Pinjam PT Nai Adhipati Anom Ikut Lelang, Arahkan Kepala UKPBJ dan Tim Pokja Tetapkan Pemenang

Mael Atur Pemenang Tender

Jumat, 05 Agustus 2022 | 08:32:12 WIB

(Ist/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, JAMBI- Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tebo menyatakan Ismail Ibrahim alias Mael mengatur tender proyek peningkatan jalan Simpang Logpon- Simpang Tanjung, Tebo tahun 2019. Dia juga sebagai pihak yang mengerjakan proyek tersebut. Padahal perusahaannya bukan yang memenangkan tender pekerjaan itu.

Pernyataan jaksa ini tertuang dalam surat dakwaan tiga terdakwa yang dibacakan di hadapan majelis hakim pengadilan Tipikor Jambi yang diketuai Yandri Roni, dalam sidang perdana, Kamis (4/8) kemarin. Mael merupakan salah satu terdakwa perkara korupsi peningkatan jalan Simpang Logpon- Simpang Tanjung, Tebo tahun 2019.

Dua terdakwa lainnya, yakni Tetap Sinulingga, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) sekaligus Kuasa Pengguna Anggaran (KPA). Dia juga merupakan Kabid Bina Marga Dinas PUPR Provinsi Jambi. Kemudian Suarto; Direktur PT Nai Adhipati Anom.

Dalam dakwaannya,  JPU menyatakan adik ipar mantan Gubernur Jambi mengatur lelang proyek pekerjaan peningkatan Jalan Simpang Logpon – Simpang Tanjung sehingga dimenangkan oleh PT PT Nai Adhipati Anom.

Mael juga disebut sengaja meminjam perusahaan milik Suarto, PT Nai Adhipati Anom, untuk mengikuti lelang pekerjaan senilai Rp 7,265 miliar itu. Dia juga disebut sudah berkomunikasi dengan pihak panitia lelang, agar dia yang mendapatkan pekerjaan tersebut.

"Terdakwa Ismail Ibrahim bukan pemenang lelang, dengan sengaja menerima pengalihan seluruh pengalihan pekerjaan dari Suarto. Saksi Tetap Sinulingga selaku PPK dan sekaligus KPA, mengetahui bahwa pekerjaan tersebut telah dialihkan. Namun tidak menghentikan perbuatan Suarto dan Ismail Ibrahim," kata Wawan, JPU Kejari Tebo.

 Kemudian, pada pelaksanaannya, pekerjaan yang dikerjakan Ismail Ibrahim tidak sesuai spesifikasi teknis. Namun, pekerjaan tetap dibayarkan. Perbuatan para terdakwa dinilai sudah memperkaya diri sendiri.  "Yang dapat merugikan keuangan Negara atau perekonomian negara sebesar Rp 965.755.858,50," ujarnya.

Berdasarkan surat dakwaan, ternyata Mael bukan sekadar menerima pengalihan. Justru dia yang meminta agar perusahaan milik Suarto mengikuti tender. Atau Ismail Ibrahim meminjam perusahaan Suarto untuk mengikuti lelang.

Kemudian, dalam dakwaan JPU juga disebutkan Ismail Ibrahim pernah menghubungi Kepala Unit Kerja Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah (UKPBJ) Provinsi Jambi, atas nama Jafri. Jafri mendatangi Ismail Ibrahim bersama Agus Kurniawan, anggota Tim Pokja panitia lelang. 

"Terdakwa menyampaikan kepada Jafri dan Agus bahwa paket tersebut adalah milik terdakwa Ismail Ibrahim," kata JPU.

 Masih dalam dakwaan penuntut umum disebutkan, Mael kemudian mengarahkan Jafri dan Agus untuk menetapkan pemenang atas pelelangan, (dan) dimenangkan oleh perusahaan PT Nai Adhipati Anom.

Ismail Ibrahim merupakan pengusaha konstruksi yang ternama di Provinsi Jambi. Dia merupakan adik ipar mantan Gubernur Jambi, Facrori Umar. Dalam kasus ini, dia diduga melakukan korupsi bersama-sama dengan Tetap Sinulingga dan Suarto yang merugikan negara hingga Rp 965 juta lebih. 

Atas perbuatan itu, mereka disangkakan dengan Pasal 2 Ayat 1 Jo Pasal 18 ayat 1, 2 dan 3, UU Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001, Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, Jo Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.(Usd)






BERITA BERIKUTNYA
loading...