Struggle for Life, Santi, Melewati Jalan Berlumpur

Bertaruh Nyawa demi Pertaruhan Nyawa

Rabu, 25 Januari 2023 | 08:18:13 WIB

PERJUANGAN: Rombongan warga dan keluarga membawa Santi dengan tandu darurat melewati jalanan becek dan berlumpur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
PERJUANGAN: Rombongan warga dan keluarga membawa Santi dengan tandu darurat melewati jalanan becek dan berlumpur untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. (Zainur/Jambione.com)

JAMBIONE.COM, TEBO – Nyawa Santi, warga Dusun Semerantihan Talang Mamak Desa Suosuo, Kecamatan Sumay, Tebo, di ujung tanduk. Usai bertaruh nyawa melahirkan anak, ia harus kembali mempertaruhkan nyawa.

Ia harus ke fasilitas kesehatan –puskesmas—terdekat. Plasenta alias ariarinya ternyata tidak keluar. Akhirnya, dengan plasenta masih tertinggal di dalam kandungan, Santi harus dirujuk ke faskes terdekat.

Dan Senin (23/1/2023) Santi terpaksa meninggalkan anaknya yang baru dilahirkan untuk ke faskes. Anaknya sendiri berhasil lahir selamat secara normal.

Perjuangan hidup mati Santi “bagian kedua” baru dimulai. Jalan tidak bisa dilalui kendaraan bermotor.

Tandu darurat pun dibuat. Sehelai sarung digunakan untuk menandu Santi dengan bagian atasnya menggunakan sebatang kayu sebagai  pikulannya.

Tujuannya adalah Puskesmas Suosuo. Kepala Desa Dusun Semerantihan Talang Mamak Desa Suosuo Sahrudin ikut mendampingi Santi. “Tentu bersama saudara Santi. Ada sebelas kerabat yang ikut mengantar,” jelasnya.

Senin sore, ia dan 11 orang lainnya mulai membawa Santi dengan tandu daruratnya. Tak berapa lama, hujan deras turun. Terpaksa rombongan berhenti untuk berteduh.

Hujan baru berhenti sekitar pukul 21.00 WIB. Perjalanan masih panjang. Jalan becek dan licin sepanjang 12 km masih harus mereka lewati untuk menyelamatkan Santi.

Akhirnya selama 4 jam perjalanan kaki melewati jalan becek dan licin, Santi dan rombongan sampai di Puskesmas Suosuo. "Iya, ditandu dengan kain sarung selama 4 jam jalan kaki, ke Puskesmas Suosuo,” kata Sahrudin. 

Sampai di puskesmas, kondisi Santi memburuk. Pendarahan hebat dia alami karena masih ada plasenta di dalam kandungan dan medan berat perjalanan darat.

Pertaruhan nyawa Santi masih bersambung. Fasilitas Puskesmas Suosuo ternyata tidak mampu menanganinya. Santi pun harus dirujuk ke RSUD STS Tebo.

Untung saja jalan darat dari Puskesmas Suosuo bisa dilalui kendaraan bermotor. Santi pun dirujuk menggunakan mobil  ke RS STS Tebo.

Dan di Selasa (24/01/2023), Santi akhirnya sampai di RS STS Tebo. "Kini kami di rumah sakit Tebo kareno di puskesmas dak biso," ujar Sahrudin Selasa (24/1/2023). 

Perjalanan panjang dari dari Kilometer 33 Dusun Semerantihan, Santi menggunakan tandu darurat sampai di Kilometer 26 pada pukul 01.00 WIB dinihari. Terobati yang kini Sari dan anaknya selamat. Namun sang ibu harus mendapatkan perawatan.

Sementara itu, Direktur RSUD STS Tebo, dr. Oktavieni dikonfirmasi membenarkan hal tersebut. Saat ini pasien tengah dilakukan perawatan medis. 

"Kondisi pasien sudah dilakukan penanganan. Pengamblan plasenta yang tertinggal berhasil dilakukan tanpa operasi,” tuturnya. Ia menambahkan Santi kini dirawat di ruang kebidanan.

 Dokter Oktavieni mengatakan Santi sempat kekurangan darah. Dibutuhkan 2 kantong darah untuk bisa menyelamatkannya. “Alhamdulillah, kebutuhan darah bisa terpenuhi,” sambungnya.

Kini Santi telah stabil dan kondisinya berangsur membaik. (uri)






BERITA BERIKUTNYA
loading...