Warga Lubuk Bedorong Libatkan LPSK untuk Berjuang Cari Keadilan atas Kematian Orangtuanya

Minggu, 19 Juni 2022 | 18:49:47 WIB

()

Jambione,

Jambione, SAROLANGUN – Sidang kasus pembunuhan atas M Anasri (54), warga Desa Lubuk Bedorong Kecamatan Limun, Kabupaten Sarolangun dengan agenda saksi-saksi digelar Rabu, 15 Juni 2022 siang di Pengadilan Negeri (PN) Sarolangun.

Dari 7 orang saksi yang akan dihadirkan yakni, AS, BR, AR, RP, AZ, ZI dan RDP, hanya satu orang saksi yakni RP yang hadir di persidangan yang dipimpin Hakim Ketua Yola Ninda Utami SH dengan Hakim Anggota, Tumpak Hutagaol SH dan Reindra Jasper H Sinaga SH. Sementara itu, terdakwa ZZ mengikuti jalannya sidang melalui daring.

Saksi RP turut didampingi oleh Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan penasihat hukum, Adi Septianto SH.

“Kami mengiring perkara ini dengan memberikan perlindungan terhadap saksi maupun korban agar terungkap kebenaran, sehingga keadilan itu berada pada situasi dan orang yang tepat,” kata Katim Pelayanan LPSK, Moh Hasyim.

Di luar ruang sidang, penasihat hukum keluarga korban, Adi Septianto SH berharap Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada perkara ini harus profesional. Pasalnya, Adi Septianto SH kecewa atas ketidak hadiran 6 orang lagi saksi yang 1 diantara saksi tersebut diindikasikan mengetahui kejadian yang menghilangkan nyawa orang tua dari kliennya.

“Saya minta Jaksa lebih profesional, dan 6 orang saksi yang tidak hadir pada sidang kali ini harus dihadirkan pada sidang selanjutnya,” tegas Adi yang ramah ini.

“Jaksa bisa menggunakan kewenangannya untuk memanggil saksi sesuai dengan pasal 146 ayat 2 Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) pidana,”kata Adi Septianto.

Kekecewaan lain juga disampaikan Adi Septianto yang mempertanyakan soal rekontruksi atas perkembangan kasus ini.

“Tidak ada surat atau pemberitahuan soal rekontruksi kepada pihak keluarga korban khususnya untuk pelapor tentu sangat kami sayangkan. Karena rekontruksi itu perlu untuk mencari titik terang kebenaran suatu kejadian,”tegas Adi.

Rekonstruksi merupakan kegiatan untuk mendapatkan keterangan, kejelasan dan keindentifikasian tersangka, saksi dan barang bukti dalam tindak pidana, agar menjadi terang dan jelas. Rekonstruksi sendiri diatur berdasarkan SK Kapolri/1205/IX/2000.

“Apakah digelar atau tidak rekontruksi ? Jika tidak, mengapa ? Karena hal itu sudah ada aturan yang dikeluarkan oleh Kapolri. Sementara jika digelar rekontruksi, kapan digelarnya ? Kenapa tidak ada pemberitahuan kepada keluarga korban dalam hal ini klien kami,”kata Adi.

Pengacara yang juga hobi memainkan alat musik gitar ini menambahkan, dirinya mengapresiasi pihak LPSK atas perhatian serta support terhadap kliennya yang sedang mencari keadilan dalam perkara ini.

“Saya yakin LPSK akan bekerja profesional dalam memberikan perlindungan terhadap kliennya,” kata Adi didampingi rekannya, Arif Harahap SH.

Terkait ketidakhadiran 6 orang saksi pada sidang kali ini, Jaksa yang menangani perkara yaitu Dodi Jauhari memberikan keterangan secara rinci alasan ketidakhadiran para saksi. Jaksa hanya menyebut akan menghadirkan seluruh saksi itu pada sidang lanjutan.

“Saya akan upayakan seluruh saksi hadir untuk sidang pekan depan,” katanya singkat.

Terkait adanya indikasi ancaman kepada para saksi yang tidak hadir, Jaksa Dodi Jauhari tidak berani menjawab sembari tersenyum.

“soal itu saya tidak bisa komentar,” ujar Dodi Jauhari.

Untuk diketahui, dalam perkara ini, keluarga korban menuntut keadilan atas meninggalnya M Anasri (54) yang dibunuh oleh terdakwa ZZ dengan cara ditembak.

Media ini mencoba menghimpun informasi terkait kasus tersebut kepada keluarga korban. Salah seorang keluarga korban yang minta identitasnya disembunyikan menjelaskan, kejadian yang menimpa korban M. Anasri (54)terjadi pada 5 Juli 2021 silam. Dirinya mengatakan mendapatkan informasi tentang peristiwa tersebut dari rekan korban yang saat itu berada di lokasi dan menyaksikan aksi terdakwa hingga menghilangkan nyawa korban M. Anasri.

“korban pagi tu mau ke lokasi kerjo di Desa Lubuk Bedorong, kalau kami nyebut nyo tu dekat sungai siva. Korban dihadang terdakwa minta persen. Tapi korban menolak ngasih hingga terjadilah peristiwa tu. Korban ditembak,”ujarnya.

Keluarga korban mengaku, setelah kejadian yang menewaskan anggota keluarganya yakni M Anasri, mereka melaporkan kejadian tersebut ke pihak Polres Sarolangun. Namun tidak mengetahui perkembangan kasus tersebut.

” Dari Juli kejadiannyo, sampelah katonyo terdakwa ditangkap di bulan Desember 2021 tu, kami dak ado yang tahu. Dengar kabar be terdakwa sudah ketangkap polisi. Sampe lah proses nyo di Pengadilan Negeri di 2022 ini. Kami jugo dak pernah nengok wajah terdakwa. Baru beberapo hari ini lah kami yang mau keadilan tu utk kami, kami minta bantuan pihak LPSK dan pendampingan hukum oleh pengacara Pak Adi Septianto. Barulah kami biso mengikuti perkembangan kasus ini,”ujarnya menceritakan kejadian itu.(bin)






BERITA BERIKUTNYA
loading...