803 Balita Dinyatakan Stunting

Kasus Stunting Kota Jambi Meningkat

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:03:00 WIB

STUNTING: Dinkes Kota Jambi menggelar diskusi untuk menurunkan angka stunting di Kota Jambi yang sejak pandemi melonjak hingga 803 kasus.
STUNTING: Dinkes Kota Jambi menggelar diskusi untuk menurunkan angka stunting di Kota Jambi yang sejak pandemi melonjak hingga 803 kasus. (Ali Ahmadi/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Pemerintah Kota Jambi hingga kini terus berupaya menurunkan angka stunting (kondisi anak gagal tumbuh, baik fisik maupun otaknya akibat kekurangan gizi) pada balita dan anak di wilayah Kota Jambi. Berdasarkan data tahun 2021, dari 27.615 balita di Kota Jambi, sebanyak 179 balita mengalami stunting. 

Angka itu terus bertambah. Pada 2022, tercatat dari 31.373 balita, terdapat 803 balita mengalami stunting atau sebesar 2,56 persen. 

Kepala Dinas Kesehatan Kota Jambi, Ida Yuliati mengatakan, beberapa kecamatan yang memiliki data stunting paling banyak adalah Jambi Timur, sementara yang paling rendah adalah Pelayangan. 

"Meningkatnya data stunting ini karena Posyandu kita telah aktif kembali pasca pandemi Covid-19. Dulu (2021, red) tim kita tidak begitu gencar karena masih suasana pandemi," kata Ida dalam rembuk stunting di Aula Bappeda Kota Jambi, Senin (20/6) lalu.

Menurutnya, masalah stunting menjadi perhatian serius dari Pemerintah Kota Jambi, sebab masalah ini multidimensi. Di antaranya mencakup masalah gizi yang kurang, pelayanan kesehatan, kemiskinan, ketidaktahuan, ketidakpedulian, lingkungan yang kurang baik, belum optimalnya infrastruktur air minum dan air bersih, dan lain sebagainya.

Dia menjelaskan, upaya yang sudah dilakukan Pemkot Jambi seperti melalui kegiatan stimulasi fisik, mental, intelektual, emosional, spiritual, dan sosial. 

“Pemenuhan gizi dan pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. Upaya ini sangat diperlukan, mengingat stunting akan berpengaruh terhadap tingkat kecerdasan anak dan status kesehatan pada saat dewasa nanti,” kata dia.

Kepala DPPKB Kota Jambi, Irawati Sukandar menyebutkan, faktor-faktor yang mempengaruhi stunting yakni, kurangnya asupan gizi awal dari hari pertama hamil. Atau tidak seimbangnya gizi yang dikonsumsi ibu hamil. Kemudian, pasca lahir tidak diberikan Air Susu Ibu (ASI) secara eksklusif sejak 0-6 bulan.

“Kalau lebih dari 6 (enam) bulan diberikan Makanan Pendamping (MP) ASI sesuai usianya. Faktor lain, seperti pola asuh dalam memberikan makan terhadap anak yang kurang diperhatikan. Terutama ibu yang bekerja, menyerahkan ke penjaga bayinya. Kalau tidak diperhatikan betul, pengasuh akan cepat-cepat saja memberikan makan anak tanpa memperhatikan gizi dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Jambi, Maulana mengatakan penanganan stunting di Kota Jambi terbagi dalam dua kategori, yaitu kategori spesifik dan sensitif. Untuk kategori spesifik dilakukan oleh dinas kesehatan berdasarkan analisis situasi. Misalnya seperti penyuluhan kepada ibu hamil, pemberian makanan tambahan, dan lainnya. Sementara kategori sensitif dilakukan oleh berbagai instansi. Misalnya pelayanan air bersih, sanitasi, lingkungan, infrastruktur, dan juga kemiskinan.  

Maulana juga mengatakan, Pemkot Jambi sudah bekerjasama dengan Pengadilan Agama untuk penanganan stunting.

"Pasangan remaja yang akan menikah akan kita bekali, beri bimbingan, dan kita beri vitamin. Ini salah satu upaya mencegah stunting," katanya.

Dia menambahkan, salah satu asupan yang akan diberikan adalah Tablet zat besi (Fe) merupakan tablet mineral yang diperlukan oleh tubuh untuk pembentukan sel darah merah atau hemoglobin. Unsur Fe merupakan unsur paling penting untuk pembentukan sel darah merah. (ali)






BERITA BERIKUTNYA
loading...