Petani Minta Kepala Daerah Turun Tangan, Harga yang Ditetapkan Pemerintah Tak Berlaku di Lapangan

Harga Sawit “Babak Belur”, Bisa Pecah Rp 1.000

Selasa, 21 Juni 2022 | 08:12:33 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit makin “babak belur”. Baru beberapa hari Pemprov Jambi menetapkan harga naik Rp 34 per kilogram, di lapangan harga turun terus. Di Kecamatan Mestong, Muarojambi misalnya. Senin (20/6) sore beredar informasi via pesan whatsApp, harga sawit di tingkat RAM (tempat jual beli TBS hasil perkebunan petani) periode Selasa (21/6) turun Rp 250 perkilogram, menjadi Rp 1.375 perkilo.

Sementara di Pabrik, pada Senin (20/6) kemarin harga masih berkisar antara Rp 1.495 – Rp 1.625 perkilogram. Informasi dari petani, jika harga di RAM turun, biasanya harga pabrik juga hampir dipastikan akan turun. ‘’ Kalau harga di RAM turun, sudah hampir pasti di pabrik juga turun. Sebab, sawit yang di RAM itukan di jual ke pabrik juga,’’ kata Ali, salah seorang petani sawit di Kecamatan Mestong, Muarojambi.

Perkiraan Ali tidak meleset. Informasi yang diperoleh Jambi One, Senin malam, untuk periode Selasa (21/6), harga di pabrik juga tuga turun Rp 250 perkilo.  Menjadi Rp 1.295 perkilo. Ditingkat pengepul harga jauh dibawah itu lagi. Yang dikhawatirkan para petani, jika harga turun terus, bisa bisa dalam beberapa hari ke depan, harga sawit di tingkat petani bisa pecah dari Rp 1.000 per kilogram. Jika ini terjadi, maka sudah jelas dampaknya sangat buruk bagi petani sawit.

‘’ Kalau hargo sudah pecah dari Rp 1.000 yo gawat. Jangan kan mau beli pupuk. Untuk makan bae kurang. Apalagi sebentar lagi masuk tahun ajaran baru. Ada yang anaknya mau melanjutkan sekolah dan kuliah. Semua butuh biaya besar,’’ kata Tono, petani lainnya.

Yang bikin petani makin lesu, selain harga yang murah, petani juga kesulitan menjual TBS karena toke (pengepul) juga tidak berani membeli sawit masyarakat dengan harga pasaran. Para pengepul tidak mau ambil resiko, karena saat ini konsisi harga yang tidak stabil.

‘’ Kita tidak mau ambil resiko.  Cukup lah sekali rugi besar saat pemerintah mengumumkan larangan ekspor CPO dulu.  Meski sekarang ekspor sudah dibolehkan, namun harga masih belum jelas,’’ kata Robi salah seorang pengepul.

Para petani sangat berharap tindakan kongrit dari pemerintah untuk mengintervensi harga. Sebab harga yang ditetapkan pemerintah tidak berlaku di lapangan.  Seperti diberitakan, pada Periode 17-23 Juni, tim Pemrpov Jambi  menetapkan harga TBS untuk usia tanam 3 tahun Rp 1.975 per kilogram. Ada kenaikan hanya Rp 34 per kilo, dari harga periode sebelumnya Rp 1.941 per kilo.

Kemudian, untuk usia tanam 4 tahun Rp 2.091 per kilogram, usia tanam 5 tahun Rp 2.189 per kilogram, usia tanam 6 tahun Rp 2.281 per kilogram, dan usia tanam 7 tahun Rp 2.339 per kilogram. Selanjutnya usia tanam 8 tahun senilai Rp 2.387 per kilogram, usia tanam 9 tahun Rp 2.435 per kilogram, usia tanam 10 sampai dengan 20 tahun Rp 2.507 per kilogram, usia 21 hingga 24 tahun Rp 2.429 per kilogram dan di atas 25 tahun Rp 2.312 per kilogram.

Sementara minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) periode 17-23 Juni 2022 naik senilai Rp 369 per kilogram, dari Rp 10.739 menjadi Rp 11.108 per kilogram. "Sementara itu untuk harga inti sawit pada periode kali ini mengalami penurunan Rp 791, dari Rp 6.512 menjadi Rp5.721 per kiloram," kata Panitia Penetapan Harga TBS Sawit Provinsi Jambi, Putri Rainun, Sabtu (18/6).

Sebelumnya, Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) meminta pemerintah dan aparat penegak hukum menindak tegas pabrik kelapa sawit (PKS) yang masih membeli murah harga tanda buah segar (TBS) petani.      Ketua DPW Apkasindo Provinsi Jambi Kasriwandi mengatakan pihaknya akan terus memantau perkembangan harga TBS petani pasca dibukanya kembali kran ekspor CPO.

‘’ Jika pabrik tidak melakukan penyesuaian harga, maka kami akan melaporkan ini ke aparat penegak hukum. Kami juga minta pemerintah mengawasi ulah PKS. Jika masih membeli murah TBS petani, harus ditindak tegas,’’ katanya.

Kasriwandi menjelaskan, jika pabrik tidak melakukan penyesuaian harga, jelas petani sangat dirugikan. Dengan dibukanya kembali kran  ekspor CPO ini, dia meyakini pabrik banyak mendapat keuntungan. Karena stok CPO mereka selama ekspor dilarang menumpuk. Stok itu diperoleh dari membeli harga TBS petani dengan harga murah pada periode sebelumnya (larangan ekspor).

‘’ Hitung saja, berapa keuntungan mereka. Jadi sudah sewajarnya mulai Senin ini mereka melakukan penyesuaian harga. Paling tidak Pabrik harus membeli sawit petani sesuai dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Walaupun sebenarnya kita berharap harga TBS harus disesuaikan dengan harga CPO,’’ pungkasnya. (ist)






BERITA BERIKUTNYA
loading...