentuk dalam hal apa?" tanya hakim anggota Hiasinta kepada Endria. 

Menurut Endria, tim tersebut bekerja di luar baperjakat. “Mengusulkan nama-nama (ASN) yang ikut membantu Zumi Zola. Seperti keluarga ASN dan mengajak tetangga memilih pak Zumi Zola sebagai gubenur," ungkap Endria di hadapan Ketua Majelis hakim Yandri Roni didampingi dua hakim anggota Yofistian dan Hiasinta Manalu.

Jaksa KPK Hidayat mengatakan Endria masuk dalam salah satu tim menjaring pejabat eselon III dan IV tersebut. ‘’ Saksi merupakan salah satu dari beberapa tim bentukan Apif Firmansyah untuk menjaring pejabat eselon III dan IV,’’ katanya. 

 “Setelah Zumi Zola menjadi Gubernur, dibentuk juga tim untuk mendata siapa-siapa yang telah mendukung Zumi Zola dalam pencaloan sebagai gubernur. Orang orang tersebut (ASN)  diperhatikan jabatannya,’’ tambahnya.

Kemudian, lanjut Hidayat, orang atau PNS yang tidak mendukung, tapi menginginkan jabatan akan dimintai uang untuk menduduki jabatan eselon tersebut. ‘’ Tim itu dibentuk oleh Apif dan orang-orangnya,” ungkap Hidayat usai sidang.(usd)






BERITA BERIKUTNYA
loading...