Maraknya Geng Motor Remaja, Apakah Karena Abainya Orangtua Terhadap Hak-hak Anak

Sabtu, 18 Maret 2023 | 11:11:53 WIB

()

Oleh: Tsamara Anjani Aufa

Dewasa ini, kita tidak bisa lagi abai terhadap dinamika kehidupan yang semakin bermacam-macam. Termasuk maraknya geng motor yang terjadi di jalanan. Yang lebih mirisnya lagi, para pelaku criminal geng motor ini didominasi oleh anak di bawah umur yang berstatus pelajar. Dengan sadisnya mereka melukai atau bahkan membunuh para korban. Dalih yang mereka katakan bahwa korban mereka kebanyakan adalah rival mereka, padahal pada faktanya korban kejahatan geng motor ini lebih banyak menimpa orang yang tidak berhubungan dengan para pelaku. Tidak pula mengambil harta benda korban, para pelaku ini hanya serta merta melukai atau membunuh korban lalu meninggalkan korban di lokasi kejadian dalam kondisi tidak berdaya.

 

 Layaknya raja jalanan mereka mengayunkan senjata tajam dengan beraninya di jalanan. Di tambah, kurangnya Tindakan tegas dari pihak yang berwenang mengakibatkan para criminal ini semakin menjadi-jadi dalam melancarkan aksinya. Sehingga, masyarakat kehilangan rasa aman untuk berkendara pada larut malam. Terkadang, masih ada orang-orang yang baru menyelesaikan pekerjaannya pada jam larut bahkan dini hari guna menyambung kehidupan keluarganya namun berakhir sia-sia di jalanan oleh ulah geng motor ini. Dikarenakan kita kehilangan rasa aman untuk berkendara di jalanan pada malam hari, secara tidak langsung menyiratkan bahwa hak-hak kita telah dilanggar, baik itu hak untuk mendapatkan rasa tenteram, aman, damai, Bahagia dan sejahtera lahir dan batin sebagaimana yang dimaksud di dalam pasal 9 ayat (2) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia.

 Menjamurnya geng motor ini tidak lepas dari kurangnya pengawasan dan pembinaan dari aparat yang berwenang. Aparat cenderung menunggu adanya kejadian atau laporan dari masyarakat terelbih dahulu baru bergerak untuk menindak lanjutinya, padahal setiap orang berhak untuk menuntut dan memperoleh perlakuan serta perlindungan yang sama sesuai dengan martabat kemanusiaannya di depan hukum. Namun melihat sikap aparat yang demikian, apakah terpenuhi hak hak masyarakat yang demikian padahal di dalam state responsibility, negara berkewajiban untuk menghormati, melindungi,serta memenuhi hak-hak setiap orang.

Beralih dari hal yang demikian, kita juga perlu untuk tidak melihat situasi dari satu sisi saja. Kita juga perlu bertanya, mengapa pemikiran anak dibawah umur bisa sekeji itu, apa penyebab mereka bisa berperilaku demikian. Mengapa kita tidak berpikir bahwa berlakunya mereka seperti demikian karena terabaikannya hak-hak masa kecil mereka sehingga mereka mencari kesenangan di luar. Santrock mengungkapkan bahwa ada beberapa alasan para remaja ini bergabung ke dalam geng motor. Bisa jadi karena ingin pembuktian atas jati diri seorang lelaki, sebatas mengisi waktu luang, atau karena kurangnya perhatian dari keluarga akibat ketidakharmonisan di dalam keluarga mereka. Dengan sibuknya orang tua, anak-anak remaja tersebut merasa bebas untuk melakukan apapun karena dianggapnya bahwa orang tua mereka sudah tidak peduli atas apa yang akan terjadi dengan mereka karena sudah berkutat dengan kegiatan masing-masing. Alpanya kehadiran orang tua dalam membimbing dan mengarahkan anak serta mendengar keluh kesah anak menjadikan mereka liar dan tak terkendali.

 

 Lantas dari sini kita juga bisa melihat bahwa Tindakan berbahaya mereka ini bisa jadi dikarenakan tidak terpenuhinya hak-hak mereka semasa kecil padahal sudah dijelaskan di dalam konvensi hak anak maupun di dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 bahwa anak pun memiliki haknya yang harus dihormati, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang sekitarnya. Salah satunya hak anak untuk mengemukakan pandangannya dan menerima dan menyampaikan informasi. Hak ini dapat dibatasi jika pandangan itu merugikan atau menyinggung sang anak atau orang lain sebagaimana yang dimaksud di dalam pasal 13 Konvensi Hak Anak Tahun 1989.

 

 Seharusnya peran orang tua hadir disini untuk mengarahkan dan membimbing anak dalam bersikap, memilah mana yang benar dan mana yang salah. Namun karena ketidakhadiran peran orang tua sehingga anak kemudian hilang arah dan akhirnya mengartikan hal yang demikian sebatas yang ia tahu dan yag ia mau. Bahkan di dalam pasal 19 Konvensi Hak Anak TAhun 1989 disebutkan bahwa tiap anak berhak mendapat pengasuhan yang layak, dilindungi dari kekerasan, penganiayaan, dan pengabaian. Lantas kita tidak bisa menutup mata bahwa perilaku mereka sedikit banyak karena implikasi dari alpanya peranan orang tua di dalam mengasuh, membimbing, dan mengarahkan anak mereka dalam bertindak tanduk dan membedakan mana hal yang baik dan mana hal yang buruk sehingga anak dapat berkembang menjadi anak yang menghargai orang lain, menghormati harkat dan martabat ornag lain, serta menghargai kehidupannya. 

(Penulis adalah Mahasiswi Semester 4 Fakultas Hukum Universitas Jambi)

 

 






BERITA BERIKUTNYA
loading...