Tangki Penampung CPO Overkapasitas, Pengiriman ke Buyer Bermasalah, Harga Sawit Ditekan

PKS Stop Operasi, Petani harus Siap Mental

Rabu, 22 Juni 2022 | 09:11:40 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Para petani kelapa sawit harus siap siap menghadapi kemungkinan terburuk. Bukan hanya harga yang ‘babak belur’ dan terus anjlok, para petani juga harus siap mental jika Tandan Buah Segar (TBS) Sawit tidak ada yang beli, karena Pabrik Kelapa Sawit (PKS) tutup. Jika pemerintah tidak turun tangan, kemungkinan terburuk itu bakal segera terjadi. 

Informasi yang diperoleh Jambi One, sejumlah PKS di Jambi saat ini sudah membatasi pembelian TBS Sawit petani. Karena Storage tank CPO nya (tangki penyimpanan CPO dalam kapasitas besar) sudah penuh. Bahkan, Selasa (21/6) kemarin, satu PKS di Tanjab Barat sudah menyatakan stop beroperasi.

PKS yang menyatakan stop beroperasi alias tutup itu adalah PT Mestika Sawit Jambi (MSJ) yang berada di Merlung, Tanjung Jabung Barat. Selasa kemarin, managemen perusahaan sudah  menyampaikan pemberitahuan kepada para sopir, Suplier, dan juga SPTI di PT MSJ . ‘’ Mengingat kapasitas storage CPO sudah penuh, maka pada Selasa 21 Juni 2022, PT MSJ stop (berhenti) beroperasi sampai waktu yang tidak ditentukan,’’ begitu bunyi pengumuman yang beredar dan diterima Jambi One.

Mamad, salah seorang petani kelapa sawit di Bukit Baling, Muarojambi, Mamad mengaku mendapat pesan berantai dari tauke sawit di wilayahnya, bahwa PKS PT MSJ stop beroperasi, lantaran kapasitas penyimpanan CPO penuh. ‘’ Pesan berantai itu dikirim oleh para pengepum (tauke) yang biasa menjual TBS sawit petani ke sana. Kita tidak bisa berbuat apa apa, karena kapasitas penyimpanan CPO nya sudah penuh,’’ katanya.

Menurut Mamad, selain tutup sejumlah pabrik juga sudah membatasi pembelian TBS petani. Dia menyebut PT Bukit Barisan Indah Prima (BBIP) di Muarojambi pada 21 Juni hanya menerima atau membongkar 30 armada saja.

Kondisi ini membuat harga TBS sawit terus anjlok. Mamad mengatakan, harga TBS di beberapa pabrik di wilayahnya menurunkan harga rata-rata hingga Rp250/Kg. "Rata-rata harga berkisar diangka 1.400-1500 per Kg. Sebagai petani kami takut kondisi ini akan terus berlanjut. Harga sawit turun terus, pabrik tidak mau beli buah petani," katanya.

Selain PT BBIP, PKS di wilayah Kecamatan Mestong, Muarojambi, PT Angso Duo Sawit (ADS) kabarnya juga sudah membatasi armada yang masuk ke pabriknya. ‘’Kalo PT ADS msih bukak lah. Belum ada kabar mau tutup. Tapi tiap hari dibatasin mobil truk yang bongkar. Katanya tangkinya lah nak penuh jugo,’’ kata Roma, salah seorang petani kelapa sawit di Mestong.         

Menurut dia, dalam dua hari ini, harga TBS di wilayahnya juga turun Rp 250 perkilo. Selasa (21/6) malam turun lagi Rp 200, dari Rp 1.495 menjadi Rp 1.295 per kilogram. ‘’ Itu harga di pabrik. Kalau di RAM dan pengepul lebih rendah lagi. Kalau harga turun terus, bisa bisa di tingkat petani pecah dari Rp 1.000. Kalau ini yang terjadi ya bakal banyak yang lesu,’’ katanya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Tebo, menanggapi keluhan petani soal rendahnya harga TBS, Selasa (21/6) kemarin DPRD Tebo memanggil delapan pengelola PKS yang beroperasi di wilayah kabupaten Tebo. Rapat dengar pendapat (RDP) yang dilakukan di rungan Badan Anggaran (Banggar) DPRD Tebo itu bertujuan untuk mencari titik masalah, apa penyebab harga TBS di tingkat petani tidak sesuai dengan yang ditetapkan pemerintah.

Salah satu pengelola PKS, Amir sibutar-butar dari PT Tebo Plasma Inti Lestari (TPIL), mengatakan saat ini kapasitas tangki CPO perusahaannya sudah hampir penuh. Dengan kapasitas yang ada, PKS tempat dia bekerja hanya mampu menampung CPO untuk lima hari kerja ke depan. "Sifatnya fleksibel, jika kita bisa kirim CPO, maka jumlah daya tampung terus bertambah,"katanya.

Amir mengungkapkan, yang menjadi permasalahan saat ini adalah pihaknya tidak bisa mengirim CPO ke buyer (pembeli). Menurut dia, kontrak dengan buyer di Pelabuhan Talang Duku sudah berjalan. Namun untuk pengiriman selanjutnya tidak ada kejelasan. "Daya tampung di sana juga penuh," ujarnya.

Oleh sebab itu, lanjut Amir, dengan kondisi seperti saat ini PKS tidak bisa berspekulasi soal harga beli TBS. Selain harga CPO yang murah, storage tank juga nyaris penuh. Daya tampung TBS juga over kapasitas. ‘’ Kondisi inilah yang menyebabkan harga TBS jauh dibawah harga yang ditetapkan pemerintah,’’ jelasnya.

Usai pertemuan, Ketua DPRD Tebo Mazlan mengatakan dari 8 PKS yang ada di kabupaten Tebo, rata-rata storage tank nya over kapasitas. Mulai dari penyimpanan CPO, karnel, hingga loading TBS yang penuh. ‘’ Jadi sudah jelas, masalahnya bukan di pabriknya, tapi hilirisasinya yang bermasalah. "Kita akan sama-sama mencari solusi mengatasi permasalahan ini," katanya.

Menurut Mazlan, DPRD Tebo sudah menghimbau kepada PKS yang ada di wilayah Tebo untuk menambah daya kapasitas penyimpanan. Ini penting, karena jumlah produksi TBS dari perkebunan masyarakat juga harus diakomodir PKS. "Kita menghimbau PKS menambah kapasitas dan harus mengakomodir TBS plasma (petani)," tegasnya.

 Informasinya, saat ini harga sawit di Tebo berkisar antara Rp 1.450- Rp 1.600 per kilogram. Jika kapasitas storage tank CPO PKS penuh, harga tersebut kemungkinan akan turun lagi. ‘’ Pemerintah dalam hal ini, pak Gubernur Jambi harus turun tangan. Jangan sampai pabrik tutup. Mau dikemanakan buah sawit ini, kalau pabrik sudah tak mau beli. Bakal ribut se Jambi ini. Karena saat ini, sebagian besar masyarakat Jambi menggantingkan hidup dari hasil perkebunan kelapa sawit,’’ kata Arif,’’ petani sawit di Tebo. (ali/uri)






BERITA BERIKUTNYA
loading...