Kasus Pernikahan Sejenis

Penulisan Deretan Gelar Permintaan Korban

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:08:10 WIB

(RUDI SAPUTRA/JAMBI ONE)

JAMBIONE.COM, JAMBI  -  Eriyani alis Ahnaf Arrafif yang berhasil menipu seorang perempuan di kota Jambi berinisial NA, kembali duduk di kursi pesakitan, dalam sidang yang dipimpin ketua majelis hakim Alex Pasaribu itu beragendakan mendengarkan keterangan ahli.

Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Jambi menghadirkan ahli dari Direktorat Pendidikan Tinggi, Khozin Alfani, S.H. Dalam keterangannya saksi menyebutkan dia ditanya oleh penyidik atas pemakaian gelar akademik.

"Pada dasarnya, gelar akademik ada tiga kategori. Pertama ada gelar akademik, kemudian gelar profesi dan ada gelar advokat, ketiganya harus menempuh pendidikan di perguruan tinggi terlebih dahulu, karena gelar tersebut yang memberikan perguruan tinggi," katanya.

JPU Sukmawati menanyakan apakah orang yang tidak menempuh pendidikan di perguruan tinggi bisa mencantumkan gelar di depan atau di belakang namanya.

"Kalau digunakan olah orang yang tidak menyelesaikan pendidikan dan tidak menyelesaikan beban tugas di kampus, jelas salah. Sebab yang bersangkutan tidak melewati jenjangnya dan tidak diperkenankan mengunakan gelar tersebut," jawab ahli.

Sukmawati kembali menanyakan apakah bisa gelar akademik dari perguruan tinggi luar negeri bisa dituliskan ke gelar akademik Indonesia. Sebab salah satu gelar akademik terdakwa ada gelar akademik yang ditulis dalam penulisan Indonesia.

"Penulisan gelar akademik luar negeri, gelarnya ditulis apa adanya. Tapi ijazahnya bisa disetarakan, karena gelar akademik tidak bisa diubah. Untuk ijazahnya akan disertakan. Contohnya ada orang yang mendapatkan gelar LLM, yang ditulis apa adanya. Cuma ijazahnya akan disamakan, dan dilihat LLM itu sama dengan strata berapa," paparnya.

Terkait gelar akademik terdakwa dr. Ahnaf Arrafif. Sp Bs.  S.Art. S.T.S.H. S.Hum, JPU menanyakan apakah penulisan itu sudah benar.

"Itu memang gelar yang ada di dalam negeri. SPBS itu gelar spesialis bedah saraf, untuk penulisan tidak salah. Cuma S, Art saya tidak tahu itu gelar apa," sebutnya.

Hakim menanyakan terkait mendapatkan 5 gelar akademik dalam kurun waktu  5 tahun apakah tercapai sebab terdapat gelar profesi.

"Kalau satu kampus mungkin sulit. Kalau kampusnya berbeda bisa saja. Tapi ini baru pertama kali saya lihat, apalagi ada gelar spesialis, kalaupun bisa itu orangnya luar biasa," sebut ahli.

Hakim kembali bertanya, bagaimana orang yang bukan dokter melakukan tindakan seperti dokter. Sebab terdakwa beberapa kali melakukan itu.

"Menggunakan saja dilarang, apalagi  melakukan tindakan seperti dalam gelar itu. Dalam gelar dokter ada surat pendamping, di sana ada diterangkan tentang keahlian, itu baru bisa buka praktik maupun untuk dinas," tegasnya.

Sementara itu penasehat hukum terdakwa, Ineng Sulastri mengatakan bahwa permintaan penulisan gelar akademik itu bukan keinginan kliennya melainkan permintaan korban.

"Yang minta itu orang tua korban, bukan terdakwa. Agar dipandang dapat menantu dokter, banyak gelar berpendidikan. Padahal korban ini tamatan salah satu kampus di Yogyakarta," katanya.

"Seharusnya korban ini sudah mengetahui itu, padahal terdakwa ini hanya tamatan SMP, orang tua korban yang sibuk," tegasnya.(usd)






BERITA BERIKUTNYA
loading...